Sukses

HEADLINE: Hijaber Jawa Pelestari Wayang Tiongkok

Liputan6.com, Jakarta Beragam cerita rakyat Tiongkok mulai dipelajari Meila Afkarina (22), sebulan sebelum Imlek 2018. Mulai dari hikayat “Kera Sakti Mencari Kitab Suci” hingga cerita klasik perjalanan hidup Sie Jin Kwie. Kisah-kisah yang akan dia tampilkan dalam pementasan wayang khas Tiongkok, Wayang Potehi.

Maklum, setiap menjelang perayaan Imlek, undangan pentas memang ramai. Bukan cuma di Jakarta, tapi juga ke berbagai wilayah di Indonesia.

“Bulan ini ada 4 jadwal pertunjukan di Jakarta, ada juga tim yang main ke Menado,” kata Meila kepada Liputan6.com di Sanggar Potehi Rumah Cinta Wayang, Depok, Jawa Barat, 1 Februari 2018 lalu.

Meila tidak mentas sendiri, dia bersama 11 orang lainnya tergabung di Potehi Rumah Cinta Wayang. Gadis berkerudung asal Jember, Jawa Timur ini mulai aktif ikut mentas sejak 2015 lalu.

“Kalau mau pentas, latihan bisa lebih dari dua kali seminggu,” kata Mahasiswi Sastra Jawa, Universitas Indonesia itu.

Hari itu, Meila pun tampak cukup sibuk. Bersama 2 orang rekannya, dia mulai membenahi rangkaian panggung khas Wayang Potehi yang disebut Pay Low. Sebuah panggung sepanjang 1,3 meter dengan lebar 0,5 meter, dan tinggi 1,5 meter.

Beberapa Wayang Potehi pun dia keluarkan dari kotak penyimpanan. Lalu dipadukan dengan baju-baju wayang sesuai karakter yang akan dimainkan. Tidak lupa, alat musik pendukung seperti erhu, siauw bak, kecapi, toa lo, dan seruling cina dibersihkan terlebih dahulu.

Berbicara seputar asal-usul, Wayang Potehi berawal dari Dinasti Tang yang berkuasa pada tahun 617-918 di Tiongkok Selatan. Dikutip dari “Wayang Potehi Gudo” karya Dwi Woro Retno Mastuti, Potehi berasal dari 3 kata. Yakni ‘poo’ yang berarti kain, ’tay’ yang berarti kantong, dan ‘hie’ yang artinya wayang.

Penemunya 5 terpidana mati yang mengisi waktu dengan hiburan seadanya di dalam penjara. Mereka memasukkan kaus kaki ke dalam tangan untuk dipergakan sebagi karakter tertentu. Bahkan, para terpidana itu pun menabuh perkakas untuk ramaikan permainan wayang kaos kaki itu.

Tanpa disangka, sang kaisar mengetahui hal itu dan justru terhibur pada permainan mereka. Narapidana tersebut akhirnya dibebaskan dan jadilah permainan wayang itu berkembang hingga ke berbagai negara.

Bagi Meila sendiri, wayang warisan budaya Tionghoa ini bukan sekedar permainan. Tapi juga ajang untuk melestarikan dan menghargai keberagaman budaya.

“Wayang potehi bagi kami sendiri itu, tidak hanya sekedar cerita sejarah atau hiburan, tapi memberikan pesan moral yang bisa di contoh anak generasi kapan pun,” kata Meila.

Uniknya, Meila sama sekali tidak punya darah Tionghoa. Dengan begitu, dia harus bekerja ekstra untuk memahami istilah-istilah dalam Bahasa Tionghoa yang kerap dipakai dalam pementasan.

“Kalau aku sih nggak bisa Bahasa Mandarin, aku dibantu sama salah satu teman dari rumah Cinwa yang dia bisa Bahasa Mandarin,” katanya.

Bahkan selain Meila, kebanyakn anggota Potehi Rumah Cinta Wayang pun bukan keturunan Tionghoa. Makanya, respons heran bercampur takjub kerap mereka terima dari para penonton.

“Banyak yang melihat dengan tatapan kagum. Pernah denger, ‘ini pada pakai krudung semua ya’. Tapi belum pernah denger mereka (penonton) yang menjelekkan,“ ungkapnya..

Namun selain pujian, teguran dan masukan juga kerap didapati Meila dari penonton. Terutama, terkait pelafalan istilah-istilah Mandarin yang beberapa kali diucapkan keliru.

“Banyak yang mengoreksi dari etnis Tionghoanya, mengoreksi kita dari bahasanya, kita kan nggak bisa Bahasa Cina, jadi ada yang salah , dari artikulasinya,“ katanya.

Meila mengakui kesibukannya memang bertambah setelah menggeluti wayang Potehi. Beruntung, kesibukan itu justru membuang kejenuhannya yang sesekali muncul kala mengerjakan tugas akhir kuliah.

Terkait ketertarikan pada dunia wayang, sebenarnya sudah muncul di benak Meila sejak lama. Itu karena, Ayah Meila merupakan dalang wayang di Jember.

“Rasanya telat banget kenapa dari dulu nggak belajar aja sama bapak kemana-mana ikut,” ujar pementas Wayang Potehi itu.

1 dari 3 halaman

Menjaga Toleransi dan Keberagaman

Ratusan wayang Potehi kini memenuhi koleksi Dwi Woro Retno Mastuti (59). Sejak 2003, dia mengumpulkan wayang-wayang, panggung, dan alat musik dari para pemain wayang Potehi. Pengajar Sastra Jawa ini juga membeli dari perajin khusus Wayang Potehi yang masih ada di Jawa Timur, khususnya di Tulungagung dan Gudo.

“Tahun 2014, saya mengundang mahasiswa saya ke rumah dan tunjukkan pada mereka,” kata perempuan yang akrab disapa Ibu Woro di sela-sela pementasan Wayang Potehi di Jakarta, 2 Februari 2018.

Woro menjelaskan, awalnya dia mempelajari sendiri dan memainkannya sebagai dalang. Lalu kemudian memilih mengajak mahasiswanya.

“Mereka pemuda bangsa yang brilian. Pemimpin masa depan Indonesia Kalau tidak memahi budaya dan keragaman Indonesia , mau jadi apa Indonesia,” katanya.

Sama dengan Meila, Woro pun bukanlah peranakan Tionghoa. Namun, keunikan wayang Potehi mampu mengundang rasa ingin tahu dan keinginan melestarikan kesenian khas Tiongkok Selatan tersebut.

“Melanjutkan yang namanya toleransi, akulturasi, dan keragaman,” katanya.

Namun dia mengaku, pertunjukan wayang Potehi yang dia tampilkan berbeda dengan aslinya ketika dipentaskan di klenteng-klenteng. Menurut dia, Potehi yang asli merupakan wayang para dewa bertujuan sebagai pengungkapan rasa syukur umat Kong Hu Cu. Rasa syukur atas segala berkah yang didapat umat manusia.

“Pertunjukan ini bahasa saya, kidz jaman now, disesuaikan dengan perubahan,” ucapnya.

2 dari 3 halaman

Apresiasi Peranakan Tionghoa

Upaya melestarikan kesenian Wayang Potehi yang dilakukan Woro, mendapat dukungan penuh dari Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (ASPERTINA). Organisasi yang berfokus pada sejarah, seni, dan budaya Tionghoa di Indonesia.

“Kami sangat mengapresiasi ibu Woro, beliau termasuk dewan pakar seni budaya di ASPERTINA. Bagus sekali,“ kata Ragyan Antryz,  Staf Hubungan Masyarakat ASPERTINA.

Dia megatakan, tidak keberatan atau memprotes aktivitas Sanggar Potehi Rumah Cinta Wayang. Walaupun, telah mentransformasikan wayang Potehi jadi hiburan di tempat umum.

“Bisa dinikmati masyarakat banyak dan melestarikan budaya leluhur. Bisa memotifasi anak muda juga yang sudah mulai melupakan budaya leluhur “ kata Ragyan pada Liputan6.com 15 Februari 2018 lalu.

Ragyan menambahkan, organisasi yang didirikan pada Oktober 2011 itu, tidak membatasi anggota hanya pada keturunan Tionghoa. Tapi, anggotanya dari semua agama dan semua semua kalangan profesi.

“Yang penting konsen pada tujuan. Jangan ada perpecahan dan harus berminat melestarikan budaya Tionghoa di Indonesia,” tutup Ragyan.