Sukses

Melihat Kehidupan Masyarakat Mapia Papua, Pulau Terluar Indonesia: Butuh Air Bersih hingga Perhatian Kemensos

Kepulauan Mapia, pulau terluar Indonesia di Papua berjarak sekitar 290 kilometer dari Manokwari dengan waktu tempuh 10 jam menggunakan perahu nelayan.

Liputan6.com, Jakarta - Mapia merupakan salah satu kepulauan terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina dan Republik Palau. Kepulauan Mapia memiliki sejumlah pulau terdiri dari Berasi, Pegun, Fanildo, Pulau Berasi kecil, Pulau Fanildo kecil.

Tim Liputan6.com bersama Kementerian Sosial (Kemensos) melakukan Ekspedisi Kebangsaan dengan mendatangi salah satu pulau di Kepulauan Mapia, yakni pulau Berasi. Tim bergerak dari Manokwari menuju Kepulauan Mapia menggunakan kapal perahu nelayan. Jaraknya mencapai sekitar 290 kilometer dengan waktu tempuh 10 jam.

Sesampai di Pulau Berasi, Tim Advance Ekspedisi Kebangsaan disambut Kepala Desa Mapia, Cendra Arius Mnsen. Dia mengisahkan, keberadaan Kepulauan Mapia berawal dari sebuah cerita ditemukannya satu perempuan hanyut. Perempuan tersebut menyebutkan kata 'Mapia' yang bermakna cantik dalam bahasa Sanger.

"Dari bahasa itu sudah jelas Mapia ini merupakan bagian Indonesia," ujar Cendra kepada Liputan6.com, Senin (11/9/2023).

Dahulunya, masyarakat Mapia melakukan perkawinan silang dengan masyarakat luar yang tergolong Mikronesia sehingga membentuk peradaban kecil di Kepulauan Mapia. Seiring berjalannya waktu, Kepulauan Mapia menjadi salah satu wilayah yang dijajah negara asing seperti, Jepang, Belanda dan sekutunya.

Tugu perdamaian sebagai penanda Jepang pernah datang ke Kepulauan Mapia, Distrik Supiori Barat, Kabupaten Supiori, Provinsi Papua. (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

"Saat perang dunia kedua, Jepang berhasil diusir Amerika Serikat, dan pergi meninggalkan Mapia," kata Cendra.

Cendra menjelaskan, dahulunya masyarakat Biak kerap mendatangi Kepulauan Mapia dengan menandai sebuah tato burung Camar. Tato itu menandakan seseorang sudah mendatangi Kepulauan Mapia.

Namun seiring perkembangan zaman, masyarakat Biak yang sudah datang dan menetap di Kepulauan Mapia tidak membuat tato tersebut.

"Jadi setelah kemerdekaan dan pengusiran penjajah, masyarakat Biak tetap bertahan di Kepulauan Mapia dan menetap hingga saat ini," jelas Cendra.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Berkebun dan Nelayan

Pada 1964, masyarakat melapor ke Pemda setempat terkait keberadaan masyarakat Mapia asal Biak.  Mereka kemudian diminta untuk menetap di Kepulauan Mapia.

Atas mandat tersebut masyarakat Biak menjaga Kepulauan Mapia hingga pada 1987 para veteran Jepang datang kembali dan membuat tugu perdamaian sebagai tanda para veteran Jepang pernah bertugas di Kepulauan Mapia.

"Prasasti itu ada di dekat Puskesmas Pembantu dan mereka memasang patung Budha," ucap Cendra.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Mapia mengembangkan kehidupan masyarakat dengan cara berkebun dan mencari ikan di laut.

Saat ini jumlah penduduk di Kepulauan Mapia mencapai 79 Kepala Keluarga dengan mata pencarian sebagai nelayan dan pembuat Kopra yang akan dijadikan minyak sawit.

"Pendapatan ekonomi setiap kepala keluarga sebesar Rp3 juta perbulan," terang Cendra.

Untuk pendidikan masyarakat Mapia, Pemerintah Daerah telah membangun sekolah dasar yang terdiri dari delapan ruangan. Sedangkan siswa yang melanjutkan sekolah ke jenjang SMP dan SMA melanjutkan kembali ke Kota Biak.

 

 

3 dari 4 halaman

Harga Kebutuhan Pokok Mahal

Begitu pun dengan fasilitas kesehatan hanya terdapat puskesmas pembantu dan hanya ada seorang bidan serta perawat.

"Kami ingin puskesmas pembantu di tingkatkan menjadi Puskesmas dengan kehadiran dokter di Mapia," pinta Cendra.

Pendapatan sebagai nelayan dan petani dinilai kecil karena harga barang dan kebutuhan pokok masyarakat Mapia cukup besar. Hal itu dikarenakan faktor keterbatasan transportasi masyarakat menuju Kota Biak untuk menjual hasil tangkapan ikan dan perkebunan.

"Di sini kapal yang membawa masyarakat Mapia ke Biak hanya ada dua kali dalam satu bulan," ungkap Cendra.

Menurut Cendra, keterbatasan dermaga untuk bersandar kapal sabuk tidak memungkinkan sehingga kapal besar hanya menunggu di lautan dengan penjemputan menggunakan perahu nelayan.

Sebenarnya, terdapat landasan pesawat sisa peninggalan tentara Jepang pada perang Dunia II, namun kondisi tersebut belum tersentuh perbaikan.

"Memang ada landasan pesawat terbang di Pulau Pegun, tapi kondisinya tidak bisa dipakai," ujar Cendra.

 

4 dari 4 halaman

Butuh Listrik dan Air Bersih

Cendra menuturkan, masyarakat Mapia membutuhkan lampu penerangan, listrik, hingga air bersih untuk kebutuhan hidup masyarakat Mapia. Pada 2014 sempat dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), namun pembangkit tersebut tidak berfungsi kembali karena mengalami kerusakan.

"Akhirnya tidak ada lagi listrik, untuk penerangan warga menggunakan lampu pelita atau patromak," tutur Cendra.

Begitupun untuk air bersih, masyarakat Mapia memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan minum dan memasak. Untuk keperluan mencuci menggunakan air payau yang didapat dari sumur masyarakat Mapia.

"Kini lampu penerangan hingga air bersih dapat di penuhi Kementerian Sosial," kata Cendra.

Cendra menambahkan, Kementerian Sosial telah membangun penerangan jalan umum tenaga surya, solar home syestem, Sea Water Reverse Osmosis. Atas bantuan tersebut masyarakat Mapia merasa terbantu sehingga anak kecil Mapia dapat belajar di malam hari.

"Kami bersyukur mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial peduli akan masyarakat Mapia, tinggal di pulau terluar Indonesia," pungkas Cendra. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.