Liputan6.com, Jakarta: Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ini mungkin tepat untuk menggambarkan penderitaan warga pengguna tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram. Di tengah rencana pemerintah menarik tabung gas--karena kerap bermasalah, masyarakat ternyata masih harus dibebani Rp 45 ribu. Uang itu sebagai ganti tabung gas baru beserta aksesori, seperti selang, katup, dan regulator yang berstandar nasional Indonesia (SNI).
Humas Pertamina Trikora Putra mengatakan, penukaran tabung gas sebagai upaya agar kasus ledakan tak terulang kembali. "Sebab, kebocoran elpiji terjadi salah satunya di sana. Masyarakat diharapkan bisa mendapat kepastian," ujar Trikora [baca: Tabung Gas Tanpa Label SNI Akan Ditarik]
Selain membayar Rp 45 ribu, warga juga harus memperlihat surat bukti pemberian tabung gratis. Padahal, belum tentu warga masih menyimpan surat bukti tersebut. "Kalau bisa gratis. Soalnya, sekarang lagi susah cari duit," ujar Eli, warga pengguna tabung gas elpiji.
Hal senada juga diungkapkan Hendra, yang memiliki usaha kecil. Menurut dia, biaya yang harus ditanggung hanya membuat beban masyarakat semakin berat. "Beratin rakyat kecil saja," lontar Hendra.
Jika beban itu memang jadi diberlakukan, masyarakat pula yang akhirnya kembali menjadi korban. Padahal, sejak awal pemerintahlah yang bersikeras melakukan konversi minyak tanah ke gas elpiji.(ULF)
Humas Pertamina Trikora Putra mengatakan, penukaran tabung gas sebagai upaya agar kasus ledakan tak terulang kembali. "Sebab, kebocoran elpiji terjadi salah satunya di sana. Masyarakat diharapkan bisa mendapat kepastian," ujar Trikora [baca: Tabung Gas Tanpa Label SNI Akan Ditarik]
Selain membayar Rp 45 ribu, warga juga harus memperlihat surat bukti pemberian tabung gratis. Padahal, belum tentu warga masih menyimpan surat bukti tersebut. "Kalau bisa gratis. Soalnya, sekarang lagi susah cari duit," ujar Eli, warga pengguna tabung gas elpiji.
Hal senada juga diungkapkan Hendra, yang memiliki usaha kecil. Menurut dia, biaya yang harus ditanggung hanya membuat beban masyarakat semakin berat. "Beratin rakyat kecil saja," lontar Hendra.
Jika beban itu memang jadi diberlakukan, masyarakat pula yang akhirnya kembali menjadi korban. Padahal, sejak awal pemerintahlah yang bersikeras melakukan konversi minyak tanah ke gas elpiji.(ULF)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332312/original/026531200_1787650496-cek_fakta_Abdul_muti_-_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5333221/original/001778100_1756612376-petani_milenial_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332053/original/033451400_1787629160-petani_milenial_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/186419/original/100703btabung-gas.jpg)