Sukses

Kantor Jaringan Islam Liberal Dijaga Ketat

Liputan6.com, Jakarta: Halaman muka Kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di kawasan Jalan Utan Kayu, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur, dipenuhi sekitar 500 personel dari Kepolisian Resor Jaktim dan Kepolisian Metro Jaya. Sekitar 50 orang anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama juga terlihat berjaga-jaga. Penjagaan ketat berlangsung sejak Jumat (5/8) siang hingga petang tadi.

Banyaknya petugas keamanan yang dikerahkan menyusul adanya isu penyerangan oleh Forum Umat Islam ke Kantor JIL usai salat Jumat [baca: Forum Umat Islam Mendukung Fatwa MUI]. Massa yang akan menyerang Kantor JIL adalah pendukung fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dengan pelarangan penyebaran ajaran Ahmadiyah di Tanah Air. Terlebih, Ketua JIL Ulil Abshar-Abdalla selama ini memang dikenal sebagai kelompok yang cukup kritis menyikapi fatwa MUI tersebut.

Jalan masuk kantor JIL pun ditutup aparat keamanan sejak pukul 16.00 WIB untuk mengantisipasi kemungkinan kelompok massa yang mencoba masuk ke area kantor. Para anggota Banser NU mengaku, langkah pengamanan dilakukan atas perintah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Hingga petang ini, isu terjadinya penyerangan ternyata tidak terbukti. Sekelompok massa dari Front Pembela Islam yang rencananya juga mendatangi Kantor JIL mengurungkan niatnya. Alhasil kericuhan pun dapat dihindari.

Upaya memberi perlindungan keamanan terhadap jemaat Ahmadiyah juga datang dari kubu Gus Dur. Ratusan anggota Satuan Tugas Garda Bangsa mulai berlatih. Para personel mendapat gemblengan fisik dan pengarahan. Latihan dilakukan menyusul adanya perintah Ketua Umum Dewan Syuro itu untuk membuka kembali setiap masjid Ahmadiyah yang sempat ditutup [baca: Gus Dur Meminta Masjid Milik Ahmadiyah Dibuka]. Hal itu diungkapkan Ketua Dewa Pengurus Nasional Garda Bangsa Imam Nahrawi di kesempatan sebelumnya.

Menurut Fuad Anwar, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa Jawa Timur versi Muhaimin Iskandar, kegiatan tersebut bukan berarti setuju terhadap ajaran Ahmadiyah. Fuad mengatakan, upaya itu dilakukan sebagai pernyataan sikap keberatan terhadap segala tindakan anarkis. "Prinsipnya, kalo Ahmadiyah dianggap salah bukan seperti itu cara penanganannya," kata Fuad.

Sementara itu aktivitas pengikut Ahmadiyah di Yogyakarta berlangsung aman. Mereka tetap menjalankan salat Jumat di Masjid Fadhli Umar, Kota Yogyakarta. Meski aman, jumlah jemaat yang hadir sedikit berkurang dibanding hari lain. Tampaknya sebagian jemaat berusaha menghindari timbulnya aksi warga sehubungan dengan fatwa MUI.

Pemandangan serupa bisa dilihat di Masjid Ahmadiyah di kawasan Jalan Balikpapan, Jakarta Pusat, usai salat Jumat. Kekhawatiran terjadinya bentrokan tak terjadi. Sebab, ketika didatangi, jemaat Ahmadiyah tak ada di tempat. Adapun papan nama yang berada di depan masjid pun sudah diturunkan. Sejumlah polisi terlihat berjaga-jaga.

Di Bogor, Jawa Barat, siang tadi, sejumlah anggota FPI mendatangi Yayasan Ahmadiyah. Tak lama, mereka langsung meninggalkan yayasan yang berlokasi di Parung, Bogor. Di sana tidak ditemukan adanya kegiatan yang dilakukan jemaat Ahmadiyah. Hingga siang tadi, lokasi masih ditutup.

Meski demikian, puluhan petugas dari Kepolisian Resor Bogor terlihat menjaga kompleks yayasan. Di sana cuma tampak beberapa karyawan yang bertugas membersihkan dan merawat bangunan.

Jemaat Ahmadiyah di Kediri, Jawa Timur juga menjalankan salat Jumat dengan aman. Tidak ada gangguan berarti dalam proses peribadatan ini. Sejumlah jemaah mengaku, masih tenang menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi Kantor Jemaat Ahmadiyah di Kediri sejauh ini terlihat masih utuh. Papan nama kantor itu masih terpampang jelas di depannya.

Di Cirebon, Jabar, pascapenyegelan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kuningan, 29 Juli silam, sejumlah anggota Jemaat Ahmadiyah di Desa Manis Lor, menggelar salat Jumat di rumah masing-masing. Itupun, dijaga sejumlah polisi.

Begitu juga di Semarang, Jawa Tengah, salat Jumat di Masjid Ahmadiyah yang menjadi Sekretariat Jemaat Ahmadiyah Semarang terasa menegangkan. Bahkan, dalam khotbahnya khotib menyampaikan kabar akan ada penyegelan seusai salat Jumat. Karena itu, mereka diminta tenang karena sudah ada jaminan keamanan dari polisi. Di luar masjid, tiga truk anggota polisi bersiaga mencegah penyerangan dari pihak yang menentang ajaran Ahmadiyah. Untuk menghindari benturan massa, pintu pagar juga dirantai.

Terkait dengan fatwa MUI, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh turut angkat bicara. Ia meminta kepada semua pihak tidak menimbulkan kekisruhan di kalangan umat dalam menyikapi fatwa MUI tentang pelarangan ajaran Ahmadiyah. Saleh mengatakan, dirinya masih akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk MUI untuk memperjelas maksud nasihat itu. "Masalah nanti pengadilan mau menghukum atau tidak itu kan urusan pengadilan. Tapi tidak ada orang yang boleh mengklaim sebebas-bebasnya," ujar Abdul Rahman.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)