Liputan6.com, Jakarta - Seorang bocah berusia 3 tahun bernama Raya mengalami kisah pilu. Raya meninggal dunia setelah menjalani perawatan lantaran sakit yang tidak biasa, yaitu seluruh tubuhnya dipenuhi cacing, bahkan sampai ke otak.
Kondisi keluarga bocah malang itu memang tidak sempurna. Ibunda Raya merupakan Orang dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ. Sedangkan ayah Raya memiliki penyakit Tuberculosis atau TBC.
Raya sempat dirawat di RSUD R Syamsudin Sh (Bunut) dibawa oleh Rumah Teduh & Peaceful Land pada 16 Juli 2025. Namun, tim Rumah Teduh dihadapkan pada kendala besar. Raya tidak memiliki identitas.
Advertisement
Pihak rumah sakit memberikan kesempatan 3x24 jam untuk mengurus BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) agar biaya perawatan bisa ditanggung pemerintah. Sampai tenggat waktu berakhir, Raya tetap tak mendapatkan bantuan lantaran ribetntnya proses birokrasi.
Hingga pada 22 Juli 2025, Raya meninggal dunia lantaran kondisinya yang terlalu kritis meski sudah berada dalam Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
Sejumlah pihak pun angkat bicara terkait kisah nestapa Raya. Salah satunya Ketua Tim Penanganan Keluhan RSUD R Syamsudin SH, Dokter Irfanugraha Triputra.
Dia mengungkapkan kondisi pencernaan Raya. Menurutnya, infeksi cacing gelang (ascaris) yang dialami Raya sudah sangat parah. Bahkan cacing sudah menyebar ke organ vital, seperti paru-paru dan otak.
Sementara, cacing yang keluar dari hidung menandakan bahwa cacing sudah menjalar hingga saluran pernapasan atau saluran pencernaan bagian atas.
"Ini cenderung terlambat. Cacingnya sudah banyak sekali di dalam pencernaan dan sudah berukuran besar-besar," kata Irfanugraha kepada wartawan, Rabu (20/8/2025).
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun menyimpan rasa geram karena banyak yang abai akan kondisi Raya di balik rasa dukanya.
Berikut sederet respons sejumlah pihak terkait Raya meninggal dunia lantaran sakit yang tidak biasa dihimpun Tim News Liputan6.com:
Â
1. Kata Kepala Desa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5320814/original/054756900_1755644677-82940.jpg)
Raya, hidup bocah tiga tahun berakhir tragis. Badan dan otaknya penuh cacing. Tak cuma miskin, Raya juga tak ada yang mengurus.
Penderitaan Raya bertambah. Kedua orang tuanya mengalami gangguan jiwa (ODGJ). Sehingga Raya harus tinggal sehari-hari sendiri. Pemerintah desa mengaku sudah maksimal dalam memberikan perhatian kepada Raya.
"Anak itu sering main di kolong sama ayam karena rumahnya panggung. Anaknya untuk jalan juga agak lambat, terus dia punya sakit demam. Sudah diperiksa ke klinik terdekat, ternyata dia punya penyakit paru," Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi.
Wardi menjelaskan, ada bantuan dari pemerintah desa. Baik dari Dinkes maupun Dana Desa. Dalam proses pengawalan pemeriksaan kesehatan, berat badan Raya sempat naik. Pemerintah desa juga telah memberikan rutin makanan tambahan setiap hari.
Wardi menambahkan, bahkan rumah tempat tinggal Raya sempat hancur. Lalu dibangun kembali oleh warga dan pemerintah desa.
Ironisnya, karena faktor ODGJ, alas rumah panggung mereka dirusak menjadi bahan bakar untuk memasak orang tua Raya. Menurut Wardi, keluarga Raya tidak langsung membawa bocah itu ke rumah sakit saat kondisi memburuk.
"Mungkin mereka tidak menyangka kalau Raya sudah dalam keadaan sekarang itu," katanya.
Ia baru mengetahui kondisi parah Raya setelah berita viral dan langsung berkoordinasi dengan Rumah Teduh untuk pemakaman.
Â
Advertisement
2. Dokter Sebut Sudah Terlambat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5320738/original/016343900_1755608262-Untitled.jpg)
Raya, anak perempuan berusia tiga tahun, Raya, asal Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia karena infeksi cacing gelang.
Ketua Tim Penanganan Keluhan RSUD R Syamsudin SH, Dokter Irfan Nugraha Triputra mengungkapkan kondisi pencernaan Raya. Menurutnya, infeksi cacing gelang (ascaris) yang dialami Raya sudah sangat parah. Bahkan cacing sudah menyebar ke organ vital, seperti paru-paru dan otak.
Sementara itu, cacing yang keluar dari hidung menandakan bahwa cacing sudah menjalar hingga saluran pernapasan atau saluran pencernaan bagian atas.
"Ini cenderung terlambat. Cacingnya sudah banyak sekali di dalam pencernaan dan sudah berukuran besar-besar," kata Irfanugraha kepada wartawan, Rabu (20/8/2025).
Kondisi ini membuat penanganan medis menjadi sangat sulit. Raya mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB, tepat sembilan hari masa perawatan.
Irfanugraha menjelaskan, Raya tiba di IGD RSUD R Syamsudin SH pada 13 Juli 2025 sekitar pukul 20.00 WIB dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri. Dia dibawa menggunakan ambulans oleh keluarga dan tim relawan Rumah Teduh.
"Menurut pihak keluarga, sehari sebelumnya Raya hanya mengalami gejala demam, batuk, dan pilek," ujar Irfa Nugraha.
Orang tua Raya juga sedang menjalani pengobatan TBC, sehingga dokter awalnya menduga ketidaksadaran Raya disebabkan oleh meningitis TB, sebuah komplikasi dari TBC paru.
Namun, dugaan awal berubah saat dokter melihat cacing keluar dari hidung Raya selama observasi di IGD.
"Kemungkinan tidak sadarnya ada dua, antara faktor TBC atau karena infeksi cacing," jelas Irfan.
Selain tidak sadarkan diri, kondisi vital Raya juga tidak stabil, terutama tekanan darahnya. Setelah penanganan awal untuk menstabilkan kondisi, Raya segera dirawat di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) setelah dikonsultasikan dengan spesialis anak.
Â
3. Amarah Dedi Mulyadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5320829/original/090350900_1755649530-61a6ff7f-850a-4381-b3b5-2686ab694cd8.jpg)
Raya, seorang bocah berusia tiga tahun di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia karena infeksi cacing gelang.
Kabar ini pun terdengar oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dibalik rasa dukanya, dia menyimpan rasa geram karena banyak yang abai akan kondisi Raya.
"Saya menyampaikan prihatin dan rasa kecewa yang mendalam, serta permohonan maaf atas meninggalnya seorang balita berusia 3 tahun, dan dalam tubuhnya dipenuhi cacing," kata dia seperti dikutip dalam akun Instagramnya @dedimulyadi71, Rabu (20/8/2025).
Dedi Mulyadi mengaku sudah berkomunikasi dengan dokter yang menangani jenazah Raya, yang disebutnya balita tersebut meninggal dunia karena cacingan.
"Ibunya mengalami gangguan kejiwaan atau ODGJ, dia sering dirawat oleh neneknya, dan bapaknya mengalami penyakit paru-paru,TBC. Dan dia sejak balita terbiasa di kolong rumah itu bersatu dengan ayam dan kotoran. Sehingga dimungkinkan dia seringkali, tangannya tidak pernah dicuci, mulutnya kemasukan cacingan, sehingga menimbulkan cacingan yang akut," ungkap dia.
Melihat kondisi keluarga dan korban inilah yang membuat Politikus Gerindra itu geram, khususnya ke aparatur desa Cianaga tersebut.
Dedi Mulyadi pun mempertimbangkan akan memberikan sanksi baik itu ke tim penggerak PKK, Kepala Desa, maupun Bidan Desa akibat peristiwa tersebut.
"Untuk itu perhatian untuk semua dimungkinkan saya aan memberikan sanksi bagi desa tersebut karena fungsi-fungsi, PKK-nya tidak jalan, fungsi Posyandunya tidak berjalan, dan fungsi kebidanannya tidak berjalan," ungkap dia.
"sanksi-sanksi akan kami berikan ke siapapun dan daerah manapun yang terbukti tidak memberikan perhatian ke masyarakat. dan selanjutnya kami melakukan langkah-langkah penanganan kepada keluarga tersebut," sambung Dedi.
Dedi Mulyadi pun juga menegaskan, sudah mengirimkan tim untuk merawat keluarga Raya. Sekaligus, menurut dia, ini menjadi pelajaran bagi aparatur desa untuk bisa peduli dengan masyarakat di lingkungannya.
"Kami sudah mengirimkan tim untuk mengangkut keluarga tersebut agar keluarganya dirawat karena menderita penyakit TBC. Ini perhatian bagi kita semua, semua aparat pemerintahan untuk senantiasa, kroscek terhadap apa yang terjadi dalam lingkungan. Jangan abai, jangan ribut Ketika peristiwa terjadi," pungkasnya.
Â
Advertisement
4. BPJS Kesehatan Sampaikan Duka
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5310372/original/080400800_1754711323-1001050960.jpg)
Seorang balita asal Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia akibat penyakit cacingan setelah sempat dirawat selama sembilan hari di rumah sakit.
Bocah berumur tiga tahun yang akrab disapa Raya itu tak mampu bertahan, meski berbagai upaya pengobatan telah dilakukan.
Selama masa perawatan, Rumah Teduh Sahabat Iin menjadi pihak yang mengurus seluruh kebutuhan medis Raya. Namun, pengobatan terkendala biaya karena balita tersebut tidak memiliki kartu identitas, sehingga otomatis tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Akibatnya, pihak Rumah Teduh harus menanggung biaya pengobatan hingga Rp23 juta, seperti terungkap dalam video yang diunggah akun Instagram @rumah_teduh_sahabat_iin. Menanggapi kasus ini, BPJS Kesehatan menyampaikan belasungkawa.
"Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil merupakan syarat utama pendaftaran peserta JKN," kata Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, dalam keterangan resmi yang diterima Liputan6.com.
Menurut Rizzky, NIK melekat pada setiap penduduk Indonesia sejak lahir hingga meninggal dunia.
"Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengurus dan memiliki NIK," ujarnya.
Dia, menambahkan, bagi warga kurang mampu, kepesertaan dapat diusulkan untuk ditanggung pemerintah, baik melalui skema PBI (Penerima Bantuan Iuran) dari pemerintah pusat maupun PBPU Pemda dari pemerintah daerah.
"Kami juga mengimbau masyarakat untuk memastikan status kepesertaan JKN aktif, supaya tidak ada kendala saat mengakses layanan kesehatan," tambah Rizky.
Kisah tragis Raya turut mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. "Saya menyampaikan rasa prihatin dan kecewa yang sangat dalam, serta permohonan maaf atas meninggalnya balita berusia 3 tahun dengan tubuh dipenuhi cacing," kata Dedi melalui akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71.
Dedi menyebut sudah berbicara dengan dokter yang menangani Raya. Menurut keterangan medis, penyakit yang diderita balita itu adalah cacingan parah. Kondisi hidupnya juga jauh dari layak. Ibunya mengalami gangguan jiwa (ODGJ) dan ayahnya mengidap penyakit tuberkulosis (TBC).
"Sejak kecil dia terbiasa tinggal di kolong rumah, dekat kotoran dan ayam. Kemungkinan tangan sering kotor lalu masuk ke mulut, sehingga menyebabkan cacingan akut," ujar Dedi.
Â
5. Kemenkes Buka Suara
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) buka suara soal kasus bocah tiga tahun asal Sukabumi, Jawa Barat bernama Raya yang meninggal karena cacing bersarang di tubuh hingga otaknya. Bocah itu sempat dirawat di RSUD R Syamsudin Sh (Bunut).
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan, pihaknya sedang menelusuri lebih jauh dugaan kelalaian di rumah sakit yang sempat menangani korban.
"Kami perlu tahu dulu situasi dan masalah di RS dan pasien," kata Aji kepada Liputan6.com, Rabu (20/8/2025).
Aji menegaskan, rumah sakit seharusnya tak boleh menunda pelayanan medis hanya karena persoalan administratif. Jika pasien dalam keadaan darurat, pertolongan harus segera diberikan.
"Pelayanan harus tetap berjalan sambil administrasi dilengkapi," katanya.
Dia juga menyoroti peran penting pemerintah daerah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam memastikan layanan kesehatan di daerah berjalan optimal.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4167557/original/057020000_1663838061-Infografis_Peranan_Penting_Orang_Tua_dalam_Pengasuhan_Anak__Parenting__Source_Kementerian_Sosial_RI.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5321507/original/064688700_1755674657-04b3c12a-2b88-4950-b807-1da5f0f2303f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1373282/original/024149200_1476385389-Sukabumi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072362/original/069449700_1783026157-000_B94788B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411138/original/071923000_1782295017-leao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260345/original/097053600_1781587471-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8986675/original/053314100_1782988380-381034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782427/original/052395800_1782885736-379560.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776169/original/032497900_1782861578-378670.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/679612/original/ilustrasi-sidang-cerai2-140520.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8766963/original/087230900_1782831013-377479.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8766962/original/080522500_1782831013-377482.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2976158/original/070337400_1574578011-Ilustrasi_Aparatur_Sipil_Negara.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4958949/original/054567300_1727919991-IMG-20241002-WA0132.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8700879/original/014021900_1782772243-377329.jpg)