Kebakaran Hutan Sulsel Capai 1.613 Hektare, Enrekang Terparah

Enrekang menjadi wilayah dengan area terdampak terbesar, mencapai lebih dari 1.000 hektare.

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 23:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan mencatat 112 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Total area yang terbakar mencapai 1.613,67 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Sulsel Amson Padolo mengatakan area terbakar terdiri atas 1.607,92 hektare hutan dan lahan serta 5,75 hektare perkebunan masyarakat.

"Dari rangkaian kejadian tersebut, total area yang terbakar mencapai 1.613,67 hektare yang terdiri atas 1.607,92 ha hutan dan lahan serta 5,75 ha perkebunan masyarakat," jelas Amson di Makassar, Selasa (25/8/2026).

Sebanyak 112 kejadian karhutla tersebut tersebar di 15 kabupaten/kota di Sulsel. Kabupaten Enrekang menjadi wilayah dengan luasan area terdampak terbesar, yakni 1.044,55 hektare dari 10 kejadian kebakaran.

Kabupaten Barru berada di urutan berikutnya dengan luas area terbakar sekitar 315 hektare dari lima kejadian. Sementara Kabupaten Tana Toraja mencatat luas area terbakar 125 hektare dari 11 kejadian.

Kota Parepare menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 25 kejadian dengan luas area terbakar mencapai 20,06 hektare. Adapun Kabupaten Pinrang mencatat 18 kejadian dengan luas 54,4 hektare hutan dan lahan serta tiga hektare perkebunan masyarakat.

 

Kebakaran Meningkat Saat Kemarau

Amson mengatakan intensitas karhutla meningkat ketika memasuki puncak musim kemarau, terutama pada Juli hingga Agustus 2026. Cuaca panas dan angin kencang membuat api lebih mudah menyebar di sejumlah wilayah.

Dampak karhutla juga dirasakan masyarakat. Di Kota Palopo, misalnya, tercatat 10 kejadian yang membakar 1,25 hektare kebun serta 3,5 hektare hutan dan lahan.

Kejadian tersebut berdampak terhadap 12 keluarga dan menyebabkan empat orang menjadi korban. Selain itu, sebanyak 39 unit usaha dan fasilitas mengalami kerusakan. Sebanyak 37 unit berada di Kabupaten Barru dan dua unit lainnya di Kabupaten Luwu Utara.

BPBD Sulsel mengingatkan masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka, termasuk membakar sampah maupun lahan. Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menjalar, terlebih ketika disertai angin kencang.

Amson menegaskan kewaspadaan bersama diperlukan untuk mencegah munculnya titik api baru. Menurut dia, risiko karhutla masih perlu diwaspadai selama musim kemarau berlangsung.

Selain berdampak terhadap lingkungan dan masyarakat, kejadian karhutla juga dapat berimplikasi hukum. BPBD menyatakan penanganan terhadap kejadian yang ditemukan telah dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan luas area terbakar yang telah mencapai lebih dari 1.600 hektare, BPBD Sulsel meminta masyarakat dan seluruh pihak terkait memperkuat langkah pencegahan, terutama di wilayah dengan vegetasi kering dan rawan kebakaran.