Polisi Sebut Ada Barang Bukti yang Disita dari Apartemen Diduga Milik Firli Bahuri

Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menyita sejumlah barang bukti dari kamar apartemen di kawasan Dharmawangsa, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Diterbitkan 14 Desember 2023, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menyita sejumlah barang bukti dari kamar apartemen di kawasan Dharmawangsa, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Penyitaan itu terkait kasus dugaan pemerasan yang menyeret Ketua KPK nonaktif, Firli Bahuri.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak membenarkan adanya barang bukti yang disita pada saat dilakukan penggeledahan beberapa waktu lalu. Namun, Ade tak membeberkan secara gamblang.

"Yang jelas ada yang disita penyidik dari penggeledahan di salah satu kamar di apartemen Dharmawangsa Essence tersebut," kata Ade dalam keteranganya, Kamis (14/12/2023).

Ade beralasan, materi penyidikan belum bisa diungkap sampai berkas perkara dibawa ke persidangan.

"Barang bukti itu menjadi salah satu materi yang didalami di penyidikan," ujar dia.

Sebelumnya, Ditreskrimsus Polda Metro Jaya kembali melakukan penggeledahan di salah satu apartemen kawasan Dharmawangsa, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (5/12/2023) siang.

Penggeledahan ini merupakan tempat ketiga, setelah penyidik telah melakukan penggeledahan di dua rumah pribadi Firli yang berlokasi di Bekasi dan rumah safe house, di Kertanegara 46, Jakarta Selatan.

Diketahui agenda penggeledahan siang ini, dilakukan sebelum Penyidik Polda Metro Jaya memeriksa Firli kembali sebagai tersangka Rabu, 6 Desember 2023

"Konfirmasi atas hasil geledah yang dilakukan penyidik terhadap aset lainnya berupa apartemen (di luar LHKPN FB)," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Trunoyudo baru-baru ini.

 

Pakar Hukum Soroti Bukti di Kasus Firli Bahuri

Persidangan praperadilan yang diajukan oleh Ketua KPK Nonaktif Firli Bahuri (FB) telah memasuki agenda pembacaan jawaban dan duplik Termohon, dalam hal ini Kapolda Metro Jaya Irjen Karyoto dan replik Pemohon.

Dalam jawabannya, Kapolda Metro Jaya menyatakan penetapan tersangka terhadap Firli Bahuri terkait kasus dugaan pemerasan terhadap mantan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) telah sah secara hukum lantaran merupakan kewenangan penyidik dan didasarkan pada minimal dua alat bukti.

Guru Besar Hukum Pidana Unpad, Romli Atmasasmita menyebut, jawaban Termohon terbilang sangat normatif lantaran penetapan tersangka diyakini sah hanya berdasarkan pada kuantitas alat bukti, bukannya memperhatikan aspek kualitas.

Di sisi lain, Termohon menyatakan penetapan tersangka Firli Bahuri juga sah karena telah ada penyidikan, Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP), pemeriksaan saksi-saksi, surat dokumen, dan ahli.

“Sah atau tidaknya penetapan Tersangka FB patut diuji karena dalam pemeriksaan saksi-saksi pada tahapan penyidikan, tidak ada satu pun saksi yang menyatakan mengetahui, melihat, atau mendengar adanya pemerasan, penerimaan gratifikasi atau penerimaan hadiah atau janji atau penyuapan oleh SYL kepada FB, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 e atau Pasal 12 B atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” tutur Romli kepada wartawan, Rabu (13/12/2023).

 

Berdasarkan Foto

Romli menuturkaan, Penyidik Polda Metro Jaya pun dinilai hanya mendasarkan pada bukti petunjuk yakni foto pertemuan SYL dan Firli Bahuri, resi penukaran valas, dan saksi yang tidak melihat, mendengar, juga mengetahui atau mengalami langsung tindak pidana pemerasan yang disangkakan.

“Sebagaimana pasal 1 angka 26 dan 27 KUHAP terkait keterangan menjadi hal pokok pembuktian, tidak ada suatu peristiwa pidana tanpa saksi. Bahkan begitu pentingnya keterangan, maka satu saksi bukan saksi, Unus Testis Nulls Testis,” katanya.

“Dan dalam pasal 184 KUHAP, keterangan saksi diposisikan sebagai pertama dalam alat bukti yang sah. Jika tidak ada saksi, maka sesungguhnya tidak cukup bukti, maka penetapan tersangka tidak sah,” lanjut Romli.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6