Wayang Mbahe, Bukan Sembarang Wayang

Bagi warga Blora, Jawa Tengah, wayang mbahe bukan sembarang wayang. Wayang itu tidak bisa dimainkan oleh sembarang dalang di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Diterbitkan 27 Mei 2012, 06:34 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Blora: Bagi warga Blora, Jawa Tengah, wayang mbahe bukan sembarang wayang. Wayang itu bisa dimainkan oleh sembarang dalang di sembarang tempat dan sembarang waktu.

Wayang mbahe merupakan kesenian asli dari Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Blora. Mbahe berasal dari kata “mbah” yang berarti sesepuh dan diyakini sebagai warisan turun-temurun yang diberikan kepada pemangku desa.

Wayang mbahe terbuat dari kayu pipih yang diukir berbentuk karakter wayang. Wayang mbahe hanya bisa dimainkan saat ada acara sedekah desa dan saat ada orang bernadzar di punden desa.

Tempat memainkan wayang mbahe pun sudah ditentukan, yakni di punden desa. Sebelum dimainkan, wayang mbahe juga diberikan sesaji yang diperebutkan penonton.

Kesakralan lain, wayang mbahe tidak boleh dimainkan sembarang dalang. Dalang wayang itu harus dari keturunan dalang di desa.

Dari 32 sosok wayang, ada lima wayang yang tidak boleh dimainkan, karena dipercaya sebagai perwujudan dari lima sesepuh desa. Kelima wayang itu diletakkan di atas tiang penyangga panggung punden dan dibungkus kain mori.(SHA)


Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6