Sukses

Antisipasi Banjir, Pemkot Bogor Membuat 5 Juta Lubang Biopori

Liputan6.com, Bogor - Untuk mengatasi bencana banjir dan longsor pada musim penghujan ini, Pemerintah Kota Bogor ‎membuat program 5 juta lubang biopori yang secara simbolis dilaksanakan hari ini dengan membuat 5 ribu terlebih dulu.

Secara serentak, pembuatan lubang biopori dilakukan di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan Pemuda. Jaraknya sekitar 3 kilometer.

Para relawan yang terdiri dari pihak Pemkot Bogor yang dibantu oleh TNI dan Polri serta masyarakat bergotong royong membuat lubang untuk penyerapan air tersebut.

Wakil Walikota Bogor, Usmar Hariman, mengatakan Pemkot Bogor telah mendeklarasikan pembuatan 1 juta lubang biopori pada 2014 lalu. Namun sepanjang 2014 baru mampu membuat 200 ribu.

"Untuk itu, sekarang dilanjutkan kembali dengan menambahkan target ditambah menjadi 5 juta lubang biopori yang harus sudah direalisasikan pada 2016," papar Usmar, Jumat (6/2/2015).

Senada dengan wakil walikota, Komandan Distrik Militer (Dandim)‎ 0606/Kota Bogor, Letkol ARS Rakhmat Santoso menyampaikan dukungannya untuk program pembuatan lubang 5 juta biopori yang melibatkan seluruh unsur TNI, Polri, dan masyarakat.

"Hari ini kita targetkan 5.000 lubang biopori sepanjang 3 kilometer sepanjang Jalan Sudirman, Jalan Pemuda hingga Warung Jambu. Diharapkan dengan pembuatan biopori di pinggir jalan ini bisa meningkatkan kesadaran soal pentingnya menjaga lingkungan untuk mencegah banjir," ungkapnya.

Menurut pakar biopori, Kamir. R. Brata mengatakan kegunaan lubang biopori dapat menyerap air untuk mencegah terjadinya banjir dan bencana longsor. "Sebab manusia itu menghasilkan sampah dan Tuhan mengirim hujan. Jika sampah menghalangi, maka air tidak bisa masuk ke tanah." kata Kamir.

"Untuk itu biopori membantu percepatan penyerapan tanah. Biopori juga menyebarkan air dengan merata tidak di bagian tertentu saja. Air harus diarahkan kepada lubang biopori," ungkap Kamir.

‎Idealnya, setiap rumah harua memiliki setidaknya 5 lubang biopori. Jadi resapan tanah dan pembuangan air menjadi teratur. "Jumlah 5 juta dinilai masih sedikit. Jakarta saja harus membutuhkan 76 juta lubang biopori. Yang penting itu harus ada upaya pemeliharaan lubang tersebut," pungkas dia. (Tnt/Yus)

Loading