Tangis Ibu Delpedro Pecah dalam Pelukan Bivitri Susanti di Kantor Polisi

Air mata seorang ibu tak terbendung lagi di depan Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) Polda Metro Jaya, Rabu (10/9/2025). 

Diperbarui 10 September 2025, 14:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ibu Delpedro Marhaen menangis saat besuk putranya ditahan atas dugaan penghasutan.
  • Magda Antista menegaskan putranya membela rakyat, bukan koruptor atau maling.
  • Bivitri Susanti kritik penahanan aktivis sebagai pola pemerintah yang berulang.

Liputan6.com, Jakarta Air mata seorang ibu tumpah di depan Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) Polda Metro Jaya, Rabu (10/9/2025). Suasana berubah haru saat Magda Antista, ibu dari Direktur Lokataru Delpedro Marhaen, menangis. Tangannya memeluk erat tubuh Pakar Hukum Tata Negara Bivitri Susanti.

Dia ingin membesuk putranya yang ditahan polisi dalam kasus dugaan penghasutan demo berujung ricuh. Dengan suara terbata, Magda meluapkan isi hatinya dalam dekapan Bivitri. Air matanya menetes tak terbendung.

"Anak saya bukan maling, bukan koruptor. Dia cuma belain rakyat. Dia cuma mau ada perbaikan di negara ini," kata Magda dengan suara terputus-putus sambil menangis.

Bivitri yang mendengar hanya bisa mengelus punggung Magda. Tak melepaskan pelukan eratnya.

"Sabar, Bu sabar, pasti kita bantu," ucapnya.

Sambil sesekali terisak, Magda terus menyampaikan keluh-kesahnya. Di sisi lain, kakak Delpedro tampak membawa barang titipan adiknya.

"Kalau hari ini kita bawa makanan dan buku-buku. Kemarin alat mandi dan makanan. Itu saja permintaannya," katanya. 

 

 

Kritik Bivitri

Sementara itu, Bivitri menilai, penahanan aktivis kerap jadi pola yang diulang. Dia meminta, seharusnya pemerintah memberikan solusi atas kritik yang dilakukan para aktivis. "Ini memang playbooknya pemerintahan atau penyelenggara negara yang tidak mampu untuk memberikan solusi-solusi konkret untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi warganya," kata Bivitri.

Bivitri menyebut, praktik serupa pernah terjadi di banyak negara, dari Amerika Serikat, Nepal, Bangladesh, hingga kini menjalar ke Indonesia. Bivitri heran dengan tuduhan menghasut anak-anak SMA untuk melakukan demonstrasi.

"Menghasut anak-anak SMA itu menurut saya juga sebenarnya seperti melecehkan otonomi dari anak-anak, seakan-akan mereka nggak punya pikiran sendiri kayak orang robot gitu ya, yang bisa kita pakai remote control, eh jalan ke sini, jalan ke situ. Enggak,” terang Bivitri.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6