Liputan6.com, Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhir, video tentang makan siang sekolah di Korea Selatan menjadi fenomena global. Hidangan bergizi, beragam, dan disediakan secara gratis oleh pemerintah membuat banyak orang di media sosial kagum.
Melansir Korea Times, Selasa, 23 September 2025, komentar seperti "Makan siang terbaik yang pernah saya lihat!" atau "Kenapa di Amerika tidak ada yang seperti ini?" kerap muncul di bawah unggahan yang ditonton jutaan kali. Menu seperti udang goreng dengan saus tartar, nasi goreng telur, sup mi daging sapi, salad mangga-stroberi, kimchi, acar lobak, hingga es krim cokelat sering mendapat pujian.
Di balik tampilan menggoda selera itu terdapat kisah yang jarang terdengar, yakni nasib para pekerja dapur sekolah. Mereka mayoritas perempuan berusia 40 hingga 50-an tahun, bekerja keras dalam kondisi berat dengan upah minim. Mereka adalah tulang punggung program makan siang gratis, tetapi kontribusi mereka jarang diakui dan kondisi kerja mereka jarang menjadi perhatian publik.
Advertisement
Realitas Pahit di Balik Popularitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359160/original/036337500_1758622268-pexels-mike-van-schoonderwalt-1884800-5506019.jpg)
Pujian terhadap makan siang sekolah Korea memang berlimpah, tetapi persiapan setiap hidangan adalah pekerjaan melelahkan. Para pekerja harus mengupas, memotong, dan menyiapkan bahan dalam jumlah besar setiap hari. Beban kerja mereka bisa dua hingga tiga kali lipat dibandingkan kantin perusahaan.
Banyak di antara mereka mengalami gangguan muskuloskeletal, deformitas tangan, radang sendi, serta rasa sakit kronis. Tingkat kecelakaan kerja pun tercatat enam kali lebih tinggi dari rata-rata nasional, mulai dari luka bakar, tergelincir, hingga kelelahan akibat panas. Namun ancaman terburuk justru datang dari asap minyak goreng.
Paparan bertahun-tahun terhadap zat beracun ini tanpa perlindungan memadai menyebabkan ribuan pekerja mengalami gangguan pernapasan, bahkan kanker paru. Pemeriksaan terhadap 42.077 pekerja dapur sekolah menemukan sekitar sepertiganya bermasalah dengan paru-paru. Sekitar 170 orang saat ini diakui secara resmi menderita kanker paru akibat paparan asap, meski kelompok advokasi menilai jumlah sebenarnya jauh lebih besar.
Advertisement
Dampak Kesehatan dan Minimnya Perlindungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359161/original/064802400_1758622271-pexels-theshuttervision-12835289.jpg)
Dalam tiga tahun terakhir saja, sedikitnya 14 pekerja dapur sekolah meninggal akibat kanker paru. Banyak lainnya bertahan dengan penyakit kronis tanpa pengakuan hukum sebagai korban kecelakaan kerja.
Seorang aktivis sekaligus pekerja dapur, Park Mi-Hyang, menegaskan, "Makan siang sekolah gratis kelas dunia yang dinikmati masyarakat Korea Selatan hari ini datang dengan harga tangan yang cacat, kulit penuh luka bakar, dan sel kanker di paru-paru para pekerja dapur."
Namun, sebagian besar pekerja memilih diam karena status mereka sebagai tenaga kontrak membuat posisi mereka rentan. Aksi mogok pun sulit dilakukan karena publik menganggap makan siang sekolah sebagai hal sakral yang tidak boleh terganggu.
Ketika pernah ada aksi protes, media lokal justru menyerang mereka dengan tudingan "membiarkan anak-anak kelaparan" tanpa membahas kondisi kerja yang melatarbelakanginya. Situasi ini memperlihatkan betapa kontribusi mereka diremehkan, meskipun kesehatan mereka terus terancam.
Tuntutan Perubahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359162/original/015318200_1758622275-pexels-katerina-holmes-5905678.jpg)
Meski desakan telah berlangsung bertahun-tahun, hingga kini lebih dari 97 persen dapur sekolah belum memiliki ventilasi layak untuk mencegah penyakit paru. Setiap hari para pekerja masih harus menghirup asap berbahaya.
Tak tahan, mereka kini semakin berani bersuara. Dalam sebuah aksi protes, para perempuan bercelemek pink membawa papan nama rekan-rekan yang telah meninggal dan menuntut perlindungan hukum lebih kuat, upah layak, serta beban kerja yang manusiawi.
Salah satu pekerja yang didiagnosis kanker paru berkata, "Selama bertahun-tahun saya menanggung beban kerja yang menghancurkan tubuh dan asap beracun, sambil berusaha memasak makanan terbaik untuk anak-anak saya sendiri. Sementara tubuh saya perlahan hancur."
Kebanggaan masyarakat Korea atas makan siang sekolah seharusnya juga dibarengi dengan pengakuan serta perlindungan bagi mereka yang telah mengorbankan kesehatan demi keberlangsungan program ini. Kini saatnya menempatkan kesejahteraan pekerja dapur sebagai bagian penting dari keberhasilan sistem makan siang gratis di Korea Selatan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4844270/original/075921200_1716810583-Infografis_SQ_Deretan_Negara_Berikan_Makan_Siang_Gratis_di_Sekolah.jpg)
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359159/original/064123000_1758622264-pexels-byunghyun-lee-247864074-14774580.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409526/original/062736400_1479454522-Korea_Selatan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102311/original/030973200_1783041297-063_2284405483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072362/original/069449700_1783026157-000_B94788B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411138/original/071923000_1782295017-leao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260345/original/097053600_1781587471-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782564/original/078010800_1782891228-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_14.17.55.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2926417/original/019759800_1569896232-New_Project__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8648213/original/089479800_1782659469-LJS_x_Ocean_Star_200_Event_Photo_Franz_Linder.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5369206/original/047420200_1759458941-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3046087/original/088905900_1581323845-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8650687/original/066270800_1782664551-South_Korea_head_coach_Hong_Myung-bo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4947987/original/074651000_1726736254-fotor-ai-20240919153528.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8526854/original/004442800_1782457565-Hong_Myung-bo.jpg)