Liputan6.com, Jakarta - Pengamat politik dan hukum Universitas Nasional (Unas), Selamat Ginting, menilai Kejaksaan Agung (Kejagung) harus semakin berani dalam memberantas praktik korupsi di Indonesia. Menurutnya, keberanian itu kini mendapat dukungan penuh dari TNI yang siap memberi back up dalam agenda besar pemberantasan korupsi.
“Dengan di-back up TNI mestinya kejaksaan lebih berani melawan mafia-mafia hitam, koruptor-koruptor kakap,” ujar Ginting, Senin (1/9/2025).
Ginting menilai Presiden Prabowo Subianto merupakan harapan baru publik untuk pemberantasan korupsi. Oleh sebab itu, jika Kejagung dan aparat penegak hukum berani bersikap tegas, maka akan menjadi kekuatan dalam melawan pihak-pihak yang ingin mendelegitimasi pemerintahan.
Advertisement
“Ketika Kejagung maupun penegak hukum lainnya berani tegas memberantas korupsi, itu bisa jadi benteng pemerintahan Prabowo,” kata dia.
Namun, Ginting mengingatkan keberhasilan agenda bersih-bersih korupsi hanya bisa dicapai bila institusi penegak hukum juga terbebas dari praktik serupa.
"Untuk bisa bersih-bersih korupsi maka dibutuhkan penegak hukum yang bersih juga. Kejagung maupun Polri harus terlebih dahulu bersih-bersih di internalnya,” tegas dia.
Butuh Dukungan Publik
Menurutnya, jika Kejagung berani menindak koruptor besar, dampaknya akan mengguncang banyak pihak, termasuk oknum elite politik di masa lalu maupun saat ini yang pernah diuntungkan.
"Kalau Kejagung berani menyikat koruptor besar, banyak pihak yang kebakaran jenggot. Karena para koruptor ini memberi keuntungan ke sejumlah elite politik,” kata Ginting.
Ia pun menegaskan, publik harus mendukung langkah Kejagung agar berani menuntaskan kasus-kasus besar demi tegaknya keadilan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5128654/original/055644500_1739255992-Infografis_SQ_Prabowo_Perintahkan_Kapolri__Jaksa_Agung_hingga_KPK_Sikat_Koruptor.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332312/original/026531200_1787650496-cek_fakta_Abdul_muti_-_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5333221/original/001778100_1756612376-petani_milenial_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332053/original/033451400_1787629160-petani_milenial_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5329597/original/025964900_1756290240-1000832106.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3594220/original/032588200_1633508023-peristiwa-5-oktober-lahirnya-tentara-nasional-indonesia-begini-sejarahnya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/44632/original/tni-ilustrasi--130604c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329205/original/019964100_1787225694-WhatsApp_Image_2026-08-20_at_17.06.53.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173559/original/021886800_1742872977-cek_fakta_jemput.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325060/original/091596000_1786800140-Screenshot_2026-08-15_201728.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324996/original/013613300_1786783358-99eaac50-1f8e-488b-b116-b0f99775dcb3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324995/original/010944100_1786783358-b91fbc7a-09f3-4388-bfa2-104694cca2f6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324949/original/014533600_1786780594-34d1ca2a-c72d-43a1-9ebd-9179d45bfb3e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323911/original/042976100_1786680755-pid3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323653/original/005084700_1786629390-1001450.jpg)