Pertemuan Bilateral Indonesia-Malaysia Gagal Digelar

Presiden SBY optimistis pertemuan sejumlah negara sahabat di sela-sela KTT AA akan menghasilkan kerja sama konkret antarkedua negara, terutama di bidang ekonomi. Pertemuan bilateral Indonesia-Malaysia gagal.

Diterbitkan 24 April 2005, 08:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis pertemuan sejumlah negara sahabat di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT AA) akan menghasilkan kerja sama konkret antarkedua negara, terutama di bidang ekonomi. "Detail dari itu [pertemuan bilateral] bisa diketahui lewat menteri-menteri yang mendampingi saya dalam pertemuan itu," kata Presiden SBY usai menutup KTT AA di Jakarta, Sabtu (23/4) [baca: KAA Resmi Ditutup].

Hingga hari terakhir pelaksanaan KTT AA, Yudhoyono masih menyempatkan diri melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin negara. Antara lain Myanmar, Vietnam, dan Vanuatu. Pertemuan umumnya membahas lebih lanjut bentuk kerja sama, terutama di bidang politik dan ekonomi. Sementara rencana pertemuan antara SBY dan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi gagal dilangsungkan. Menurut Juru Bicara Kepresidenan Dino Pati Djalal, pertemuan bilateral Indonesia-Malaysia tak dapat dilaksanakan karena belum ada kecocokan jadwal.

Kemarin malam, Presiden Cina Hu Jintao dan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi juga sempat membahas konflik di antara negara mereka. Dalam pertemuan tertutup selama 30 menit, pemerintah Cina mengajukan lima tuntutan kepada pemerintahan Koizumi. Di antaranya meminta Tokyo mematuhi Deklarasi Jepang yang telah disetujui kedua negara, mengakui Satu Cina, tak mengakui kemerdekaan Taiwan, serta berusaha membangun kembali hubungan kedua negara yang kurang harmonis.

Pemerintah Jepang sejauh ini belum memberikan jawaban atas tuntutan yang diajukan Cina. Sebenarnya, kedua pemimpin negara ini pernah bertemu dan membicarakan hal itu di Santiago, Cile. Namun, belum dibahas hingga detail. Ketidakharmonisan hubungan Tokyo dan Beijing karena perselisihan gas alam di Laut Cina Timur. Selain itu, ketegangan juga dipicu sikap pemerintah Negeri Matahari Terbit yang tidak memasukkan riwayat sejarah pernah menjajah Cina dalam buku sejarah yang diterbitkan pemerintah Jepang [baca: Jepang Berniat Mengeksplorasi Gas di Daerah Sengketa].(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6