Hari Bambu Sedunia Diperingati Tiap 18 September, Pemerintah Dinilai Masih Abai

Hari Bambu Sedunia atau World Bamboo Day pertama kali diproklamasikan pada Kongres Bambu Dunia ke-8 di Bangkok, Thailand, pada 18 September 2009. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran global terhadap bambu.

Diperbarui 20 September 2025, 14:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • KLHK kurang peduli Hari Bambu Sedunia 2025, kata pegiat Toto Izul Fatah.
  • Bambu penting bagi lingkungan dan sejarah Indonesia, bukan sekadar tanaman.
  • Indonesia tertinggal dari negara lain dalam perhatian terhadap bambu.

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Hari Bambu Sedunia pada 18 September 2025 dinilai kurang bermakna di Indonesia karena minimnya perhatian dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pegiat bambu, Toto Izul Fatah, menyayangkan tidak adanya respons khusus dari Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, terhadap momentum tersebut.

“Sejauh yang saya amati, hingga Jumat kemarin, tak ada perhatian dan respons spesial yang jelas dan tegas dari Pak Menteri Hanif Faisol terhadap Hari Bambu Dunia. Ini benar-benar ironis, karena bambu itu memiliki kaitan sangat erat dengan lingkungan hidup,” kata Toto di Jakarta, Sabtu (20/9/2025).

Toto menjelaskan, Hari Bambu Sedunia atau World Bamboo Day pertama kali diproklamasikan pada Kongres Bambu Dunia ke-8 di Bangkok, Thailand, pada 18 September 2009. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran global terhadap bambu.

Menurutnya, bambu bukan sekadar tanaman ramah lingkungan, tetapi juga memiliki fungsi penting bagi keberlangsungan ekosistem.

Selain penghasil oksigen, bambu juga mampu menyerap air, mencegah longsor, sekaligus memiliki nilai sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia.

“Bambu sebagai tanaman asli Indonesia. Dalam bahasa Inggris saja disebut bamboo. Itu artinya, bahwa bambu itu berasal dari Indonesia,” ungkap Toto.

 

Harus Lebih Pedul dan Diperhatikan

Ia menilai perhatian bangsa Indonesia terhadap bambu masih rendah, berbeda dengan negara lain seperti China, Jepang, Jerman, India, Thailand, dan Malaysia yang aktif memperingati Hari Bambu Sedunia.

Padahal, Toto menekankan, KLHK seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengampanyekan kesadaran lingkungan, termasuk pelestarian tanaman bambu.

"Menteri Lingkungan Hidup harusnya menjadi leading sector paling gencar mengampanyekan kesadaran lingkungan hidup. Termasuk, kesadaran untuk merawat aneka tanaman ramah lingkungan seperti bambu,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa kampanye kesadaran lingkungan justru lebih banyak digaungkan kementerian lain, seperti Kementerian Agama dengan program ekoteologi, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Perindustrian.

Selain itu, Toto menyebut Hashim Djojohadikusumo sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi lebih vokal terkait isu bambu. Hashim bahkan menggagas ide menjadikan Indonesia sebagai pusat pelatihan dan pelestarian bambu dunia, baik untuk kepentingan ekonomi maupun ekologi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6