Sukses

Menyesap Kopi Sambil Baca Buku di Kedai Berkonsep Rumah Adat Jawa

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini ada banyak kedai yang memanjakan para penyuka kopi. Tiap kedai punya keunikan tersendiri. Begitu juga dengan Rumah Tjempaka. Anda bisa menikmati seduhan biji kopi di rumah limasan penanggalan Jawa, Rumah Tjempaka.

Limasan merupakan konsep rumah tradisional atau rumah adat Jawa yang mempunyai denah empat persegi panjang atau berbentuk limas Mereka resmi buka untuk umum pada Rabu, 15 Juni 2022.

Setelah itu, mereka melakukan syukuran pada Jumat, 10 Juni 2022 atau pada penanggalan Jawa Jumat Pahing. Syukuran itu berjalan hingga Minggu, 12 Juni 2022 dengan mengundang para penyuka kopi termasuk komunitas.

Marrysa Tunjung Sari selaku pemilik Rumah Tjempaka menyebutkan tempat tersebut merupakan rumah limasan yang merupakan hadiah dari suaminya. Ia memberikan nama rumah itu pada 2020, setelah dipindahkan dari Pati, Jawa Tengah ke Cilodong, Depok.

"Awalnya, kami sempat berhenti karena menunggu pesanan tegel tradisional dari Yogya yang memakan waktu sekitar 4–5 bulan. Lalu, setelah beberapa saat aku pun membuat kedai dan mencari kolaborasi kopi," ujarnya pada Liputan6.com pada Jumat, 17 Juni 2022.

Sampai akhirnya, ia membuat sebuah kedai yang menyajikan kopi dan masakan rumahan. Marrysa dibantu dengan ibunya yakni seorang juru masak yang sudah 25 tahun memiliki restoran di Bandung yang hingga kini masih berjalan.

"Namun, selama pandemi kami melarangnya untuk melakukan perjalanan bolak balik ke Bandung ditambah lagi aku kehilangan bapak pada tahun 2021. Dua hal ini tentu membuat ibu kesepian dan segala rutinitasnya. Kedai di samping rumah tinggal kami tentulah ide yang akan membuatnya kembali beraktivitas tanpa harus menempuh perjalanan jauh," ujarnya.

Marrysa berkerja sama dengan Peny, sahabat yang sudah 10 tahun berteman dengannya. Mereka memiliki profesi yang sama sebagai fotografer profesional. Tidak hanya itu, Marrysa juga berkolaborasi dengan suami Peny yaitu Mickael yang berprofesi sebagai pemanggang (roaster) dan penyeduh kopi (barista) yang bersertifikasi.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Rumah Diskusi

"Mikael sendiri belum memiliki kedai kopi. Untuk inilah kemudian aku menawarkan Juno untuk berkolaborasi dengan Rumah Tjempaka. Selain anak laki-lakiku memiliki ketertarikan yang sama dengan Mikael. Serasa semua sudah klop. Lalu dalam waktu yang cukup singkat, sejak awal April 2022 kami pun memulai perjalanan untuk menjadikan Rumah Tjempaka," jelasnya.

Marrysa mengatakan, ia bersama sang suami memilih konsep tentang Rumah Tjempaka secara bersama-sama. Mereka memperkuat pemikiran dari kedua belah pihak. Setelah dirundingkan, Rumah Tjempaka hadir dengan konsep sebagai kedai kopi dan rumah yang menyediakan menu makanan dan kudapan.

Mereka juga ingin rumah itu menjadi rumah diskusi, membaca buku, berkegiatan budaya hingga persinggahan yang mengobati kepenatan. "Sederhananya, di antara hunian dan kedai beton, kami hadir dengan nuansa rumahan yang klasik. Kenyamanan, serasa di rumah, pulang ke kampung," ujarnya.

Mereka menghadirkan suasana tradisi yang cukup kuat. Mereka ingin para pengunjung bisa menikmati nuansa adat agar tidak punah di era digital ini.

Rumah Tjempaka akan mengadakan beberapa permainan tradisional untuk para tamu bisa menikmati suasana dengan santai bersama keluarga. Selain itu, mereka akan mengadakan kegiatan seperti tari tradisional, pasar kletik kaget, hingga diskusi budaya.

3 dari 4 halaman

Masakan Rumahan

Tidak hanya mengusung tradisi adat, Rumah Tjempaka juga hadir dengan beberapa makanan dan minuman dari berbagai daerah Indonesia. Marrysa mengatakan, ia masih mengembangkan menu untuk sementara karena adanya keterbatasan dan baru buka beberapa waktu.

Namun, untuk masakan rumahan, mereka menyajikan andalan Coto Makassar, Nasi Campur Ayam Bali dengan sate lilit, jajan pasar bubur tradisional (candil, sumsum). Ada juga makanan ringan seperti Jalakote (pastel) dari Makassar, Tahu Walik, dan Donat Kampung.

Sementara untuk minuman, Mikael dan Keeshava akan menyeduh berbagai kopi single origin asal Indonesia untuk kopi dingin dan panas. Untuk sajian non kopi, akan ada Beras Kencur, Asam Jawa dan Wedang Jahe dingin dan panas.

Selain para pecinta kopi, pemilik Rumah Tjempaka juga berharap para keluarga atau komunitas sepeda dan motor bisa singgah di tengah melakukan perjalanan Jakarta-Bogor.

"Kami juga berharap para ibu-ibu yang membutuhkan ruang untuk berkumpul bisa hadir ke Rumah Tjempaka. Nantinya, mereka juga bisa mengikuti komunitas budaya atau mengadakan ruang diskusi," kata Marrysa.

4 dari 4 halaman

Pengepul Sampah Plastik

Marrysa menegaskan, kebersihan Rumah Tjempaka selalu terjaga dengan baik. Ia bisa memastikan rumah limasan itu bersih karena mereka tinggal di sebelah Rumah Tjempaka.

Marrysa memberikan tempat sampah dan berlangganan untuk pengambilan sampah. Walaupun begitu, terkadang, masih ada yang membuang sampah tidak pada tempatnya.  Namun, keadaan semakin membaik dan kesadaran yang ia miliki memang harus dicontohkan terutama kepada para pengunjung yang datang nantinya.

Ia menambahkan, untuk saat ini tidak ada tetangga dalam radius dekat. Hanya saja, ia memiliki sebuah gudang penyimpanan. "Lokasi Rumah Tjempaka terlihat dari jalan tetapi tidak terletak persis di jalan raya. Sebuah lokasi yang strategis dan sedikit tersembunyi yaitu di Jalan Mandor Samin, Kalibaru, Kec. Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat," tambahnya.

Mereka berkerja sama dengan pengepul sampah plastik untuk gelas sekali pakai. Untuk sementara ini, mereka sedang memesan sedotan yang biodegrade.

"Kami tidak memberikan kantong plastik kepada tamu. Untuk kedepannya kami akan berusaha untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai," tutupnya. (Natalia Adinda)