Proses Pembangunan Pabrik Minyak Merah di Desa Klekat Terus Dikawal Pemerintah Kecamatan Kembang Janggut

Langkah ini adalah tindak lanjut dari arahan Bupati Kutai Kertanegara (Kukar), Edi Darmansyah, yang menegaskan pentingnya percepatan pembangunan pabrik ini sebagai bagian dari program strategis memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi lokal Pemerintah Kabupaten Kukar.

Diperbarui 13 Juni 2025, 08:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pembangunan pabrik minyak merah di Desa Klekat masih terus berlangsung. Terkait hal tersebut, Pemerintah Kecamatan Kembang Janggut terus menunjukkan komitmennya dalam mengawal proses tersebut.

Langkah ini adalah tindak lanjut dari arahan Bupati Kutai Kertanegara (Kukar), Edi Darmansyah, yang menegaskan pentingnya percepatan pembangunan pabrik ini sebagai bagian dari program strategis memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi lokal Pemerintah Kabupaten Kukar.

Dorong Percepatan Pembangunan Lewat Koordinasi Lintas Sektor

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Camat Kembang Janggut, Suhartono, mengungkapkan bahwa pihak kecamatan terus mendorong percepatan pembangunan pabrik minyak merah melalui koordinasi lintas sektor. Dalam upaya tersebut, pihaknya menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah desa, kelompok tani sawit, pelaku usaha, serta dinas teknis di lingkungan Pemkab Kukar untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana dan target waktu.

“Program tahun 2025 ini masih sejalan dengan arahan Pak Bupati, yaitu mengawal terus proses pembangunan pabrik minyak merah di Kembang Janggut, terutama di Desa Klekat yang ditetapkan sebagai lokasi prioritas,” ujar Suhartono saat ditemui pada Rabu (11/06/2025).

Ia menjelaskan bahwa gagasan pembangunan pabrik minyak merah ini berawal dari pengalaman pahit pada tahun 2023, saat Indonesia, termasuk Kabupaten Kukar, dilanda krisis kelangkaan minyak goreng. Kala itu, gangguan distribusi, lonjakan harga, dan ketergantungan pada pasokan dari luar daerah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Kondisi ini menjadi titik balik bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi dan merumuskan solusi jangka panjang yang memanfaatkan potensi lokal secara optimal.

“Krisis tahun 2023 lalu menjadi alarm penting. Dari situ muncul gagasan agar kita bisa mandiri dalam pengolahan minyak nabati, apalagi Kukar punya kebun sawit yang sangat luas, termasuk di Kembang Janggut,” jelasnya.

Bagian dari Program Hilirisasi Kelapa Sawit

Pembangunan pabrik minyak merah merupakan bagian dari upaya hilirisasi kelapa sawit yang kini mulai banyak digalakkan di berbagai daerah. Berbeda dengan minyak goreng komersial yang melalui proses pemurnian berulang, minyak merah merupakan produk setengah jadi yang tetap mempertahankan kandungan alami seperti beta-karoten dan vitamin E. Kandungan inilah yang membuat minyak merah dinilai lebih sehat untuk dikonsumsi.

Selain proses produksinya yang relatif sederhana, pabrik minyak merah juga lebih mudah dikembangkan di wilayah pertanian berbasis rakyat. Menurut Suhartono, Kecamatan Kembang Janggut termasuk salah satu kawasan yang sangat potensial untuk pengembangan ini. Hal tersebut didukung oleh melimpahnya ketersediaan bahan baku dari kebun sawit milik masyarakat yang telah lama menjadi sumber penghidupan utama para petani di wilayah tersebut.

“Karena sumber bahan bakunya sangat melimpah dari kebun-kebun sawit masyarakat, maka kebutuhan pasokan tandan buah segar (TBS) pasti bisa terpenuhi secara berkelanjutan,” ujarnya.

Kemandirian Ekonomi Desa

Tak hanya itu saja, Suhartono juga memberikan penegasan bahwa dengan kehadiran pabrik minyak merah ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Dimulai dari menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, sampai mendorong kemandirian ekonomi desa. Tak hanya itu, pabrik ini juga dapat menjadi model percontohan bagi wilayah lain dalam mengembangkan industri pengolahan berbasis potensi desa.

“Program ini bukan hanya soal pabrik, tapi juga penguatan ekonomi rakyat. Kami di kecamatan terus berupaya memastikan pembangunan ini tidak berhenti di tengah jalan, karena manfaatnya besar sekali untuk masyarakat,” katanya.

Dukungan luas dari berbagai pemangku kepentingan juga datang untuk proses pembagunan pabrik minyak merah di Desa Klekat. Termasuk Dinas Perkebunan Kukar dan Dinas Koperasi dan UKM. Sejak 2022, pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan UKM RI telah mendorong pendirian pabrik minyak merah skala kecil di tingkat koperasi petani sebagai bagian dari program transformasi ekonomi hijau dan upaya meningkatkan kesejahteraan petani sawit.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, dalam sejumlah kesempatan menegaskan pentingnya hilirisasi kelapa sawit berbasis koperasi sebagai strategi untuk memperkuat posisi petani dalam rantai nilai industri sawit nasional. Produksi minyak merah dinilai lebih cocok untuk dikelola koperasi karena membutuhkan investasi yang tidak terlalu besar, namun mampu memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan petani.

Jika berjalan sesuai rencana, pabrik minyak merah di Desa Klekat akan menjadi yang pertama di Kukar yang dibangun dengan pendekatan kemitraan antara pemerintah daerah, kelompok tani, dan koperasi. Inisiatif ini diharapkan menjadi titik awal bagi transformasi industri kelapa sawit rakyat menuju sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Kami optimistis, dengan dukungan semua pihak, pembangunan ini bisa selesai tepat waktu dan membawa dampak positif bagi masyarakat Desa Klekat dan sekitarnya,” tutup Suhartono.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6