Cegah Wabah Virus Nipah, Thailand Perketat Pemeriksaan Kesehatan Pelancong dari India di Bandara-Bandara

Wabah virus Nipah merebak di Benggala Barat, India. Thailand yang rutin melayani penerbangan dari India tak mau kecolongan dengan memperketat pemeriksaan kesehatan.

Diterbitkan 26 Januari 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menyusul wabah virus Nipah merebak di Benggala Barat, Thailand memperketat pemeriksaan kesehatan seluruh pelancong yang tiba dari India di bandara-bandara internasional mereka. Hingga saat ini, Thailand belum melaporkan kasus nipah di negaranya.

Meski begitu, Departemen Pengendalian Penyakit memberlakukan pengawasan ketat di terminal kedatangan internasional. Sejauh ini, tercatat Bandara Internasional Phuket, Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok, Bandara Chiang Mai, dan Bandara Internasional Don Mueang telah meluncurkan protokol pemeriksaan penumpang yang tiba dari daerah terdampak.

Pelaksanaannya melibatkan petugas kesehatan, imigrasi, dan bandara. Tujuannya adalah untuk mencegah potensi penyebaran virus Nipah di Thailand. Mengutip The Thaiger, Senin (26/1/2026), Direktur Bandara Suvarnabhumi Kittipong Kittikhajorn menyampaikan bahwa pihaknya sedang menyiapkan pos pemeriksaan dan telah memulai pemeriksaan acak pada kedatangan dari kota-kota berisiko tinggi di India. 

Bandara Chiang Mai juga telah menerapkan pemeriksaan suhu menggunakan alat pemindai termal, mendistribusikan kartu informasi kesehatan, dan meningkatkan pemeriksaan riwayat perjalanan, bahkan tanpa penerbangan langsung dari India. Direktur Bandara Karn Thanakuljirapath mengonfirmasi rencana telah disusun untuk mengisolasi dan memindahkan penumpang yang menunjukkan gejala.

Di Phuket, Otoritas Bandara (PHA) bekerja sama dengan petugas pengendalian penyakit, imigrasi, bea cukai, dan polisi pariwisata untuk menerapkan pengawasan ketat. Langkah-langkah tersebut serupa dengan yang digunakan selama pandemi COVID-19, khususnya di terminal internasional.

Phuket saat ini menerima 13 penerbangan langsung setiap hari dari India, termasuk lima penerbangan mingguan dari Kolkata, Benggala Barat, masing-masing membawa sekitar 165 penumpang, menurut ThaiRath.

Masyarakat Diminta Tetap Tenang

Titik pemeriksaan yang ditargetkan kini telah diberlakukan. Today News melaporkan bahwa siklus pembersihan dan sanitasi terminal telah ditingkatkan, terutama di sekitar permukaan yang sering disentuh.

Departemen Pengendalian Penyakit terus mendesak masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti pembaruan resmi, dan menghindari informasi yang salah. Pihak berwenang menegaskan kembali kesiapan mereka untuk meningkatkan langkah-langkah jika diperlukan untuk memastikan keselamatan kesehatan masyarakat.

Sebelumnya, Departemen Pengendalian Penyakit (DDC) Thailand telah mengeluarkan peringatan publik mengenai virus Nipah pada Jumat, 23 Januari 2026. DDC mengonfirmasi di laman Facebook-nya bahwa mereka memantau situasi dengan cermat dan mempercepat koordinasi dengan jaringan One Health. Tujuannya adalah untuk mendeteksi potensi kasus sejak dini dan mencegah penularan antar-spesies.

Sekilas tentang Virus Nipah

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus Nipah adalah penyakit zoonosis yang dapat menyebar ke manusia melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, makanan yang terkontaminasi, atau langsung dari orang ke orang. Kelelawar buah dari famili Pteropodidae, terutama yang termasuk dalam genus Pteropus, adalah inang alami virus tersebut.

WHO juga mencatat bahwa buah atau getah yang terkontaminasi air liur atau urin kelelawar kemungkinan besar menjadi sumber beberapa wabah di Asia Selatan dan Tenggara. Infeksi virus Nipah pada manusia dapat berkisar dari tidak menunjukkan gejala sama sekali hingga menyebabkan penyakit pernapasan yang parah atau bahkan ensefalitis fatal, peradangan otak yang dapat menyebabkan koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan muntah, yang dapat meningkat menjadi kebingungan, kantuk, dan kejang. Hingga 20 persen penyintas menderita efek neurologis jangka panjang.

Risiko Kematian Akibat Virus Nipah Tinggi

Tingkat kematian akibat virus Nipah berkisar antara 40 persen hingga 75 persen, tergantung pada akses layanan kesehatan dan respons terhadap wabah. Saat ini belum ada vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui. Pengobatan hanya berfokus pada pengelolaan gejala dan memberikan perawatan intensif untuk komplikasi pernapasan atau otak yang parah.

Penularan dari manusia ke manusia telah didokumentasikan, terutama di lingkungan perawatan kesehatan dan di antara para pengasuh. Selama wabah sebelumnya di Siliguri, India, 75 persen kasus terkait dengan penularan di rumah sakit.

Meskipun Thailand belum pernah mengalami wabah yang tercatat, WHO telah mencatat bukti adanya antibodi virus Nipah pada kelelawar buah dari genus Pteropus di Thailand, yang menunjukkan bahwa virus tersebut ada di satwa liar negara itu.