Tinggalkan Kenyamanan Demi Anak - Anak Sekolah Rakyat

Menurut Sulaiman, mendampingi anak-anak di Sekolah Rakyat tidak cukup hanya dengan menerapkan aturan. Dibutuhkan kesabaran, hati, dan keikhlasan.

Diterbitkan 29 Agustus 2026, 21:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - "Pak Sule ke mana?"

Pertanyaan sederhana itu kerap terdengar ketika Sulaiman Sulang (42), yang akrab disapa Sule, tidak terlihat di lingkungan Sekolah Rakyat Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Bagi Sulaiman, pertanyaan tersebut justru menjadi salah satu alasan dirinya betah menjalani tugas sebagai wali asuh. Ia merasa kehadirannya dibutuhkan oleh anak-anak yang didampinginya.

"Jadi kalau saya dua hari libur atau ada dinas ke mana, itu anak-anak mencari, 'Pak Sule ke mana? Kok tidak kelihatan?'" kata Sulaiman saat ditemui beberapa waktu lalu di Malang, Jawa Timur. Seperti dilansir Antara, Sabtu (29/8/2026).

Selama menjadi wali asuh di Sekolah Rakyat, Sulaiman menemukan kehangatan yang berbeda dibandingkan 15 tahun pengabdiannya sebagai staf tata usaha di salah satu sekolah menengah kejuruan negeri.

Sule tidak pernah menyangka keputusan mengabdikan diri di Sekolah Rakyat akan memberinya pengalaman baru mendampingi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Pada bulan pertama bertugas sebagai wali asuh, Sulaiman lebih banyak mengamati dan mempelajari cara mendampingi siswa dengan latar belakang beragam. Para siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang masuk kategori paling tidak mampu, yakni Desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Menurut Sulaiman, mendampingi anak-anak di Sekolah Rakyat tidak cukup hanya dengan menerapkan aturan. Dibutuhkan kesabaran, hati, dan keikhlasan.

"Sekolah Rakyat itu sungguh luar biasa. Karena di situ, kita mengajari anak-anak yang memang tidak mampu. Anak-anak yang sudah tidak ada orang tuanya, anak-anak yang tinggal sama mbah-nya saja, anak-anak yang hidupnya sebatang kara," tuturnya.

 

Dari Keluarga Petani

Kedekatan Sulaiman dengan anak-anak Sekolah Rakyat tidak terlepas dari pengalaman hidupnya. Dia lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana di Flores, Nusa Tenggara Timur. Kedua orang tuanya bekerja sebagai petani.

Pengalaman hidup dalam keterbatasan membuat Sulaiman memahami bahwa pendidikan bukan sesuatu yang mudah diraih. Ia pun ingin anak-anak yang kini didampinginya memiliki kesempatan lebih besar untuk menggapai cita-cita.

"Saya lahir dari keluarga yang enggak mampu, dan bisa sukses. Mereka juga harus lebih sukses daripada saya," ujarnya.

Sulaiman kemudian merantau ke Malang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Perjalanannya selama kuliah tidak mudah.

Dia tinggal menumpang di rumah bibinya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sulaiman juga bekerja membantu salah seorang dosen.

Setiap sore, dia mencuci piring, menyiram tanaman, hingga menyapu halaman.

"Tapi saya enggak full tinggal di bibi saya. Saya sore itu pasti ke rumahnya dosen. Di situ saya membantu cuci piring, siram tanaman setiap sore hari, menyapu halaman. Itu hanya untuk bisa buat makan. Itu saya lakukan hampir empat tahun," ungkapnya.

Selama tinggal di rumah dosen tersebut, Sulaiman tidak hanya bekerja. Dia juga mendapat kesempatan untuk memperluas wawasan dengan membaca buku dan menulis.

Kebiasaan itu kemudian mengantarkannya menjadi seorang penulis buku. Setelah menyelesaikan kuliah, Sulaiman aktif menulis dan telah menghasilkan 44 judul buku yang seluruhnya diterbitkan dengan ISBN.

Pada 2025, dia bahkan mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai penulis buku dengan jumlah karya terbanyak di Jawa Timur.

"Ketika saya lulus dari kuliah, saya bekerja, saya sampai menulis 44 judul buku, dan terbitan semuanya ISBN. Baru-baru 2025, saya dapat penghargaan dari Ibu Gubernur Jawa Timur sebagai penulis buku terbanyak di Jawa Timur," katanya.

 

Berbagi Pengalaman dengan Siswa

Selain menulis, Sulaiman aktif dalam kegiatan konservasi lingkungan, termasuk inovasi pengolahan limbah dan sampah.

Kegiatannya tersebut membuat ia berkesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan mendapat undangan dari sejumlah organisasi nonpemerintah (NGO) untuk berbagi pengalaman, termasuk ke Malaysia dan sejumlah daerah di Indonesia.

Kini, pengalaman tersebut ingin dia tularkan kepada para siswa Sekolah Rakyat.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6