Sukses

Presenter Berita Wanita Afghanistan Dipaksa Bercadar Saat Tampil di Televisi

Liputan6.com, Jakarta - Presenter berita perempuan di Afghanistan sejak Minggu, 22 Mei 2022, harus menutupi wajahnya saat membawakan kabar di televisi. Hal itu menyusul aturan Taliban yang memerintahkan para perempuan menutupi penampilannya.

Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Keburukan Afghanistan sebenarnya memerintah para presenter televisi perempuan untuk mengikuti aturan tersebut dari Sabtu, 21 Mei 2022. Namun, mereka menentang perintah itu dan tetap mengudara dengan memperlihatkan wajah mereka.

Namun, aksi penentangan itu berakhir keesokan harinya dengan mengenakan jilbab penuh dan cadar yang membuat hanya mata mereka yang terlihat. Kebijakan itu berlaku merata sejak penayangan buletin berita pagi di seluruh stasiun televisi terkemuka, seperti di TOLOnews, Arina Television, Shamshad TV, dan 1 TV.

"Kami melawan dan menentang pemakaian cadar," kata Sonia Niazi, presenter TOLOnews, kepada AFP, dikutip Senin (23/5/2022).

"Tetapi TOLOnews ditekan dan diberitahu bahwa presenter wanita mana pun yang muncul di layar tanpa menutupi wajahnya harus diberi pekerjaan lain atau dihilangkan begitu saja," katanya.

"TOLOnews dipaksa dan kami terpaksa memakainya." Presenter wanita sebelumnya hanya diwajibkan mengenakan jilbab.

Pengakuan itu diamini Direktur TOLOnews, Khpolwak Sapai. Ia mengatakan pihaknya dipaksa menuruti aturan Taliban tersebut, tanpa diberikan pilihan lain.

"Aku ditelepon kemarin dan diperintahkan dalam kalimat yang tegas untuk melakukannya. Jadi, ini bukan karena pilihan tetapi karena paksaan yang membuat kami melakukannya," ujar Sapai.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Galang Solidaritas

Pada hari yang sama, para jurnalis dan karyawan laki-laki TOLOnews menunjukkan solidaritasnya kepada kolega perempuan mereka. Para pekerja mengenakan masker wajah selama berada di kantor media itu di Kabul, sebagai wujud solidaritas. Sementara itu, para pegawai perempuan di media televisi yang tidak tampil di depan layar tetap membiarkan wajah mereka terbuka tanpa cadar.

Juru bicara kementerian, Mohammad Akif Sadeq Mohajir mengatakan pemerintah mengapresiasi saluran televisi yang telah mematuhi aturan berbusana.

"Kami sangat senang dengan saluran media yang menerapkan tanggung jawab ini dengan cara yang baik," katanya kepada AFP.

Mohajir membantah bahwa pemerintah menentang presenter perempuan untuk bekerja di media televisi. "Kami tak bermaksud menghilangkan mereka dari tempat umum atau mengesampingkan mereka atau melucuti hak mereka untuk bekerja," ia menyambung.

Namun, fakta lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Dekrit yang dikeluarkan pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, memerintah pihak berwenang untuk memecat pegawai pemerintah perempuan jika mereka tak mengikuti aturan berpakaian yang digariskan.

3 dari 4 halaman

Ancaman Berlapis

Dekrit itu juga mengatur para pegawai pemerintah laki-laki berisiko diskors jika istri atau anak perempuan mereka tidak patuh. Begitu pula dengan manajer media dan wali para presenter perempan yang membangkang, diancam hukuman bila terus membiarkan aturan bercadar tidak dipatuhi.

Dalam 20 tahun setelah Taliban digulingkan dari kantor pada 2001, banyak wanita di pedesaan konservatif terus mengenakan burqa. Namun, kebanyakan wanita Afghanistan, termasuk presenter TV, memilih jilbab biasa. Saluran televisi saat ini juga telah berhenti menayangkan drama dan sinetron yang menampilkan wanita atas perintah otoritas Taliban.

Sejak berkuasa kembali tahun lalu, Taliban terus membatasi pergerakan masyarakat sipil. Banyak aturan yang dibuat mengekang hak-hak perempuan dan anak perempuan, termasuk kewajiban menutupi seluruh tubuh, termasuk wajah mereka di tempat umum sejak awal bulan ini.

Belum lagi larangan perempuan untuk bepergian seorang diri dan larangan anak perempuan melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah. Taliban berdalih hal itu akan berlaku sepanjang sekolah belum menyediakan 'kelas terpisah' antara siswa laki-laki dan perempuan serta kondisi yang aman dalam perjalanan mereka pergi dan pulang sekolah.

4 dari 4 halaman

Tidak Ada Harapan

Pada 7 Mei 2022, wajah perempuan menjadi pembatasan terbaru, setelah Taliban yang berkuasa di Afghanistan mengumumkan bahwa perempuan harus mengenakan cadar di depan umum untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Para pejabat Taliban menggambarkan keputusan cadar sebagai "saran" tetapi menetapkan serangkaian langkah-langkah tertentu yang meningkat bagi siapa pun yang tidak mematuhinya.

Perwakilan Taliban berada di dalam toko pakaian wanita untuk mengawasi apa yang dijual asisten toko dan apakah panjang pakaian yang dibuat khusus dianggap tepat.

"Saya takut," kata Soraya sebagaimana dikutip dari BBC, Minggu (15/5/2022).

Beberapa wanita di Afghanistan mengatakan dekrit tentang penggunaan cadar hanyalah serangan terbaru terhadap hak asasi manusia mereka.

"Ini seperti menjadi seorang wanita di Afghanistan adalah kejahatan," kata Sana, yang kehilangan pekerjaannya karena pengambilalihan Taliban dan berjuang secara finansial.

"Tidak masalah apa yang mereka pilih untuk saya dalam hal pakaian - saya tidak akan meninggalkan rumah saya, situasinya tidak ada harapan."