Pergolakan Perdagangan Global dan Dolar AS Kini Sedang Terjadi

Dolar AS (USD), the buck atau greenback, seperti yang sering disebut secara informal, telah lama menduduki posisi yang cukup eksklusif dalam keuangan global.

Diperbarui 07 Mei 2025, 22:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dolar AS (USD), the buck atau greenback, seperti yang sering disebut secara informal, telah lama menduduki posisi yang cukup eksklusif dalam keuangan global.

Sejak akhir Perang Dunia II dan berdirinya sistem moneter Bretton Woods, greenback memainkan peran penting dalam memfasilitasi transaksi lintas batas dan memperlancar arus perdagangan internasional, serta berfungsi sebagai mata uang cadangan utama bagi bank sentral di seluruh dunia.

Hal itu seperti disampaikan Financial Market Analyst Octa Broker Kar Yong Ang. Dia mengatakan, menjadi mata uang resmi dari ekonomi terbesar di dunia Amerika Serikat (AS), maka membantu dolar mempertahankan posisinya yang dominan.

"Memang, besarnya ekonomi AS, pasar keuangan yang dalam dan likuid, hak milik pribadi yang kuat, dan supremasi hukum yang tercantum dalam Konstitusi AS, serta yang terakhir dan tidak kalah pentingnya, kekuatan militer AS yang tak tertandingi, menjadikan dolar AS sebagai mata uang global yang paling dipercaya," ujar Kar Yong Ang, melalui keterangan tertulis, Selasa (6/5/2025).

Akibatnya, lanjut dia, greenback menjadi apa yang disebut oleh pelaku pasar sebagai 'mata uang safe heaven', perlindungan bagi investor selama masa ketidakpastian makroekonomi atau gejolak pasar.

"Namun, belakangan ini, ketidakstabilan pasar keuangan global yang dipicu oleh kenaikan tarif perdagangan dan diperparah oleh ketakutan akan resesi global tampaknya telah mengguncang narasi ini, melemahkan peran lama dolar," terang Kar Yong Ang.

 

Adanya Ketegangan Perdagangan

Menurut Kar Yong Ang, Dolar AS telah terdepresiasi hampir tanpa henti sejak pertengahan Januari. Dalam 3,5 bulan saja, Indeks Dolar (DXY) yang mengukur nilai greenback relatif terhadap kelompok enam mata uang asing utama, termasuk euro, yen Jepang, poundsterling Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss, kehilangan lebih dari 10% nilainya (dari level tertinggi 13 Januari hingga terendah 21 April).

"Pada tanggal 11 April, nilainya tembus batas kritis 100,00, dan meskipun telah meningkat sedikit setelahnya, dolar AS tetap menjadi mata uang berkinerja terburuk di antara mata uang major lainnya sejauh ini tahun ini. Penurunan ini telah menimbulkan pertanyaan penting, apakah dolar AS kehilangan status safe haaven-nya atau ini hanya kemunduran sementara?," kata dia.

Kar Yong Ang mengatakan, pemacu penurunan dolar berakar pada meningkatnya ketegangan perdagangan, terutama kebijakan tarif agresif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump.

Dia menyebut, dalam beberapa minggu terakhir, AS memberlakukan tarif dasar 10% pada semua impor, dengan tarif yang jauh lebih curam dikenakan pada mitra dagang utama seperti Tiongkok, yang kemudian membalas dengan tarif 125% pada barang-barang AS.

"Langkah-langkah ini telah memicu ketakutan akan resesi global, karena rantai pasokan internasional mungkin terganggu dengan konsekuensi yang berpotensi menghancurkan bagi ekonomi dunia," kata Kar Yong Ang.

"Secara historis, ketidakpastian semacam itu akan memperkuat dolar, ketika investor mencari perlindungan di aset AS. Namun, kali ini, greenback melemah, sementara mata uang safe haven alternatif seperti franc Swiss (CHF) dan yen Jepang (JPY) menguat," sambung dia.

 

Kelemahan Dolar AS

Kar Yong Ang mengatakan, kelemahan dolar AS baru-baru ini didorong oleh pergeseran diversifikasi di antara investor ke mata uang safe haven alternatif, didorong oleh lindung nilai risiko dan kekhawatiran akan prospek pertumbuhan ekonomi AS.

"Kita sedang menyaksikan peralihan modal besar-besaran. Pelaku pasar menyadari bahwa dalam perang dagang, tidak ada pemenang. Dalam jangka pendek, ekonomi AS akan menghadapi konsekuensinya, yang tidak akan bagus," kata dia.

"Pemain besar dengan investasi besar di AS menyadari mereka perlu melindungi risiko mata uang mereka, jadi mereka beralih ke franc Swiss dan yen Jepang. Juga, tarif yang lebih tinggi meningkatkan ketakutan akan resesi, sehingga trader meningkatkan taruhan mereka pada penurunan suku bunga tambahan oleh Fed [Federal Reserve]. Hal itu juga berdampak buruk pada greenback'," sambung Kar Yong Ang.

Dia menjelaskan, pada 21 April, USDCHF turun dibawah angka 0.80500, level yang belum pernah terlihat dalam hampir 14 tahun. Sementara, kata Kar Yong Ang, USDJPY melayang di dekat area kritis 140,00, di mana, penurunan dibawahnya akan membuka jalan menuju posisi terendah baru dalam beberapa tahun.

"Perubahan signifikan dalam alokasi arus modal mendorong beberapa analis menyimpulkan bahwa dolar AS menghadapi krisis kepercayaan. Namun, analis Octa memiliki pandangan berbeda dan percaya bahwa situasi saat ini tidak mencerminkan erosi luas dari kepercayaan jangka panjang investor pada dolar AS," terang dia.

Kar Yong Ang mengatakan, masalahnya bukanlah hilangnya kepercayaan yang mendasar pada prospek jangka panjang dolar AS.

"Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah respons dramatis tetapi logis terhadap kemungkinan dampak ekonomi dari kebijakan perdagangan Donald Trump. Anda memiliki pemerintahan, yang efektif mengatur ulang tatanan perdagangan global, yang tidak menyembunyikan ketidakpuasannya dengan Fed dan tampaknya percaya dolar melemah," papar dia.

"Jika Anda seorang investor asing di AS, Anda sama sekali tidak bisa tidak melindungi diri Anda dari risiko akhir-akhir ini. Namun, jangan lupakan juga bahwa greenback telah jatuh dari tingkat yang relatif tinggi, jadi memang sudah waktunya koreksi ke bawah yang sehat," sambung Kar Yong Ang.

Dengan kata lain, lanjut dia, penurunan baru-baru ini di dolar AS bukan fenomena yang tidak biasa atau anomali, justru cukup alami dan mungkin hanya terjadi sementara.

Bahkan, kata Kar Yong Ang, setelah penurunan 11% di tahun 2025, greenback masih berada sekitar 38% di atas level terendah historis yang ditetapkan pada tahun 2008. Selanjutnya, jelas bahwa begitu aktor global utama mengadopsi retorika diplomatik yang lebih damai dan terlibat dalam negosiasi perdagangan aktif, situasi akan segera normal kembali.

"Status dominan dolar untuk prospek jangka panjang dolar kemungkinan besar akan terus ditantang, tetapi tidak ada mata uang tunggal yang dapat mengambil mahkotanya untuk saat ini. Menurut Bank for International Settlements (BIS), dolar AS masih menyumbang hampir 88% dari transaksi internasional, dan dominasinya di pasar Forex tetap tak tertandingi, dengan volume trading harian melebihi yen atau franc," ucap dia.

"Menurut Dana Moneter Internasional (Inetrnational Monetary Fund atau IMF), lebih dari setengah (57,8%) dari $12,4 triliun cadangan devisa global berbentuk dolar AS. Oleh karena itu, meskipun greenback mungkin tidak menjadi tempat perlindungan otomatis seperti sebelumnya, perannya sebagai landasan Forex tetap berlanjut untuk saat ini," jelas Kar Yong Ang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6