Gontor 5 Berikan Trauma Healing untuk Santri Korban Longsor

Program trauma healing diambil untuk membantu pemulihan kondisi psikologis mereka agar dapat kembali beraktivitas secara normal di lingkungan pesantren.

Diperbarui 03 Mei 2025, 23:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah santri Pondok Modern Gontor 5 Darul Qiyam, Magelang, menjalani program trauma healing pascabencana tanah longsor yang terjadi pada Jumat (25/4/2025). Langkah ini diambil untuk membantu pemulihan kondisi psikologis mereka agar dapat kembali beraktivitas secara normal di lingkungan pesantren.

Santri yang mengikuti program ini seluruhnya merupakan penyintas langsung bencana tanah longsor.

Pondok menugaskan Mustar, guru senior bidang kepramukaan, untuk mendampingi proses pemulihan para santri melalui pendekatan edukatif dan rekreatif. Kegiatan dilakukan dengan metode menyenangkan seperti outbound, permainan kelompok, dan aktivitas fisik yang mendorong kebersamaan.

"Kami berharap dengan aktivitas outbound yang enjoy dan fun, para santri yang terdampak secara psikis dapat segera pulih," ujar Mustar, Sabtu (3/5/2025).

Menurutnya, pendekatan yang digunakan sejalan dengan metode pendidikan khas Gontor yang menitikberatkan pada keseimbangan antara jasmani dan rohani.

Mustar menambahkan bahwa program ini juga mendapat pendampingan dari para ahli kesehatan jiwa yang merupakan alumni pondok.

"Untuk proses trauma healing kami juga berkonsultasi dengan para ahli dari kawan alumni Ponpes Gontor yang saat ini memang aktif di dunia psikoterapi," jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, santri diajak menyanyikan lagu-lagu, mengikuti permainan yang memacu ketangkasan berpikir, serta mengembangkan kerja sama tim.

"Kami menggerakkan fisik para santri agar sehat secara jasmani dan rohani, jiwa maupun raga, dan dapat kembali beraktivitas seperti semula," tutup Mustar.

Puluhan Santri Jadi Korban

Sebuah insiden menimpa Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 5 Darul Qiyam, Dusun Mangunsari, Desa Gadingsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, pada Jumat (25/4/2025). Diketahui, puluhan santri menjadi korban luka dan empat orang meninggal dunia akibat ambruknya tembok kolam di lingkungan pesantren tersebut.

Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan rasa duka mendalam atas insiden tersebut dan mendoakan agar seluruh santri yang menjadi korban segera diberikan kesembuhan.

“Kami sangat berduka atas peristiwa ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Doa kami panjatkan untuk para santri yang wafat—semoga Allah SWT menerima mereka dalam kasih sayang-Nya dan menempatkan mereka di surga terbaik. Kepada para santri yang dirawat, kami doakan segera sembuh. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan dan keikhlasan,” kata Direktur Pesantren Kemenag RI, Basnang Said, seperti dikutip dari siaran pers, Sabtu (26/4/2025).

Karena Tandon Air Roboh

Diketahui musibah terjadi diduga akibat tanah longsor yang mengakibatkan robohnya tandon air di lingkungan pesantren. Peristiwa ini terjadi secara tiba-tiba saat para santri tengah bersiap-siap untuk mandi menjelang pelaksanaan salat Jumat. 

Longsoran tanah di belakang kamar mandi asrama menyebabkan tandon air yang berada di atasnya roboh dan menimpa area kamar mandi yang saat itu tengah padat oleh aktivitas santri.

Beberapa santri berhasil diselamatkan dan segera dilarikan ke rumah sakit, sementara sebagian lainnya sempat terjebak di dalam bangunan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6