Apa yang Terjadi Setelah Bung Karno Bacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?

Siaran radio menjadi alat penyebaran terpenting menyampaikan kabar Indonesia merdeka. Untuk menghindari sensor, sejumlah stasiun radio menyiarkan berita dalam bahasa daerah, misalnya Radio Surabaya yang menggunakan bahasa Madura.

Diperbarui 17 Agustus 2025, 22:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Proklamasi 17 Agustus 1945 menandai lahirnya RI, diikuti pengibaran bendera.
  • Berita kemerdekaan disebar masif via radio, pamflet, dan peran aktif pemuda.
  • PPKI membentuk pemerintahan dan mengesahkan UUD 1945, didukung rakyat dan dunia.
80 tahun lalu pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Lambert Giebels, penulis biografi Bung Karno menyebut proklamasi RI sebagai salah satu paling sederhana pernah ada di dunia. Liputan6.com menurunkan serial tulisan tentang peristiwa unik dan menarik sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI. Tulisan tersebut kami kumpulkan dalam TAG Mozaik Proklamasi. Selamat menikmati.

Liputan6.com, Jakarta - Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945 menjadi tonggak lahirnya Republik Indonesia. Namun perjuangan bangsa tidak berhenti pada hari itu.

Sesaat setelah teks proklamasi dibacakan, Bendera Merah Putih dikibarkan oleh Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan SK Trimukti, diiringi lagu Indonesia Raya. Berita kemerdekaan kemudian disebarkan melalui surat kabar, pamflet, radio, telegram, hingga dari mulut ke mulut.

Siaran radio menjadi media penting. Radio Domei, kantor berita resmi Jepang saat itu, memancarkan berita proklamasi lewat operator radio F. Wuz. Meski pihak Jepang berusaha menghentikan siaran, kabar kemerdekaan tetap tersebar luas.

Untuk menghindari sensor, sejumlah stasiun radio menyiarkan berita dalam bahasa daerah, misalnya Radio Surabaya yang menggunakan bahasa Madura.

Para pemuda turut ambil peran besar dalam menyebarkan berita kemerdekaan. Mereka menggandakan teks proklamasi, menulis grafiti di dinding, hingga menyebarkan naskah berbahasa Inggris agar dunia internasional mengetahui lahirnya Indonesia.

Sehari setelah proklamasi, 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bergerak cepat menggelar rapat penting. Dalam sidang tersebut, Soekarno ditetapkan sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dengan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden.

Pada saat yang sama, UUD 1945 disahkan sebagai konstitusi negara.

 

Dukungan dari Banyak Daerah dan Luar Negeri

Kabar kemerdekaan disambut dengan sukacita oleh rakyat. Para pemuda segera mengambil alih senjata serta fasilitas strategis dari tangan Jepang. Di Jakarta, rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945 menunjukkan kekompakan rakyat mendukung kemerdekaan, meski berlangsung di bawah pengawasan ketat tentara Jepang.

Dukungan juga datang dari Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama Paku Alam VIII secara resmi menyatakan berdiri di belakang Republik Indonesia pada 5 September 1945. Keputusan ini menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu pusat penting perjuangan kemerdekaan.

Simpati Internasional

Berita kemerdekaan Indonesia tak hanya bergema di dalam negeri, tetapi juga sampai ke luar negeri. Di Mesir, kabar ini terdengar lewat radio pada 18 Agustus 1945 dan disambut hangat oleh masyarakat setempat.

Di Australia, para pelaut dan buruh pelabuhan asal Indonesia melakukan aksi mogok, menolak membantu kapal-kapal Belanda yang hendak kembali menjajah Tanah Air. Aksi tersebut mendapat dukungan penuh dari buruh Australia, menandakan simpati internasional terhadap perjuangan Indonesia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6