Sukses

Thailand Larang Pemakaian Sunscreen yang Merusak Terumbu Karang

Liputan6.com, Jakarta - Thailand resmi melarang pemakaian sunscreen mengandung bahan kimia yang merusak terumbu karang dari taman nasional lautnya per Rabu, 4 Agustus 2021. Sebagai salah satu destinasi tropis, kekhawatiran ini telah berlangsung cukup lama.

Melansir AFP, Kamis (5/8/2021), secara tertulis aturan tersebut melarang tabir surya yang mengandung oxybenzone, octinoxate, 4-methylbenzylidene camphor atau butylparaben. Pengumuman itu menjelaskan bahwa penelitian menunjukkan bahan kimia yang dimaksud tidak hanya memperburuk kondisi terumbu karang.

Bahan kimia itu juga menghancurkan larva karang, menghalangi sistem reproduksi karang, dan menyebabkan pemutihan terumbu karang. Pelanggar aturan bisa didenda hingga 100 ribu baht (Rp43 juta), meski belum dijelaskan secara detail bagaimana rencana implementasi larangan tersebut.

Melansir laman Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) Amerika Serikat, bagaimana bahan-bahan kimia dalam sunscreen memengaruhi ekosistem terumbu karang sebenarnya masih diteliti lebih lanjut. Hasil studinya diharapkan selesai tahun ini. 

Sementara itu, menurut Craig A. Downs, direktur eksekutif dari Laboratorium Lingkungan Haereticus, menjelaskan bahwa meski oxybenzone dan octinoxate adalah yang paling banyak dipelajari, ada beberapa bahan kimia lain dalam tabir surya dan produk perawatan lain yang berisiko jadi ancaman lingkungan.

Ia mencatat, seperti dimuat CR, bahkan sunscreen berlabel "reef safe" pun tidak menjamin tidak berbahaya ketika larut ke dalam ekosistem bawah laut. Sebelum Thailand, aturan larangan sunscreen yang merusak terumbu karang telah berlaku di Palau dan Hawaii.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 4 halaman

Label yang Bukan Jaminan

Sunscreen berlabel "reef safe," Downs menjelaskan, sebenarnya belum memiliki definisi yang disepakati. Ini berarti produsen tabir surya tidak diharuskan menguji dan menunjukkan bahwa produk tersebut tidak akan membahayakan ekosistem bawah laut.

"Bahkan jika mereka melakukannya (diuji) dan menemukan tabir surya yang lulus tes, mungkin masih berbahaya jika konsentrasi di dalam air cukup tinggi," tuturnya. "Bila Anda memakai (sunscreen) yang relatif aman, namun lima ribu orang masuk ke air di satu pantai, minyak dari sebagian besar produk tabir surya dapat menyebabkan toksisitas."

Sementara para ilmuwan sedang mengumpulkan bukti ancaman bahan kimia itu, Downs mengatakan, "kurangnya data tidak berarti bahan kimia itu aman."

3 dari 4 halaman

Apa yang Bisa Dilakukan?

Meski begitu, Anda boleh melewatkan pemakaian sunscreen. Saat menghabiskan waktu di pantai, cara terbaik untuk melindungi diri sendiri dan lingkungan adalah dengan menutupi sebagian besar tubuh Anda dengan pakaian UPF (ultraviolet protection factor) atau busana biasa.

Anda masih harus mengoleskan tabir surya ke kulit yang terbuka, tapi kebutuhannya hanya lebih sedikit. "Dari perspektif lingkungan," kata Downs, itu adalah "kemenangan besar."

Tabir surya mineral dengan "non-nanotized" zinc oxide atau titanium dioxide dinilai lebih aman untuk terumbu karang daripada bahan kimia, menurut National Park Service. Tapi, kata Downs, hampir tidak mungkin bagi konsumen untuk menguraikan produk mana yang memenuhi syarat ini.

4 dari 4 halaman

Infografis Sampah Kemasan Produk Kecantikan