Sukses

Sutopo, Kanker Paru-Paru dan Kabar tentang Bencana

Liputan6.com, Jakarta - Posisi Sutopo Purwo Nugroho sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuat dia sangat sibuk. Sebab, dia menjadi rujukan informasi valid tentang kebencanaan.

Setiap hari selama 24 jam dalam seminggu, dia harus terus-menerus bekerja memantau bencana yang terjadi di seluruh Tanah Air. Informasi itu kemudian langsung disebarluaskannya ke awak media agar cepat disampaikan ke masyarakat. Tujuannya, agar masyarakat waspada terhadap bencana yang ada di sekitarnya.

Pertengahan Januari lalu, Sutopo divonis menderita kanker paru-paru stadium 4. Saat berita ini ditulis, Sutopo tengah berada di RSPAD Gatot Soebroto, menunggu dokter menyedot 2 liter cairan yang ada di paru-parunya.

"Ada cairan hampir 2 liter di pleura paru saya sehingga harus disedot (istilahnya dipungsi)," ujar Sutopo pada Liputan6.com di Jakarta, Senin (21/5/2019).

Cairan inilah, yang membuatnya sakit, sesak napas dan batuk. Cairan ini, kata Sutopo, diproduksi oleh kanker yang menguasai paru-parunya. "Sebulan lalu sudah diambil 900 ml. Sekarang ternyata sudah ada 2 liter," ucap dia.

Meski tengah menahan sakit, Sutopo masih saja menyebarkan informasi kepada media tentang Gunung Merapi yang mengeluarkan letusan freatik terus-menerus.

"Bikin rilis tadi sambil nunggu dokter," ujar Sutopo.

Baginya, upaya untuk sembuh adalah hal penting mengingat masih ada orang lain yang membutuhkannya.

"Saya harus tetap semangat. Anak dan istri saya masih membutuhkan saya. Sakit yang ada tidak saya rasakan. Saya tahan dan diamkan saja," kata Sutopo lagi.

Di tengah perjuangannya melawan kanker paru, Sutopo meminta doa agar Tuhan Yang Maha Kuasa mencabut segala sakitya.

2 dari 3 halaman

Berawal dari Nyeri di Punggung

Ceritanya, saat itu Gunung Agung berstatus awas. Dia yang bersiaga di Pusat Kendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB merasakan punggung kirinya nyeri ketika duduk. Khawatir akan kesehatan jantungnya, Sutopo lantas menuju RS Mitra Keluarga Cibubur untuk diperiksa. Hasilnya, jantungnya normal.

Dia lantas dirujuk ke bagian penyakit dalam (internis). Di situ terdiagnosis asam lambungnya naik. Sutopo lalu diberi obat pereda nyeri. Namun, saat obat habis, nyeri kembali lagi. Sutopo akhirnya berinisiatif ke dokter paru-paru. Setelah pemeriksaan rontgen dan CT scan, dokter menyimpulkan, Sutopo terserang kanker paru-paru stadium 4.

"Saat itu, keluarga saya langsung shock," tutur seperti dikutip dari Jawapos.com

Sutopo lantas melakukan pemeriksaan lagi di RS Mahkota Melaka Malaysia. Hasilnya pun sama. Saat itu, Sutopo memutuskan untuk berhenti sementara dan mengabaikan dulu WhatsApp-nya sambil menunggu operasi biopsi. Namun, pada Jumat siang, 26 Januari 2018, gempa besar 5,2 skala Richter (SR) yang berpusat di Banten mengguncang Jakarta. Biasanya, hanya dalam hitungan jam, Sutopo sudah muncul dengan rilis resmi BNPB dan data-data akurat dari lapangan. Namun, hingga sore Sutopo belum juga muncul.

Ternyata, Sutopo masih berada di rumah sakit. Ditemani saudara dan staf BNPB. Sang istri, Retno Utami Yuliangsih, tidak bisa menemani karena juga harus menjalani operasi jantung. Opini dari tim dokter Malaysia malah lebih menyeramkan.

"Mereka bilang umur saya tinggal beberapa tahun. Kalau pakai kemoterapi pun paling nambah umur dua sampai tiga tahun," tutur Sutopo. Tim dokter menyarankan Sutopo segera menjalani kemoterapi esoknya. Dia pun setuju dan mengabarkannya kepada sang istri. Tapi, Retno meminta Sutopo tidak melakukan kemo di Malaysia.

"Biasanya, setelah kemo, akan mual dan muntah, juga lemas. Melaka jauh, perjalanan tiga jam darat dari Kuala Lumpur, kemo juga harus tiga minggu sekali. Apa Papa kuat?" kata Retno berdasar penuturan tertulis kepada Jawa Pos (2/3). Retno juga mewanti-wanti Sutopo siapa yang akan menemani jika sampai dirawat di negeri jiran itu. Sebab, Retno juga tengah sakit. Kedua anaknya masih membutuhkan mereka berdua.

3 dari 3 halaman

Dedikasi untuk Pekerjaan

Sutopo memutuskan esoknya kembali terbang ke Jakarta dan melakukan semua pengobatan di Tanah Air. Tapi, malam itu, ratusan pesan dan panggilan menyerbu masuk ke HP-nya. Di atas ranjang RS, Sutopo mengumpulkan laporan dari BPBD Banten dan semua jaringan BNPB untuk diketik dalam sebuah pers rilis.

"Ya sudahlah, saya bikin rilis. Tapi, saya enggak mau angkat telepon nerima wawancara," ujar Sutopo.

Sampai Jumat malam, Sutopo masih setia memelototi HP. Menurut pengalamannya, setelah terjadi gempa besar, rawan bermunculan berita-berita hoax tentang tsunami. Dia merasa perlu berjaga jangan sampai masyarakat panik.

Pada 5 Februari 2018, Sutopo sedang menunggu dokter di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Sejak semalam, debit air di Bendung Katulampa sudah menyentuh siaga merah. Sutopo menyisir dunia maya dan televisi. Belum ada satu pun media yang mengabarkan hal tersebut. Memang ada beberapa info yang beredar. Tapi, bahasanya rumit, normatif. Sutopo berpikir masyarakat tidak paham apa artinya siaga satu dengan bahasa teknis seperti itu. Padahal, warga Jakarta terancam banjir. Dia pun kembali menekuri HP-nya, mengumpulkan data dan menyusun rilis.

Saat terjadi longsor di Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Brebes, 22 Februari lalu, Sutopo tengah berada di ruang bedah RSPAD Gatot Soebroto. Bersiap menjalani operasi. Awalnya, dia berpikir nanti dulu lah. Operasi lebih utama. Namun, belum ada satu pun berita tentang longsor Brebes. Sutopo tetap gelisah. Dia tahu betul bencana longsor pasti mematikan. "Wah, ini longsor. Pasti banyak korbannya," tuturnya.

Lagi-lagi, dalam kondisi berbaring di atas ranjang, dia mengontak BPBD dan beberapa instansi yang menangani langsung maupun petugas BNPB di lapangan. Data dia kumpulkan, lalu disusun dalam bentuk rilis. Sutopo sempat berpikir untuk berhenti saja dari pekerjaannya. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada gunanya juga dia diam. "Sakit, sehat, hidup, dan mati bagian dari kehidupan. Semua sudah diatur. Saya nikmati saja. Yang penting, saya ikhtiar," ujarnya.

Sutopo yang tidak pernah muncul sejak awal Januari 2018 kembali tampil di hadapan media pada Jumat, 23 Februari. Hanya sehari setelah operasi. Selesai pembahasan bencana, para awak media malah lebih penasaran akan ceritanya menjalani pengobatan kanker. Sutopo tampak lebih pucat dan lebih kurus daripada biasanya. Berat badannya turun 7 kilogram. "Karena sudah banyak yang merindukan saya, tadi malam saya siapkan konpers (konferensi pers)," kelakar Sutopo di tengah-tengah wartawan yang mengerubunginya.

Bagaimana pun, Sutopo sadar betul media sangat bergantung padanya dalam informasi kebencanaan. Informasi yang tepat dan akurat sangat critical. Bahkan, untuk keselamatan penduduk setempat. Kanker sudah menyebar dari paru-paru ke tulang belakangnya. Sutopo menjalani beberapa kemoterapi di RS Dharmais, Siloam, sampai RSPAD. Meski keluarganya shock, Sutopo lebih tenang.

Meski demikian, Sutopo sudah bertekad untuk tidak meninggalkan lantai 11 Pusdalops BNPB. Dia bertekad memanfaatkan sisa umurnya untuk bekerja lebih giat, beribadah lebih rajin, lebih banyak lagi berbuat kebaikan. Selain itu, memberikan manfaat terhadap masyarakat luas.

 

Baca berita menarik lainnya di JawaPos

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Artikel Selanjutnya
Detik-Detik Terbakarnya Sumur Minyak di Aceh
Artikel Selanjutnya
Soal Potensi Tsunami 57 Meter di Pandeglang, Ini Penjelasan BNPB