Liputan6.com, Jakarta: Lebih dari 100 siswa tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah luar biasa (SLB) mengikuti lomba menggambar dengan tajuk "Kotaku Bersih dan Hijau" di Jakarta, Ahad (5/6). Lomba untuk menanamkan sikap peduli lingkungan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Ironisnya, Hari Lingkungan Hidup Sedunia kali ini sepi dari kegiatan bersih-bersih lingkungan.
Lomba menggambar Pekan Lingkungan Hidup ini diikuti lebih dari 100 anak-anak SD, mulai kelas satu sampai kelas enam serta 16 peserta dari SLB se-Jabotabek dan beberapa kota lainnya. Para peserta diberi waktu selama dua jam untuk menggambar objek yang berhubungan dengan lingkungan.
Umumnya peserta menggambarkan lingkungan yang hijau dengan pepohonan yang rimbun sesuai harapan mereka atas kondisi Ibu Kota. Maklum kondisi Jakarta saat ini masih kotor dengan polusi dan sampah. Tapi ada seorang peserta lain, Aulia, dari Tanjungpinang, Riau, menyatakan Jakarta bebas dari sampah, khususnya di jalan tol. "Ya, [keadaan itu] terlihat di pinggir-pinggir jalan tol sana," ucap Aulia yang baru pertama kali ke Jakarta ini.
Selain mendapatkan hadiah berupa tabungan dan piala, karya anak-anak bangsa ini nantinya akan dijadikan gambar pada kalender Kementerian Lingkungan Hidup 2006. Seluruh peserta juga akan diberikan tanaman sebagai tanda lingkungan hidup sehat.
Penilaian Aulia tadi boleh jadi ungkapan polos seorang bocah. Tapi bisa juga sindiran halus atas kondisi sebenarnya Ibu Kota. Sebab berbagai sudut Jakarta, termasuk di Jalan Veteran di depan Istana Negara dan Bina Graha masih tampak kotor dan berdebu. Belum lagi aliran Sungai Ciliwung yang hitam dipenuhi berbagai sampah. Tak mengherankan, jika Jakarta rawan banjir setiap kali hujan deras.
Di sepanjang aliran Sungai Ciliwung terdapat beberapa pelang yang bertuliskan: Kali Percontohan. Seharusnya dengan sebutan itu kondisi kali minimal bersih dari sampah yang berserakan. Tapi tidak demikian kenyataannya. Aliran Sungai Ciliwung di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, misalnya. Kondisinya lebih mengenaskan. Permukaan air terlihat lebih tinggi karena menebalnya dasar kali dari genangan lumpur.
Kesadaran warga menjadi faktor utama selain otoritas pemerintah daerah dalam membangun kota yang bersih dan hijau. Tentu ini menunjukkan kota yang bersih dan hijau masih jauh dari harapan anak-anak SD sebagai generasi muda tadi.(DEN/Tommy Fadjar dan Budi Sukmadianto)
Lomba menggambar Pekan Lingkungan Hidup ini diikuti lebih dari 100 anak-anak SD, mulai kelas satu sampai kelas enam serta 16 peserta dari SLB se-Jabotabek dan beberapa kota lainnya. Para peserta diberi waktu selama dua jam untuk menggambar objek yang berhubungan dengan lingkungan.
Umumnya peserta menggambarkan lingkungan yang hijau dengan pepohonan yang rimbun sesuai harapan mereka atas kondisi Ibu Kota. Maklum kondisi Jakarta saat ini masih kotor dengan polusi dan sampah. Tapi ada seorang peserta lain, Aulia, dari Tanjungpinang, Riau, menyatakan Jakarta bebas dari sampah, khususnya di jalan tol. "Ya, [keadaan itu] terlihat di pinggir-pinggir jalan tol sana," ucap Aulia yang baru pertama kali ke Jakarta ini.
Selain mendapatkan hadiah berupa tabungan dan piala, karya anak-anak bangsa ini nantinya akan dijadikan gambar pada kalender Kementerian Lingkungan Hidup 2006. Seluruh peserta juga akan diberikan tanaman sebagai tanda lingkungan hidup sehat.
Penilaian Aulia tadi boleh jadi ungkapan polos seorang bocah. Tapi bisa juga sindiran halus atas kondisi sebenarnya Ibu Kota. Sebab berbagai sudut Jakarta, termasuk di Jalan Veteran di depan Istana Negara dan Bina Graha masih tampak kotor dan berdebu. Belum lagi aliran Sungai Ciliwung yang hitam dipenuhi berbagai sampah. Tak mengherankan, jika Jakarta rawan banjir setiap kali hujan deras.
Di sepanjang aliran Sungai Ciliwung terdapat beberapa pelang yang bertuliskan: Kali Percontohan. Seharusnya dengan sebutan itu kondisi kali minimal bersih dari sampah yang berserakan. Tapi tidak demikian kenyataannya. Aliran Sungai Ciliwung di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, misalnya. Kondisinya lebih mengenaskan. Permukaan air terlihat lebih tinggi karena menebalnya dasar kali dari genangan lumpur.
Kesadaran warga menjadi faktor utama selain otoritas pemerintah daerah dalam membangun kota yang bersih dan hijau. Tentu ini menunjukkan kota yang bersih dan hijau masih jauh dari harapan anak-anak SD sebagai generasi muda tadi.(DEN/Tommy Fadjar dan Budi Sukmadianto)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3372858/original/061241900_1612917784-Vaksin-Nakes-Lansia1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317472/original/091873000_1786014229-IMG_3312.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320374/original/084584100_1786347702-Screenshot_2026-08-10_130418.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307902/original/001690200_1785120590-Pjs_Gubernur_BI_Destry_Destry_Damayanti-27_Juli_2026d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/439484/original/060605aHariLingkungan.jpg)