Cerita Sumarni, 20 Tahun Menggantungkan Hidup dari TPA Cipayung Depok

Sumarni, perempuan yang sudah memasuki usia setengah abad berusaha mengais sampah bermodalkan karung dan pengait besi di TPA Cipayung Depok.

Diperbarui 29 Juli 2025, 13:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Sumarni memulung di TPA Cipayung demi penuhi kebutuhan hidup.
  • Penghasilan Rp20 ribu/hari dari barang bekas dijual ke pengepul langganan.
  • Pasrah jika TPA Cipayung ditutup, kini andalkan anak untuk biaya hidup.

Liputan6.com, Jakarta - Sampah yang menggunung dan sesekali mengeluarkan bau tidak sedap, bukan menjadi persoalan bagi Sumarni untuk mendapatkan pundi uang dari TPA Cipayung, Depok. Mesin eskavator yang sedang bekerja mengais sampah dari bagian bawah menuju atas, dikesampingkannya Sumarni demi kehidupannya.

Sumarni, perempuan yang sudah memasuki usia setengah abad berusaha mengais sampah bermodalkan karung dan pengait besi. Selepas melakukan pekerjaan rumah, Sumarni mendatangi TPA Cipayung berada tidak jauh dari kontrakannya yang menjadi tempat tinggal bersama anaknya.

“Saya hampir 20 tahun mencari sampah yang bisa dijual, sampai suami udah gak ada,” ujar Sumarni saat di temui di TPA Cipayung, Depok, Senin (29/7/2025).

Dahulunya Sumarni mengenal TPA Cipayung sebagai lahan mencari rezeki bersama suaminya. Kini, Sumarni harus mencari sampah sendiri lantaran suaminya sudah meninggal beberapa waktu lalu.

“Ya karena butuh ya, kita kerja apa adanya, sekalipun mencari sampah,” ucap Sumarni sambil sesekali mencari sampah yang bisa di jual.

Teriknya matahari dan bau kurang sedang bukan menjadi rintangan Sumarni mencari uang demi sesuap nasi. Bahkan, mencari sampah di tengah gunungan sampah dan alat eskavator yang dapat mengancam keselamatan, telah dikesampingkan Sumarni.

“Kalau selesai cari sampah kadang ga nentu, saya cari sampah sedapatnya saja, karena udah ga kuat kalau bawa berat,” terang Sumarni.

 

Sehari dapat Rp20 Ribu

Setiap harinya Sumarni mencari barang bekas seperti kardus hingga besi yang dapat dijual dari tumpukan sampah TPA Cipayung. Nantinya barang hasil pemungutannya dijual seharga Rp2 ribu per kilogram kepada pengepul yang sudah dikenalnya sejak lama.

“Nanti barang yang saya dapat akan ditimbang, sehari biasanya dapat 20 ribu,” ungkap Sumarni.

Uang yang didapat Sumarni dari hasil memulung sampah, akan digunakan untuk memenuhi kehidupan hingga membayar listrik. Perempuan yang berasal dari wilayah Jawa Tengah, dulunya bersama suami mampu menyekolahkan anaknya hingga sekolah menengah kejuruan.

“Bersyukur anak saya sudah selesai sekolah sampai SMK, sekarang sudah menikah dan kerja, saya tinggal sama anak saya yang sudah kerja,” kata Sumarni sambil mengambil kardus yang dimasukkannya ke dalam karung.

Kini, usianya yang sudah tidak terbilang muda, tidak terlalu memforsir tenaganya untuk mendapatkan barang bekas. Saat Sumarni sudah merasa lelah, Sumarni akan kembali pulang dan menjual barang bekas yang didapatnya.

“Anak kan udah pada gede (dewasa), paling bantu untuk beli gas sama token listrik,” tutur Sumarni.

 

Pasrah TPA Cipayung Depok Akan Ditutup

Saat disinggung rencana TPA Cipayung Depok akan ditutup karena sudah overload, Sumarni hanya dapat pasrah. Sumarni akan melihat terlebih dahulu apakah kedepannya dapat mencari barang bekas di tumpukan sampah atau tidak.

“Saya mah ya ikutan aja, ada orang nyari ya nyari, kalau nggak ya udahlah, kalau mau ditutup mah itu tinggal terserah, gitu aja,” pungkas Sumarni sambil mengelap keringat di dahinya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6