Sukses

Kepala BKKBN Minta Orangtua Pantau Anaknya di Tengah Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengingatkan, agar orangtua terus memantau anaknya terutama yang remaja di tengah pandemi Covid-19, apalagi Indonesia juga akan menikmati bonus demografi.

Menurut dia, yang harus dipantau anak remaja dan lingkungannya untuk menghindarkan dari pengaruh buruk atau bahasa sekarang lebih dikenal dengan toxic friendship.

Hal ini diisampaikan saat dirinya berbicara sebagai narasumber dalam Rakorbidnas DPP PDI Perjuangan yang dilakukan secara virtual, Rabu (7/10/2020).

Hasto menerangkan, berdasarkan data yang dimilikinya, terjadi peningkatan jumlah orang dengan gangguan kejiwaan di Indonesia, di mana 24,3% adalah remaja. Sehingga, inilah yang harus diberi perhatian serius, terlebih dalam kondisi Covid-19 ini.

"Sehingga ada peluang toxic friendship yang efeknya toxic relationship. Efeknya banyak keluarga toxic, perceraian tinggi, dan bukan keluarga mandiri," kata Hasto dalam keterangannya.

Sebagai langkah antisipasi, apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini, pihaknya mendorong perbaikan lingkungan ini dengan program yang bertujuan menggelorakan kampung berkualitas. Basisnya mengambil inspirasi dari Trisakti Bung Karno, dimana kampung berkualitas adalah yang teguh dalam ideologi, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian di dalam kebudayaan.

"Situasi pandemi Covid-19 ini memberikan peluang luar biasa untuk kampung berkualitas. Karena misalnya, di saat inilah kesempatan terbaik tak impor dan memproduksi sendiri semua produk untuk memenuhi kebutuhan sendiri," tukas Hasto.

 

2 dari 3 halaman

Masyarakat Mandiri

Hasto menuturkan, banyak kegiatan di pandemi Covid-19 ini, yang bisa diarahkan menjadi ekonomi mandiri. Mantan Bupati Kulonprogo ini, menyarankan para kepala daerah harus mengarahkan masyarakatnya ke arah sana. Selain menghilangkan rasa stres juga memastikan ekomi jalan.

"Saya usulkan bantuan pangan non tunai jadi kunci. Bagaimana e-warung dimiliki rakyat miskin, dimana uangnya harus dibelikan produk lokal seperti ikan, beras, lele yang diproduksi warga sendiri. Ini membuat uangnya muter di daerah," tukas Hasto.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: