Sukses

Promosi Snickers X BTS Berujung Permintaan Maaf ke China, Apa Penyebabnya?

Liputan6.com, Jakarta - Snickers, produk cokelat batangan yang dibuat perusahaan AS Mars Incorporated, telah mempromosikan produk kolaborasi dengan boy band Korea Selatan, BTS. Namun, iklan tersebut justru berujung meminta maaf ke China, kenapa?

Wall Street Journal melaporkan, seperti dilansir dari Mothership, Senin (8/8/2022), produsen produk camilan manis tersebut meminta maaf karena menyebut Taiwan sebagai sebuah negara dalam sebuah promosi online mereka. Sebuah situs web untuk kolaborasi menulis bahwa kehadiran acara tersebut "hanya tersedia di negara-negara berikut."

Dalam informasi yang disampaikan, mereka menampilkan salah satunya gambar bendera Taiwan. "Kecerobohan geopolitik" itu memicu kemarahan dan ancaman boikot di China setelah beberapa influencer nasionalis membagikannya di situs media sosial China, Weibo.

Sebagai tanggapan, Mars-Wrigley, perusahaan permen Amerika, menerbitkan dua permintaan maaf di akun Weibo Snickers. "Kami menyadari laporan tentang aktivitas Snickers di beberapa wilayah di Asia, dan kami menanggapinya dengan sangat serius dan meminta maaf untuk itu," kata Mars-Wrigley dalam sebuah pernyataan.

"Mars-Wrigley menghormati kedaulatan nasional dan integritas teritorial China, dan menjalankan operasi bisnis dengan kepatuhan yang ketat terhadap hukum dan peraturan lokal China," mereka menambahkan.

Permintaan maaf kedua, yang diunggah sekitar dua setengah jam setelah yang pertama, menambahkan bahwa "Taiwan adalah bagian tidak terpisahkan dari wilayah China," dan hanya ada "satu China" di dunia. Kesalahan pemasaran terjadi ketika ketegangan antara Taiwan dan China terus meningkat setelah kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi ke Taiwan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Tidak Hanya Snickers

Snickers bukan merek pertama yang menyebabkan warganet Tiongkok geram. Sebelum ini, Dior dituduh merampas budaya China untuk rok lipit yang dikatakan menyerupai pakaian tradisional Tiongkok.

Dibanderol dengan harga 3,8 ribu dolar AS (sekitar Rp57 juta), rok lipit mid-length diluncurkan pada Mei 2022 ini merupakan bagian dari koleksi musim gugur 2022 rumah mode itu, karya direktur kreatifnya, Maria Grazia Chiuri.

Potongan busana itu baru jadi sorotan publik akhir pekan lalu setelah pengguna media sosial China melihat kesamaan pola dan lipatannya dengan rok lipit wajah kuda China, atau mamianqun, sejenis Hanfu yang biasanya dikenakan wanita di Dinasti Ming, melansir VICE World News.

Publikasi di corong Partai Komunis China, People's Daily, mengecam merek mewah Prancis itu karena menggambarkan desainnya sebagai "siluet khas Dior." "Yang disebut siluet Dior sangat mirip dengan mamianqun China dan banyak detailnya yang sama," tulisnya.

Zhang Yan, seorang perancang busana muda Tiongkok yang memulai debutnya di New York Fashion Week pada 2019, menyebut apa yang diklaim Dior sebagai pelanggaran yang lebih serius daripada plagiarisme. "Dengan menyebutnya desain ciri khas mereka, Dior menyesatkan pelanggan mereka di seluruh dunia," kata Zhang dalam sebuah video di Weibo, mengkritik merek mewah tersebut karena gagal menyebut budaya China sebagai sumber inspirasinya.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Bukan Kali Pertama

Itupun bukan pertama kali Dior disemprot warganet Tiongkok. Akhir tahun lalu, Dior dihadapkan pada deras arus kecaman di China. Ini terjadi setelah rumah mode itu mempublikasikan foto yang dituding "mencoreng perempuan Asia," menurut media pemerintah Tiongkok.

Melansir SCMP, potret yang merupakan bagian dari pameran Lady Dior di West Bund Art Center, Shanghai ini menunjukkan seorang perempuan Asia mengenakan kostum tradisional dan memegang tas ikonis brand mewah itu. Surat kabar milik negara Beijing Daily mengecam foto itu, menuliskan, "Apakah Ini Wanita Asia di Mata Dior?"

China Women's News, surat kabar yang dijalankan badan semi-pemerintah Federasi Perempuan Seluruh China, mengatakan dalam sebuah editorial bahwa selera estetika Dior dan fotografer telah "kelewat batas." "Perilaku mereka telah menunjukkan niat menjelek-jelekkan perempuan China dan mendistorsi budaya China," kata publikasi itu.

"Sekali lagi, dari gambar ala hantu Dior yang membuat publik merasa tidak nyaman, mudah untuk melihat 'kebanggaan dan prasangka' beberapa merek Barat dalam estetika dan budaya mereka," sambung publikasi tersebut.

4 dari 4 halaman

Kontroversi Lainnya

Dior tidak memberi komentar apa pun mengenai kontroversi itu, tapi mengonfirmasi pada Business of Fashion bahwa foto tersebut telah dihapus dari pameran. Merek juga menghapus foto yang dimaksud dari platform media sosial China, Weibo.

Kontroversi sebelumnya juga tercatat pada 2019 lalu saat merek tersebut mempresentasi karya mereka di sebuah universitas yang menampilkan peta negara yang mengecualikan Taiwan. China melihat Taiwan sebagai bagian penting dari China, tapi Taiwan telah menolak langkah untuk penyatuan lintas selat.

Merek yang merupakan bagian dari LVMH, grup barang mewah terbesar di dunia, ini bukan satu-satunya merek yang menarik kemarahan konsumen China dalam beberapa tahun terakhir. Juga pada 2019, label Italia Dolce & Gabbana terpaksa membatalkan peragaan busana terkenal di Shanghai.

Keputusan ini diambil setelah pihaknya mengunggah video yang menampilkan model China makan makanan Italia dengan sumpit, dianggap sebagai penggambaran yang tidak sopan dan merendahkan. Merek, termasuk perusahaan global H&M dan Nike, juga sempat memicu kemarahan setelah berjanji tidak menggunakan kapas dari wilayah Xinjiang di Cina. Keputusan ini diselimuti dugaan kerja paksa terhadap minoritas Uighur di kawasan tersebut.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS