Sekolah Rakyat dan SLB Berdampingan di Bandung, Bentuk Lingkungan Pendidikan Inklusif

Meski gedung SLB berada di lahan milik Sentra Wiyata Guna yang dikelola Kemensos, aktivitas belajar siswa SLB tetap berjalan seperti biasa tanpa hambatan

Diperbarui 17 Juli 2025, 09:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • SRMP 9 Bandung beroperasi di Sentra Wiyata Guna tanpa ganggu SLBN A.
  • Kemensos pastikan SRMP tak ganggu SLB, renovasi gedung lebih nyaman.
  • SRMP tekankan kemandirian, karakter, nilai kebersamaan bagi siswa.

Liputan6.com, Jakarta - Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Kota Bandung resmi beroperasi di kawasan Sentra Wiyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung. Sekolah tersebut berdiri berdampingan dengan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) A Pajajaran, tanpa mengganggu aktivitas pembelajaran siswa berkebutuhan khusus.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, Supomo, menegaskan bahwa kehadiran SRMP tidak mempengaruhi kenyamanan kegiatan belajar-mengajar di SLB.

“Gedung Sekolah Rakyat menggunakan bangunan terpisah. Bahkan saat ini lebih nyaman karena sudah selesai renovasi,” ujar Supomo, Rabu (16/7/2025).

Supomo juga memastikan bahwa meski gedung SLB berada di lahan milik Sentra Wiyata Guna yang dikelola Kemensos, aktivitas belajar siswa SLB tetap berjalan seperti biasa tanpa hambatan.

SRMP 9 Kota Bandung memulai kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin, 14 Juli 2025. Kepala Sekolah SRMP 9, Setia Nugraha, menyampaikan bahwa sekolah menerima 50 peserta didik pada tahun ajaran ini, terdiri atas 30 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Para siswa tinggal di asrama dan mengikuti program pendidikan yang menekankan pada kemandirian dan karakter.

“Anak-anak kami latih untuk hidup mandiri. Di asrama, mereka dibiasakan bangun pagi, ibadah di masjid, olahraga, dan mengikuti pembelajaran seperti SMP pada umumnya. Bedanya, di Sekolah Rakyat ini ada tambahan pendidikan karakter, kebangsaan, penguasaan bahasa, dan keterampilan digital,” jelas Setia.

Ia menambahkan, siswa juga dikenalkan nilai-nilai kebersamaan melalui kehidupan berasrama. “Tujuannya membentuk pribadi unggul, berkarakter, dan siap bersaing,” katanya.

 

Ciptakan Sinergi Positif

Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala SLBN A Pajajaran, Rian Ahmad Gumilar, menyambut baik kehadiran Sekolah Rakyat di lingkungan yang sama.

Ia menegaskan tidak ada gangguan pembelajaran di SLB, yang saat ini memiliki 114 siswa, termasuk 26 peserta didik baru dari tingkat TK, SDLB, dan SMPLB.

Rian juga berharap kehadiran dua lembaga pendidikan di satu kawasan dapat memupuk nilai inklusivitas antar pelajar.

"Mudah-mudahan ke depan tercipta lingkungan inklusif. Anak-anak Sekolah Rakyat bisa mengenal dan memahami teman-teman berkebutuhan khusus, dan kami pun bisa beradaptasi dengan keberadaan mereka,” ungkap Rian.

Kehadiran SRMP dan SLB dalam satu kawasan pendidikan diharapkan dapat menciptakan sinergi positif, memperkuat semangat pendidikan inklusif, serta membentuk karakter generasi muda yang toleran dan berdaya saing.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6