Sukses

IDAI Sebut Kematian Covid-19 Anak RI Tertinggi Dunia, Kemenkes: Data di Mana Itu?

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan menilai data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menyebut kasus kematian Covid-19 pada anak di Indonesia merupakan tertinggi di dunia tidak tepat. Data itu dipertanyakan keabsahannya.

"Data di mana itu, tidak tepat," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Senin (21/6/2021).

Nadia menjelaskan, data 20 Juni 2021, dari total 54.662 kasus kematian Covid-19 nasional, kelompok umur 0 sampai 18 tahun hanya menyumbang 1,2 persen. Sementara dari 1.989.909 kasus positif Covid-19 nasional, kelompok umur anak mengontribusi 12,5 persen.

"Kasus anak (positif Covid-19) sangat sedikit dibandingkan dewasa," ujarnya.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan ini kemudian menyinggung hasil penelitian Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo bahwa anak yang meninggal setelah terpapar Covid-19 umumnya memiliki komorbid.

"Kalau baca hasil penelitian itu data dari RSCM memang anak yang punya lebih dari satu komorbid," jelas dia.

Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan mengatakan kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia merupakan tertinggi di dunia. Kesimpulan ini berdasarkan data case fatality atau tingkat kematian pada anak akibat virus SARS-CoV-2 itu.

"Data IDAI menunjukkan case fatality ratenya itu adalah 3 sampai 5 persen. Jadi kita ini kematian yang paling banyak di dunia," katanya, Senin (21/6/2021).

Aman Bhakti menjelaskan, dari total kasus positif Covid-19 nasional saat ini, 12,5 persen dikontribusikan anak usia 0 hingga 18 tahun. Ini menunjukkan, satu dari delapan kasus positif Covid-19 di Indonesia merupakan anak.

 

 

2 dari 3 halaman

50 Persen Kematian Balita

Jika dilihat dari data provinsi 17 Juni 2021, DKI Jakarta mencatat angka penambahan kasus positif Covid-19 cukup tinggi pada anak. Dalam sehari, ada peningkatan 661 anak terjangkit Covid-19. Dari jumlah tersebut, 144 di antaranya usia balita (bawah lima tahun).

"Saya sering mengatakan 50 persen kematian anak itu balita, bukan balita itu meninggal 50 persen. Jadi dari seluruh yang meninggal pada anak, 50 persennya balita," sambungnya.

Aman Bhakti menuturkan, situasi kasus Covid-19 pada anak di Indonesia mengkhawatirkan. Sebab, hingga kini sebagian besar rumah sakit belum memiliki ruang ICU (Intensive Care Unit) khusus anak.

Sementara itu, obat-obatan termasuk Intravenous Fluid Drops (IVFD) terbatas karena tidak masuk dalam skema pelayanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan.

"Saat ini juga, SDM semakin menurun, termasuk dokter dan perawat. Ini kan menjadi masalah. Jadi kita bisa kolaps," kata dia.

Reporter: Titin Supriatin

Sumber: Merdeka.com.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: