Mensos: Sekolah Rakyat Strategi Besar Presiden Turunkan Kemiskinan di Bawah 5 Persen

Saifullah menambahkan, Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga terintegrasi dengan layanan bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga jaminan kesehatan bagi siswa dan keluarganya.

Diterbitkan 23 Oktober 2025, 14:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Sekolah Rakyat adalah strategi pemerintah untuk turunkan kemiskinan dan wujudkan keadilan sosial.
  • Program ini mengintegrasikan pendidikan formal, bansos, pemberdayaan, dan jaminan kesehatan.
  • Pemerintah menargetkan 200 Sekolah Rakyat per tahun dengan sistem asrama untuk kemandirian siswa.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus mendorong hadirnya Sekolah Rakyat sebagai bentuk nyata dari cita-cita Sumpah Pemuda, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai bagian dari strategi nasional untuk menurunkan angka kemiskinan secara signifikan di bawah lima persen. Program ini, kata dia, menjadi instrumen pemerataan pendidikan sekaligus pemberdayaan sosial.

“Ini bagian dari strategi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan angka kemiskinan di bawah lima persen. Sekolah Rakyat adalah bentuk keadilan sosial bagi keluarga yang belum terbawa dalam proses pembangunan,” ujar Saifullah di Jakarta, Kamis (23/10/2025).

Saifullah menambahkan, Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga terintegrasi dengan layanan bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga jaminan kesehatan bagi siswa dan keluarganya.

“Dengan konsep ini, pendidikan menjadi pintu masuk bagi perubahan sosial dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan,” jelasnya.

Program ini diharapkan mampu menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu di seluruh pelosok Indonesia, yang selama ini belum mendapatkan kesempatan belajar layak.

 

 

Bukan Sekedar Gerakan Pendidikan

Di tempat terpisah, Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI Robben Rico menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar gerakan pendidikan, tetapi merupakan manifestasi keberpihakan negara terhadap kelompok masyarakat yang nyaris tak tersentuh kesempatan belajar.

“Misi utamanya adalah memberikan kehormatan bagi warga yang kurang mampu, agar mereka bisa mengakses pendidikan, membangun mimpi, dan tumbuh dengan percaya diri,” kata Robben.

Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat dibangun dengan prinsip trilogi keberpihakan, yakni memuliakan yang kurang mampu, menjangkau yang belum terjangkau, dan memberdayakan anak-anak dari lapisan paling bawah.

“Ini cara negara memberikan harapan dan membalik yang selama ini dianggap tidak mungkin. Anak-anak yang dulu tak punya cita-cita kini bisa memiliki asa,” lanjutnya.

Target 200 Sekolah Rakyat per Tahun

Pemerintah menargetkan pembangunan 200 Sekolah Rakyat setiap tahun, sehingga dalam lima tahun ke depan setiap kabupaten/kota memiliki minimal satu sekolah. Program ini juga diarahkan menjadi model pendidikan yang menanamkan nilai kemandirian dan solidaritas sosial.

“Insyaallah, dengan Sekolah Rakyat, anak-anak kita bisa mulai melihat kembali cita-citanya,” ungkap Robben penuh optimisme.

 

Gibran Dukung Sistem Asrama Sekolah Rakyat

 

Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan dukungannya terhadap program tersebut. Ia menilai sistem pendidikan berasrama yang diterapkan di Sekolah Rakyat akan membuat siswa lebih disiplin dan mandiri.

“Jadi untuk program pendidikan, Pak Presiden punya program Sekolah Rakyat, ada asramanya. Anak-anaknya diberi makan tiga kali sehari di situ. Nanti mereka lebih mandiri, tidak ketergantungan dengan orang tua,” terang Gibran.

Dengan konsep terpadu antara pendidikan, pemberdayaan, dan pemenuhan kebutuhan dasar, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi langkah nyata menuju Indonesia yang lebih berkeadilan — sesuai semangat Sumpah Pemuda 1928.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6