Komisi IV DPR Soroti Konversi Lahan Pertanian di Tengah Target Swasembada

Komisi IV DPR menilai, konversi lahan menjadi faktor krusial yang mengancam produksi beras nasional.

Diperbarui 04 September 2025, 20:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Alih fungsi lahan pertanian mengancam produksi beras dan ketahanan pangan nasional.
  • Menteri Pertanian membantah klaim 100 ribu hektare konversi, BPS sebut 15 ribu per tahun.
  • Luas lahan sawah dan areal panen terus menyusut, sementara produktivitas padi stagnan.

Liputan6.com, Jakarta - Persoalan alih fungsi lahan pertanian kembali mencuat dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Rabu (3/9/2025) di Jakarta. Anggota Komisi IV DPR RI, Rokhmin Dahuri, menegaskan bahwa konversi lahan menjadi faktor krusial yang mengancam produksi beras nasional.

"Jadi apapun kerja keras Pak Menteri, meningkatkan produktivitas, cetak sawah di Papua, kalau konversi lahan di Jawa itu tidak terkendalikan, atau tidak disetop susah,” ujar Rokhmin.

Namun, Menteri Pertanian Amran Sulaiman meluruskan klaim konversi 100 ribu hektare per tahun. Ia menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka yang jauh lebih kecil.

“Ini kami luruskan sedikit yang masalah konversi lahan 100 ribu hektare per tahun. Kami tidak tahu asal-usulnya, awal mulanya dari mana. BPS mengatakan 5 tahun terakhir itu 79 ribu lebih, dan ini 5 tahun. 79 ribu dibagi 5, sekitar 15 ribu hektare per tahun. Tetapi dari dulu dikatakan estimasi 100 ribu hektare per tahun,” kata Amran.

 

Ancaman Ketahanan Pangan

Perbedaan angka tidak mengubah kenyataan di lapangan, lahan sawah terus menyusut. Direktur Perlindungan dan Optimasi Lahan Kementan, Brigjen Pol Andi Herindra, mengungkapkan bahwa di Jawa Tengah luas Lahan Baku Sawah (LBS) anjlok dari 1.049.661 hektare pada 2019 menjadi 987.468 hektare pada 2024.

“Ini situasi yang sangat mengkhawatirkan. Jika dibiarkan, alih fungsi lahan ini akan mengancam ketahanan pangan nasional dan berdampak pada tidak terpenuhinya target swasembada yang kita bangun bersama,” tegas Andi dalam audiensi Stranas PK di Semarang, Selasa (5/8/2025).

Data BPS juga mencatat luas areal panen terus menurun: dari 10,66 juta hektare pada 2020 menjadi 10,41 juta hektare pada 2021. Meski sempat naik tipis pada 2022 menjadi 10,45 juta hektare, angka itu kembali turun menjadi 10,21 juta hektare pada 2023 dan 10,05 juta hektare pada 2024.

Produktivitas padi nasional stagnan. Setelah pada 2022 tercatat 5,24 ton per hektare, produktivitas hanya naik tipis menjadi 5,29 ton per hektare pada 2023 dan bertahan di angka yang sama pada 2024.

Dengan lahan sawah yang terus menyusut, stagnasi produktivitas semakin mempersempit ruang bagi ketahanan pangan nasional.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6