Pria Ramai-ramai Ganti ke Celana Dalam Berbahan Organik demi Kesuburan, Apa Kata Ahli?

Makin banyak pria memutuskan mengganti celana dalam poliester mereka dengan bahan organik. Apa benar bisa berdampak positif pada kesuburan pria?

Diterbitkan 27 Januari 2026, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada tren baru berkembang di antara pria. Muncul gerakan mengganti celana dalam dan pakaian dalam mereka dari poliester ke bahan organik, seperti katun dan wol. Ada apa?

Menurut laporan The Wall Street Journal, dikutip dari NY Post, Senin, 26 Januari 2026, gerakan tersebut ternyata dipicu akan kekhawatiran dampak penggunaan mikroplastik, 'bahan kimia abadi', dan potensinya dalam menyebabkan infertilitas. Studi terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik—yang paling sering ditemukan di lingkungan, udara, air, dan makanan—dapat membawa polutan ke organ manusia dan menyebabkan komplikasi kesehatan, seperti kanker, peradangan, masalah kardiovaskular, dan kerusakan sel.

Kekhawatiran ini juga dipicu percakapan di media sosial dan podcast. Paul Turek, seorang ahli urologi reproduksi dan ahli bedah mikro di California, mengatakan kepada Journal bahwa 'percakapan tentang mikroplastik kini terus berlanjut'. Meskipun menyarankan pasiennya untuk mengurangi paparan plastik, Turek mengaku belum melihat penelitian yang memvalidasi kekhawatiran ini.

Jaime Knopman, direktur pelestarian kesuburan di CCRM Fertility New York dan penulis buku “Own Your Fertility,” mengatakan kepada Fox News Digital, 'secara teoritis', mengenakan celana dalam ketat dapat menimbulkan risiko kesuburan, tetapi bukan hanya karena bahannya.

"Meskipun perubahan pakaian dalam dapat membantu meningkatkan kesuburan, hal itu jarang menjadi satu-satunya penyebab infertilitas. Ukuran yang ketat dapat meningkatkan suhu testis pria, yang dapat mengurangi kualitas dan kuantitas sperma, menyebabkan penurunan kesuburan," katanya.

 

Khawatirkan Dampak Pakaian Dalam Ketat daripada Semata Bahannya

"Namun, dalam pengalaman saya, saya belum menemukan korelasi langsung antara mengenakan celana dalam ketat dan kesuburan pasien," kata Knopman seraya menambahkan bahwa dia belum melihat perubahan pada pasien yang telah mengganti bahan atau gaya pakaian dalam mereka.

Terpisah, dalam sebuah wawancara dengan Fox News Digital, Alex Robles dari Columbia University Fertility Center di New York menyatakan 'tidak ada bukti kuat bahwa jenis kain tertentu saja memiliki dampak yang berarti pada kesuburan pria'.

"Meskipun demikian, suhu skrotum yang lebih tinggi dari sumber apa pun (paparan panas, pakaian ketat, duduk atau bersepeda dalam waktu lama) telah dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma dalam beberapa penelitian," katanya.

"Mengganti pakaian dalam saja jarang menyebabkan perubahan yang berarti pada kesuburan. Namun, beberapa pria mungkin melihat sedikit peningkatan kualitas sperma jika mereka beralih dari gaya yang sangat ketat yang meningkatkan produksi dan retensi panas."

 

Masalah Kesuburan Bukan Hanya Urusan Wanita

Jika pasien pria memiliki analisis semen yang abnormal, kata Knopman, ia selalu menyarankan untuk melakukan beberapa modifikasi gaya hidup untuk meningkatkan kesehatan sperma, termasuk tidur, diet, dan olahraga, selain berkonsultasi dengan ahli urologi.

"Mengganti pakaian dalam tidak ada salahnya, tetapi hampir tidak mungkin untuk menentukan apakah analisis semen tidak normal karena pilihan pakaian dalam pria," katanya. "Karena itu, meskipun perubahan pakaian dalam dapat membantu meningkatkan kesuburan, itu jarang menjadi satu-satunya penyebab infertilitas."  

Knopman menekankan bahwa kesuburan 'bukan hanya masalah wanita' dan bahwa modifikasi dalam pilihan gaya hidup harus berlaku untuk pria dan wanita.

"Jika pasien pria memberi tahu saya bahwa ia bersepeda selama dua jam sehari atau menghabiskan satu jam di bak mandi air panas, saya akan menyuruhnya untuk menghentikan itu," katanya. "Meskipun mungkin bukan alasan masalah spermanya, memodifikasi gaya hidupnya tidak ada salahnya."

 

Penyebab Utama Kesuburan Pria Menurun

"Seperti yang selalu saya katakan kepada pasien wanita saya, 'Anda tidak bisa menyalahkan diri sendiri atas infertilitas Anda'," tambahnya. "Sebagian besar kebiasaan dalam hidup tidak masalah selama dilakukan secukupnya."

Robles menyarankan pria untuk memilih pakaian dalam yang nyaman dan tidak ketat, menghindari paparan panas yang berlebihan, meningkatkan variasi makanan, dan mengurangi paparan racun, termasuk merokok dan konsumsi alkohol berlebihan.

"Penyebab utama penurunan kesuburan pria adalah usia, obesitas, merokok, paparan panas, racun lingkungan, dan kondisi medis yang mendasarinya," katanya. "Jika Anda mengalami masalah kesuburan, saya sarankan untuk berkonsultasi dengan spesialis kesuburan."

Sementara, Prancis resmi melarang produksi dan penjualan produk kosmetik dan sebagian besar pakaian mengandung 'bahan kimia abadi' mulai Kamis, 1 Januari 2026. Bahan kimia abadi merupakan sebutan populer untuk senyawa per- dan polifluoroalkil (PFAS) yang digunakan sejak akhir 1940an. Julukan abadi itu diberikan karena sifatnya yang sangat lama terurai di tanah.