Peluncuran Buku dan Jejak Pemikiran KH Ali Masykur Musa, Hasil Perenungan Panjang

Komisaris Independen PT PLN (Persero) Prof KH Ali Masykur Musa merayakan ulang tahunnya yang ke-63 dan meluncurkan sebuah buku 'Prinsip-prinsip Negara Indonesia: Syarah Konstitusi'.

Diperbarui 16 September 2025, 07:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Prof KH Ali Masykur Musa merayakan ulang tahunnya yang ke-63 dan meluncurkan sebuah buku 'Prinsip-prinsip Negara Indonesia: Syarah Konstitusi'.

Meski hujan mengguyur pada Jumat sore 12 September 2025, para tamu undangan tetap datang ke kediamannya di kawasan Condet, Jakarta Timur.

"Buku ini bukan sekadar lembaran teori, melainkan buah perenungan panjang yang sudah dimulai sejak masih duduk di kursi DPR RI lebih dari satu dekade lalu. Namun baru di tahun inilah karya itu hadir ke publik," ujar Prof KH Ali Masykur Musa, melalui keterangan tertulis, Senin (15/9/2025).

Ali yang kini menjabat sebagai Komisaris Independen PT PLN (Persero) menegaskan, buku ini lahir dari pergulatan panjang tentang relasi antara agama, negara, dan Pancasila.

"Negara ini tidak boleh rapuh. Ia harus dibangun di atas kalimatus sawa, titik temu yang mempertemukan dari berbagai pandangan, berbagai latar belakang agama, suku, etnik, pusat, daerah yang membingkai dalam negara Indonesia yang begitu besar. Dari sisi geografis maupun dari sisi populasi penduduk," ucap dia.

"Nah, geografis yang begitu besar, penduduk populasi yang begitu banyak, begitu juga kepentingan perbedaan yang begitu banyak, kalau enggak ada fondasi yang kuat, maka bangunan yang muncul dari negara Indonesia itu akan rapuh. Karena itu yang perlu dibangun persamaan yang mempertemukan seluruh keberagaman bangsa," kata dia.

"Karena itu, saya tulis buku ini untuk mempertegas bahwa Indonesia adalah negara Pancasila yang tidak sedikit pun bertentangan dengan Islam. Saya menulis buku ini sudah sejak lama, bahkan sejak di DPR. Tapi baru sekarang bisa saya hadirkan ke publik," sambung Kiai Ali.

 

Indonesia Miliki Prinsip-Prinsip Islam

Kiai Ali menegaskan, tidak boleh ada kata lain bahwa Indonesia itu tidak usah disebut negara Islam, karena sesungguhnya mempunyai prinsip-prinsip Islam.

"Maka dengan demikian, saya ingin katakan dengan buku ini, dari kajian teologis, kajian syariat Islam dan kajian historik bahwa Indonesia adalah negara yang tidak berbentangan sedikit pun dengan Islam," ucap dia.

"Karena itu, saya tulis prinsip-prinsip negara Indonesia, syarah konstitusi. Jadi saya menjelaskan dari prinsip-prinsip bernegara itu dari perspektif Islam," sambung Ali.

Menurut dia, buku ke-19 dalam perjalanan intelektualnya ini memang istimewa karena empat fondasi besar yang menjadi kerangka penulisan yaitu pentingnya musyawarah sebagai dasar bernegara, Pancasila sebagai norma fundamental yang tak boleh diganggu gugat, Pancasila sebagai wujud nilai-nilai Islam di Indonesia, serta gagasan bahwa Indonesia adalah 'Madinah kedua', tempat keberagaman hidup berdampingan dengan damai.

"Generasi boleh berubah, zaman boleh berganti. Tapi prinsip bernegara harus tetap kokoh di bawah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Itulah misi suci saya melalui buku ini," kata Kiai Ali.

Buku yang Menyentuh Banyak Kalangan

Suasana semakin hangat ketika para undangan mulai memberikan testimoni. Dari kalangan BUMN hingga santri, semua melihat buku ini sebagai karya besar dengan makna yang luas.

Salah satunya Direktur Retail dan Niaga PT PLN (Persero) Adi Priyanto yang turut hadir.

"Isinya runut, lengkap, mudah dipahami. Yang paling menarik, Prof. Ali menekankan Pasal 33 UUD 1945. Itu sejalan dengan amanat Presiden kita, Prabowo Subianto, bahwa BUMN hadir untuk kesejahteraan rakyat," kata Adi.

Ia juga menyampaikan tentang peran Kiai Ali di PLN, di mana saat ini menjabat sebagai komisaris independen di perusahaan listrik milik negara tersebut.

"Beliau bukan komisaris yang hanya duduk di belakang meja. Beliau turun ke lapangan, ke Papua, ke unit-unit terkecil PLN. Beliau memastikan listrik sampai ke rakyat, memberi masukan positif bagi direksi, agar PLN benar-benar melistriki pelosok negeri," terang Adi.

"Selamat ulang tahun, semoga beliau panjang umur, sehat selalu, terus menulis, terus produktif, dan bahagia," jelas dia.

Sementara itu, Direktur Distribusi PLN Arsyadany Ghana Akmalaputri melihat sisi spiritual dari buku ini.

"Bagi kami di PLN yang terbiasa berpikir teknokratis, karya ini membuka cara pandang baru. Beliau mengajarkan kami bekerja dengan kolbu, dengan keikhlasan, bukan hanya logika manajerial. Listrik bukan sekadar cahaya, tapi keberkahan," tutur Arsyadani.

"Pak Kiai adalah mursyid kami, guru kami. Saya pribadi selalu mengikuti pengajiannya, meskipun daring. Semoga beliau selalu dimuliakan Allah SWT," tutup dia.

 

Jadi Ruang Kebersamaan

Sementara itu, seorang jemaah Pasulukan Almas Kuriyah Euis Badriah Asikin menilai buku ini hadir di saat yang tepat.

"Indonesia sedang dalam ketidakpastian. Buku ini jenius, bukan hanya untuk kalangan intelektual, tapi harus sampai ke masyarakat bawah. Semoga rakyat kita makin cerdas," ucap Euis.

"Angka 63 ini semoga jadi angka keberkahan. Karya beliau sudah luar biasa, dan mudah-mudahan Indonesia makin sejahtera dengan doa dan teladan beliau," tutup dia.

Sementara, Mad Tohir dari Tangerang juga mendapat kesan mendalam.

"Saya baru kali ini membaca buku yang mengulas prinsip-prinsip negara dengan gamblang. Ini bisa jadi arah bagi kita untuk memahami kedaulatan bangsa. Semoga bermanfaat bagi umat dan negara," ucap Mad Tohir.

Hari itu, kediaman Kiai Ali bukan sekadar tempat launching buku, tapi juga menjadi ruang kebersamaan. Ada cahaya pengetahuan, ada doa yang tulus, ada rasa syukur yang membuncah.

Buku Prinsip-prinsip Negara Indonesia: Syarah Konstitusi seolah menjadi hadiah ulang tahun bagi dirinya sendiri dan sekaligus hadiah untuk bangsa. Sebuah karya yang berangkat dari keyakinan bahwa Indonesia akan tetap kokoh bila berdiri di atas fondasi Pancasila dan UUD 1945.

"Buku ini bukan untuk saya pribadi. Ini untuk generasi mendatang, agar mereka tetap punya jiwa nasionalisme yang kokoh meski hidup di zaman digital," ujar Kiai Ali menutup sambutannya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6