Liputan6.com, Jakarta: Asap membumbung tinggi dari sejumlah rumah dan toko di sekitar Pasar Gembrong, Kelurahan Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat. Tapi, penyebabnya bukanlah seperti kebakaran pada umumnya, melainkan sengaja dibakar sejumlah warga yang terlibat tawuran di daerah tersebut. Itu baru kebakaran. Sementara dampak lain bentrok antarwarga adalah jatuhnya korban jiwa. Gambaran tersebut benar-benar terjadi pada tawuran di daerah itu, Jumat (19/10), sekitar pukul 19.00 WIB, yang menewaskan Effendi Sitorus, 28 tahun. Bapak satu anak ini tewas tertembus peluru senapan angin di bagian dadanya.
Selain Effendi, ada Tri Priyatno dan Wawan. Dua warga setempat ini, masing-masing terkena peluru senapan angin di bagian dada dan cairan soda api di bagian wajahnya. Untungnya, nasib Tri lebih beruntung ketimbang Effendi. Betapa tidak, kendati sama-sama terkena mimis senapan angin, dokter yang menangani Tri berhasil mengoperasi dan menyelamatkan nyawanya. Namun lain halnya dengan Wawan. Padagang alat pertukangan keliling ini, sejak tawuran terjadi hanya bisa berdiam diri di rumah alias tak bisa keluar. Soalnya, sebagian tubuhnya, terutama wajah dan dada, rusak parah akibat cairan soda api. Di luar ketiga korban itu, masih banyak lagi korban yang berjatuhan. Tercatat, sejumlah korban lainnya dirawat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakpus. Sementara kerugian materi ditaksir mencapai jutaan rupiah lantaran tujuh toko dan empat rumah hangus terbakar. Belum lagi belasan rumah lainnya yang rusak terkena lemparan batu dari kedua pihak.
Sebenarnya, bentrokan antara warga Gang Intan dan Gembrong di Galur tersebut, hanya satu di antara sejumlah peristiwa serupa di Ibu Kota. Paling tidak, hal itu mereflesikan wujud budaya kekerasan yang kini merebak di mana-mana. Sejauh ini, faktor pemicunya, terkadang hanya masalah sepele, seperti rebutan lahan parkir atau karena tersinggung. Bahkan, menurut seorang warga, seringkali tawuran terjadi tanpa penyebab yang jelas. Tragisnya, masalah sepele itu mendadak menjelma menjadi pertikaian yang mengerikan. Tak puas dengan hanya melempar batu, para petarung dadakan itu kerap menggunakan peralatan yang lebih mematikan, seperti senjata tajam --golok, samurai, dan panah. Terkadang, mereka malah mempergunakan senapan angin dan senjata api rakitan. Belakangan, bom molotov kerap digunakan mereka.
Di wilayah Ibu Kota, tawuran antarwarga kerap terjadi, terutama di beberapa titik kawasan padat penduduk. Tengok saja, Kelurahan Manggarai dan Bukit Duri adalah satu wilayah di Jakarta Selatan yang terkenal dengan aktivitas itu. Sedangkan di Jakarta Timur, tawuran kerap terjadi di kawasan Matraman, Berlan, dan Kampung Palmeriam. Konflik serupa juga terjadi di Jakarta Barat. Kali ini melibatkan warga di daerah Cengkareng. Dari sekian banyak peristiwa serupa selama rentang Januari-Oktober 2001, tawuran di Matraman-lah yang paling sering terjadi.
Dari contoh-contoh tersebut, nampaknya banyak warga Ibu Kota yang tak berusaha menarik pelajaran. Padahal, setiap peristiwa tersebut banyak yang bisa diambil hikmahnya. Terutama, masyarakat yang terlibat bisa berkaca bahwa hal itu tak mendapatkan apa-apa, selain korban jiwa dan kerugian materi. Bahkan, mereka seakan melupakan sebuah pemeo yang menyatakan bahwa kalah jadi abu, menang jadi arang. Di sisi lain, setiap kali ada upaya penghentian tawuran seperti tak ada hasilnya. Buktinya, peristiwa serupa selalu berulang.
Menurut sosiolog perkotaan Universitas Indonesia Gumilar Soemantri, konflik antarwarga tersebut bukan masalah yang berdiri sendiri. Melainkan, ada faktor pemicu yang bersifat permanen, yaitu ketidakpuasan mereka --sebagian besar kaum miskin kota-- terhadap kebijakan pemerintah yang membuat jurang dalam antara kaya dan miskin. "Mereka frustasi dan menuntut negara bertanggung jawab atas polarisasi tersebut," ujar Gumilar. Namun, lantaran negara sulit terjangkau, akhirnya terimplementasikan dalam bentuk tawuran.
Gumilar menambahkan, kondisi tersebut juga diperparah dengan rendahnya kepercayaan warga terhadap penegakan hukum. Sehingga dipicu oleh masalah kecil pun, tawuran besar bisa terjadi. Untuk mengatasi ini, ia mengaku tak memiliki resep manjur, kecuali itikad baik dari dua warga yang bersangkutan dengan dibantu pihak berwenang lainnya. Dengan begitu, permasalahan dapat terurai bersama untuk diselesaikan. Sedangkan perbaikan dalam konteks makro adalah adalah pemberdayaan ekonomi bagi seluruh warga miskin. Alasan Gumilar, selama ini, fakta yang ada membuktikan bahwa semakin terpenuhi kebutuhan warga, semakin kecil angka tawuran antarwarga.
Sementara itu Kepala Dinas Penerang Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Anton Bachrul Alam mengakui, sejauh ini, upaya meredam konflik antarwarga belum sepenuhnya berhasil. Meski begitu, upaya tersebut tetap menjadi prioritas polisi. Apalagi keberhasilan seorang Kapolres di Jakarta, satu di antaranya dilihat dari upaya mengatasi konflik antarwarga di wilayahnya. "Yang kemarin di Galur itu, kita kecolongan," ungkap Anton.(SID)
Selain Effendi, ada Tri Priyatno dan Wawan. Dua warga setempat ini, masing-masing terkena peluru senapan angin di bagian dada dan cairan soda api di bagian wajahnya. Untungnya, nasib Tri lebih beruntung ketimbang Effendi. Betapa tidak, kendati sama-sama terkena mimis senapan angin, dokter yang menangani Tri berhasil mengoperasi dan menyelamatkan nyawanya. Namun lain halnya dengan Wawan. Padagang alat pertukangan keliling ini, sejak tawuran terjadi hanya bisa berdiam diri di rumah alias tak bisa keluar. Soalnya, sebagian tubuhnya, terutama wajah dan dada, rusak parah akibat cairan soda api. Di luar ketiga korban itu, masih banyak lagi korban yang berjatuhan. Tercatat, sejumlah korban lainnya dirawat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakpus. Sementara kerugian materi ditaksir mencapai jutaan rupiah lantaran tujuh toko dan empat rumah hangus terbakar. Belum lagi belasan rumah lainnya yang rusak terkena lemparan batu dari kedua pihak.
Sebenarnya, bentrokan antara warga Gang Intan dan Gembrong di Galur tersebut, hanya satu di antara sejumlah peristiwa serupa di Ibu Kota. Paling tidak, hal itu mereflesikan wujud budaya kekerasan yang kini merebak di mana-mana. Sejauh ini, faktor pemicunya, terkadang hanya masalah sepele, seperti rebutan lahan parkir atau karena tersinggung. Bahkan, menurut seorang warga, seringkali tawuran terjadi tanpa penyebab yang jelas. Tragisnya, masalah sepele itu mendadak menjelma menjadi pertikaian yang mengerikan. Tak puas dengan hanya melempar batu, para petarung dadakan itu kerap menggunakan peralatan yang lebih mematikan, seperti senjata tajam --golok, samurai, dan panah. Terkadang, mereka malah mempergunakan senapan angin dan senjata api rakitan. Belakangan, bom molotov kerap digunakan mereka.
Di wilayah Ibu Kota, tawuran antarwarga kerap terjadi, terutama di beberapa titik kawasan padat penduduk. Tengok saja, Kelurahan Manggarai dan Bukit Duri adalah satu wilayah di Jakarta Selatan yang terkenal dengan aktivitas itu. Sedangkan di Jakarta Timur, tawuran kerap terjadi di kawasan Matraman, Berlan, dan Kampung Palmeriam. Konflik serupa juga terjadi di Jakarta Barat. Kali ini melibatkan warga di daerah Cengkareng. Dari sekian banyak peristiwa serupa selama rentang Januari-Oktober 2001, tawuran di Matraman-lah yang paling sering terjadi.
Dari contoh-contoh tersebut, nampaknya banyak warga Ibu Kota yang tak berusaha menarik pelajaran. Padahal, setiap peristiwa tersebut banyak yang bisa diambil hikmahnya. Terutama, masyarakat yang terlibat bisa berkaca bahwa hal itu tak mendapatkan apa-apa, selain korban jiwa dan kerugian materi. Bahkan, mereka seakan melupakan sebuah pemeo yang menyatakan bahwa kalah jadi abu, menang jadi arang. Di sisi lain, setiap kali ada upaya penghentian tawuran seperti tak ada hasilnya. Buktinya, peristiwa serupa selalu berulang.
Menurut sosiolog perkotaan Universitas Indonesia Gumilar Soemantri, konflik antarwarga tersebut bukan masalah yang berdiri sendiri. Melainkan, ada faktor pemicu yang bersifat permanen, yaitu ketidakpuasan mereka --sebagian besar kaum miskin kota-- terhadap kebijakan pemerintah yang membuat jurang dalam antara kaya dan miskin. "Mereka frustasi dan menuntut negara bertanggung jawab atas polarisasi tersebut," ujar Gumilar. Namun, lantaran negara sulit terjangkau, akhirnya terimplementasikan dalam bentuk tawuran.
Gumilar menambahkan, kondisi tersebut juga diperparah dengan rendahnya kepercayaan warga terhadap penegakan hukum. Sehingga dipicu oleh masalah kecil pun, tawuran besar bisa terjadi. Untuk mengatasi ini, ia mengaku tak memiliki resep manjur, kecuali itikad baik dari dua warga yang bersangkutan dengan dibantu pihak berwenang lainnya. Dengan begitu, permasalahan dapat terurai bersama untuk diselesaikan. Sedangkan perbaikan dalam konteks makro adalah adalah pemberdayaan ekonomi bagi seluruh warga miskin. Alasan Gumilar, selama ini, fakta yang ada membuktikan bahwa semakin terpenuhi kebutuhan warga, semakin kecil angka tawuran antarwarga.
Sementara itu Kepala Dinas Penerang Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Anton Bachrul Alam mengakui, sejauh ini, upaya meredam konflik antarwarga belum sepenuhnya berhasil. Meski begitu, upaya tersebut tetap menjadi prioritas polisi. Apalagi keberhasilan seorang Kapolres di Jakarta, satu di antaranya dilihat dari upaya mengatasi konflik antarwarga di wilayahnya. "Yang kemarin di Galur itu, kita kecolongan," ungkap Anton.(SID)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5371798/original/091008600_1759721976-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__84_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340333/original/035396900_1788502118-cek_fakta_purbaya_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/361820/original/291001DerapTawuran.jpg)