Sukses

Sadis, Bocah 11 Tahun di Bogor Dibunuh Usai Disodomi

Liputan6.com, Jakarta - Pria berinisial J (35) tega melakukan sodomi ke nyawa tetangganya, MM. Dia juga membunuh bocah 11 tahun itu, usai memuaskan nafsunya.

Penyimpangan seksual yang dilakukan warga Cijayanti, Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor itu diketahui polisi dari autopsi korban.

Pelaku pun mengakui perbuatannya saat ditangkap anggota Polsek Babakanmadang beberapa hari lalu.

Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky menjelaskan, peristiwa yang sempat menggemparkan warga Cijayanti itu terjadi pada 3 Agustus 2019. Kejadian bermula saat korban hendak mengikuti salat istigasah di wilayah desanya pada pukul 20.00 WIB.

Saat dalam perjalanan menuju masjid, korban bertemu MM, yang sudah saling kenal satu sama lain. Pelaku kemudian mengajaknya pergi dengan alasan sudah terlambat untuk mengikuti istigasah bersama warga lainnya.

Selanjutnya, korban dibawa ke area pesawahan. Di sana, korban diperlihatkan film porno melalui telepon seluler pelaku setelah itu meminta korban melayani nafsunya.

"Usai melakukan perbuatan itu keduanya sempat cekcok karena korban mengancam akan melaporkan aksinya," kata Dicky soal kasus sodomi tersebut di Mako Polres Bogor, Senin (9/9/2019).

Pelaku yang naik pitam dan gelap mata akhirnya membunuhnya dengan cara menjerat leher korban menggunakan kain sarung.

"Korban sempat melawan, tapi pelaku menggigit tangan dan kaki korban lalu menjerat lehernya dengan sarung hingga meninggal," terang Dicky.

Usai menghabisinya nyawa korban sodomi, pelaku kabur dari rumahnya. Sementara jasad korban baru ditemukan seorang warga keesokan harinya di pinggiran sawah sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, saksi bernama Pipin menemukan jasad korban tergeletak dekat sawah tak jauh dari rumahnya.

"Siang harinya jasad korban dimakamkan oleh keluarganya. Informasi itu kemudian tercium pihak kepolisian," ujar dia.

 

2 dari 2 halaman

Tak Wajar

Karena kematian korban dinilai tidak wajar, polisi kemudian melakukan penyelidikan dengan memeriksa TKP, olah TKP dan mencari keterangan dari sejumlah saksi.

"Awalnya keluarga korban tidak bersedia jasad korban diotopsi karena sudah dimakamkan. Lima hari kemudian keluarga korban melaporkan kejadian itu ke polisi dan akhirnya bersedia dilakukan autopsi," kata dia.

Hingga akhirnya pembunuhan itu terungkap setelah polisi berhasil menangkap seorang pelaku yang tak lain masih tinggal satu desa dengan korban.

Kapolsek Babakanmadang, AKP Silfia Sukma Rosa mengungkapkan, pelaku dan korban sudah saling kenal. Bahkan, pelaku sudah dua kali melakukan kejahatan seksual kepada korban yang masih di bawah umur.

Setiap ingin memenuhi hasrat seksualnya, pelaku memberi uang kepada korban sebesar Rp 20 ribu. Namun pada saat aksi ketiga ini pelaku tidak memiliki uang sehingga membuat korban marah.

"Setelah mengetahui pelaku mengaku tidak punya uang, korban diam-diam mengubah password HP milik pelaku yang dipegangnya untuk untuk menonton film porno," ungkap Silfi.

Tak hanya itu, korban juga sempat mengancam akan melaporkan tindakan pelaku yang sudah berkeluarga itu kepada orangtuanya jika tidak memberinya uang.

"Pelaku malah marah. Saat itu, korban mencoba lari. Pelaku yang kadung kalap mengejarnya dan setelah tertangkap menjerat leher korban dengan kain sarung. Karena korban berontak, pelaku akhirnya menggigit kaki serta tangan pelaku lalu menjerat lehernya hingga tewas," terangnya.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 30 ayat 3 UU Nomor 35 Tahembetinya un 2014 tentang Perlindungan Anak dan atau dengab sengaja menghilangkan nyawa orang lain seperti termuat dalam Pasal 338 KUHP.

Loading