Jaranan Turonggo Maskot Masyarakat Trenggalek

Tari Jaranan turonggo yakso akan menjadi maskot bagi masyarakat Trenggalek, Jawa Timur. Tarian itu kerap difestivalkan, baik di tingkat nasional maupun regional.

Diterbitkan 21 Agustus 2001, 18:04 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Trenggalek: Pemerintah Daerah Trenggalek, Jawa Timur, mengadakan festival tari jaranan turronggo yakso. Festival itu untuk melestarikan budaya tari jaranan yang kini mulai kehilangan peminat. Menurut rencana, Pemda setempat akan menjadikan tari jaranan sebagai maskot Kabupaten Trenggalek dan dipatenkan sebagai tari daerah pada saat hari jadi kabupaten itu, 31 Agustus mendatang.

Menurut Bupati Trenggalek Mulyadi, baru-baru ini, tari jaranan turronggo yakso telah dikenal penduduk setempat sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Biasanya, tarian jaranan dilakukan saat upacara ritual Baritan atau bubar ngarit tanduran (ucapan rasa syukur saat masa panen tiba). Tarian turronggo telah sering difestivalkan, baik di nasional maupun regional.

Seorang tokoh kesenian Trenggalek Mudimah menceritakan, tarian jaranan muncul saat terjadi malapetaka, yakni kematian hewan ternak dan tanaman petani. Untuk mendapatkan berkah --sekaligus mengatasi malapetaka-- seorang kesatria bertapa di Gua Turranggo Yakso.

Setelah bertapa, kesatria itu mendapat wangsit. Ia diminta merendam kuda raksasa di suatu kubangan air. Selanjutnya, air itu diminumkan pada hewan ternak yang sakit dan disiramkan pada sawah yang rusak. Upaya itu membuahkan hasil. Supaya tak terjadi musibah serupa dan memperingati keberhasilan tersebut, kesatria meminta warga terus melanjutkan tradisi itu setiap 1 Syuro. Menurut Mudimah, turronggo itu berarti kuda. Sedangkan Yakso adalah buto atau raksasa. Gabungan dua kata itu bermakna seorang kesatria bijaksana yang mengendalikan seekor hewan raksasa.(ULF/Agus Ainul Yaqin dan Danang Sumirat)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6