Bangun Persahabatan Antarbangsa, Ibas Dorong Mahasiswa Jadi Diplomat Budaya

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu mengingatkan, diplomasi Indonesia berakar pada semangat kemandirian dan solidaritas dunia ketiga.

Diterbitkan 29 Oktober 2025, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ibas tekankan budaya dan pendidikan sebagai kekuatan lunak diplomasi global Indonesia.
  • Diplomasi Indonesia berprinsip "Bebas dan Aktif" untuk perdamaian dunia.
  • Filosofi "Sejuta Sahabat, Nol Musuh" SBY dorong kontribusi bangsa.

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menegaskan, pentingnya budaya dan pendidikan sebagai soft power untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

Hal itu disampaikan, saat mengisi acara bertajuk Dari Budaya ke Dunia: Membangun Jembatan Persahabatan Antarbangsa dalam acara International Relations Anniversary Festival (INTRAFEST) 2025 dalam rangka peringatan 25 tahun Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPN Veteran Jakarta, Rabu (29/10).

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu mengingatkan, diplomasi Indonesia berakar pada semangat kemandirian dan solidaritas dunia ketiga. Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung melahirkan Gerakan Non-Blok dan menegaskan prinsip “Bebas dan Aktif” sebagai wujud keberanian berpihak pada perdamaian.

"Prinsip ini bukan berarti netral, tapi berani berpihak pada perdamaian,” ujar Ibas seperti dikutip dari siaran pers, Kamis (30/10/2025).

Ibas menyoroti era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dikenal lewat filosofi diplomasi “A Million Friends and Zero Enemy”. Dia percaya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan sejati bangsa tidak lahir dari konfrontasi, melainkan dari kontribusi dan kepercayaan.

"Kita ingin punya sejuta sahambat, dan tidak satu pun musuh,” ucapnya mengutip pesan SBY

 

Pendidikan Fondasi Utama

Memasuki era global yang semakin kompleks, Ibas optimis, pendidikan menjadi fondasi utama diplomasi masa depan. Ia menyebut berbagai program pertukaran pelajar, beasiswa, dan riset internasional sebagai jembatan intelektual yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.

"Investasi terbesar bangsa adalah pada otak dan karakter generasinya,” tambah dia.

Selain pendidikan, Ibas menilai budaya juga memiliki peran penting dalam memperkuat identitas dan diplomasi bangsa. Sebab, budaya adalah bahasa universal yang menyatukan ketika politik memisahkan.

"Melalui batik, kuliner, musik, hingga film, Indonesia dapat memperkenalkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, toleransi, dan keberagaman kepada dunia, termasuk peran kreator digital sebagai 'diplomat baru' yang membawa nilai positif Indonesia ke ranah global," dia menutup.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6