Liputan6.com, Semarang - Wakil Ketua DPRD Kota Semarang dari Partai Gerindra, Joko Santoso, dilaporkan ke polisi oleh 2 anggota Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila. Dia dilaporkan karena diduga memukul 2 anggota Sapma PP tersebut.
Salah satu pelapor, Anggoro (29) mengaku dipukul ketua tim pemenangan pasangan calon walikota Semarang, Sigit-Agus tersebut. Saat itu, Joko tengah bersama Yuli, Ketua Pimpinan Anak Cabang Pemuda Pancasila (PP) Semarang Barat.
Anggoro melapor ke SPKT Polrestabes Semarang bersama 2 rekannya, Didik Prasetyo dan Zubaidi.
Menurut dia, peristiwa itu terjadi di halaman Balaikota Semarang usai penetapan pasangan calon walikota Senin 24 Agustus 2015. Dia tengah mengendarai Toyota Rush putih bernopol H 9223 DH untuk mengikuti rombongan mobil pendukung Soemarmo-Zubaer. Namun, dia terpisah dari rombongan. Saat itulah mobilnya dihentikan. Padahal, dia merasa tidak melakukan kesalahan.
"Tiba-tiba mobil dihentikan. Kaca mobil depan kiri diketok-ketok pakai akik. Itu masih ada bekas tangannya. Saya keluar langsung dipukul (oleh Joko) di wajah. Saya disuruh lepas baju (seragam Pemuda Pancasila). Anak buahnya Pak Joko (Yuli) mukul 3 kali perut dan dada," kata Anggoro, Selasa (25/8/2015).
Setelah itu, dia kembali masuk ke mobil dan berusaha keluar. Namun baru sampai gerbang, dia kembali dicegat dan Joko menarik pakaiannya lewat kaca mobil yang terbuka. Anggota polisi yang berjaga pun segera melakukan pengamanan.
"Saya dipukul. Saya berhenti, saksi banyak. Mobil saya juga ditendang," kata Anggoro.
Saat lapor ke SPKT, dia diminta petugas untuk melakukan visum. Anggoro langsung menuju RSUP dr Kariadi untuk menjalani visum.
"Saya sudah visum ini. Lukanya di sini sama di sini," kata Anggoro sambil menunjukkan lukanya.
Sementara itu 2 pelapor lainnya, Didik Prasetyo dan Zubaidi juga mengaku terkena amukan Joko. Saat keributan terjadi, keduanya berboncengan motor dan melewati terlapor. Saat itu, tangan terlapor memukul helm Zubaidi hingga kacanya retak.
Pengacara Anggoro, Rangkay Margana, menduga insiden tersebut terjadi karena kejengkelan Joko terhadap Pemuda Pancasila yang dukungannya pecah ke pasangan Soemarmo-Zuber. Terlebih, Joko merupakan ketua Pemuda Pancasila Semarang.
"Mungkin karena jengkel, Pemuda Pancasila banyak mendukung Soemarmo-Zuber, semacam kecemburuan," kata Rangkey.
Keduanya kini sudah resmi dilaporkan dalam satu berkas atas pasal 170 KUHP terkait dugaan tindak pidana penganiayaan. Laporan diterima petugas SPKT Polrestabes Semarang dengan nomor LP/B/643/VIII/2015/Jateng/Restabes.
Versi Berbeda
Sementara, Joko Santoso membantah memukul Anggoro. Namun, Joko mengaku sempat jengkel dengan dukungan dari anggota PP yang dukungannya berseberangan dengannya. Dia mengakui PP sebagai organisasi kemasyarakatan membebaskan anggotanya menentukan pilihan.
"Pemuda Pancasila tidak pecah. Pemuda Pancasila itu organisasi kemasyarakatan, kan punya hak politik. Teman-teman bebas mau coblos mana," kata Joko.
Versi Joko, saat peristiwa terjadi, dia berjalan di depan Toyota Rush putih bernopol H 9223 DH. Pengemudi mobil tersebut memainkan gasnya hingga memicu emosi. Saat Joko menengok pengemudinya, ternyata Anggoro yang memakai seragam PP doreng hitam oranye.
"Terkait masalah Anggoro, saya jalan di depan mobilnya. Saya sudah berbalik tapi dia masih mbleyer (memainkan gas). Dilihat ternyata anak Pemuda Pancasila soalnya pakai seragam. Saya kan ketua Pemuda Pancasila Kota Semarang," kata Joko.
Sebagai Ketua PP, Joko langsung menanyakan kartu anggota. Tenyata rentetan pertanyaan Joko tidak dijawab. Dia mengakui saat itu meminta Anggoro untuk turun dari mobil.
"Saya ketok (kaca mobilnya), saya tanya anak mana tidak jawab, punya KTA atau tidak, juga enggak ngomong. Saya bilang 'mas, turun,'Â dia malah bentak-bentak," kata Joko.
Terkait pemukulan, Joko tetap membantah hal tersebut. Namun, dia siap mengikuti proses hukum yang ada jika memang ada pelaporan.
"Namanya juga laporan, biasa. Saya tidak pernah pukul. Ya, monggo ikuti proses hukum, kita warga negara Indonesia," kata Joko. (Bob/Yus)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3339591/original/000480600_1609737725-cek_fakta_ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329565/original/022781600_1787284896-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-21T105934.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307986/original/033339200_1785125047-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-27T110150.449.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5414739/original/008691500_1763347745-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-17T094821.756.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/661270/original/penganiayaan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343275/original/021528800_1788849717-pelajar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335704/original/018332800_1788051280-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_07.38.05.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325130/original/078478000_1786815055-1001558673.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320505/original/047824200_1786352992-polda_sumbar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288008/original/022814700_1783263849-6fe0d194-048e-42be-847d-26b13b1965eb.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287622/original/040825800_1783238624-WhatsApp_Image_2026-07-05_at_14.46.41.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8995470/original/071064800_1782992094-Baku_Pukul.jpg)