Sukses

Pengalaman Pahit Paris Hilton dan Drew Barrymore Saat Remaja Dikurung dalam Sel Isolasi

Liputan6.com, Jakarta - Belum lama ini, film dokumenter tentang kisah hidup Paris Hilton, termasuk kasus kekerasan yang dialaminya saat remaja dirilis oleh YouTube Originals. Menanggapi hal itu, selebriti Drew Barrymore mengungkapkan bahwa dirinya juga pernah mengalami hal serupa saat remaja.

Dalam This Is Paris, film berdurasi hampir dua jam itu, Paris menjelaskan secara rinci tentang dugaan pelecehan yang dideritanya saat di sekolah asrama Utah, dan bagaimana traumanya terbawa hingga dewasa. Selama penampilan pada episode acara talk show terbaru Drew Barrymore, Senin, 21 September 2020, mereka merefleksikan pengalaman kelam saat ditempatkan di sebuah institusi untuk anak di bawah umur dengan masalah perilaku.

Barrymore mengaku saat menonton dokumenter yang digarap oleh sutradara pemenang penghargaan Emmy, Alexandra Dean ini, dia ikut merasa tersorot akan masa lalunya. "Kami sudah saling kenal sepanjang masa kanak-kanak, dan di kehidupan dewasa, saya sudah mengenal Anda selama bertahun-tahun," ujarnya kepada Paris.

"Saya pernah berada di posisi Anda, dan dengan menonton film dokumenter Anda, maksud saya, saya tidak tahu berapa banyak wawancara dan percakapan yang akan saya lakukan di acara ini, di mana saya juga seperti menonton bayangan cermin dari semua yang telah saya alami," tambahnya.

Ia juga menceritakan bahwa dirinya pernah dikurung dalam sel isolasi dalam waktu yang lama, kurang lebih satu setengah tahun, melansir People, Selasa, 22 September 2020. Aktris pemeran film Charlie’s Angels ini sebelumnya belum pernah melihat cerita serupa. Oleh karena itu, dirinya sangat ingin berbincang dengan Paris.

2 dari 4 halaman

Sempat Merasa Malu

Dalam film dokumenternya, Paris Hilton mengungkapkan, suatu malam ia dibawa dari tempat tidurnya seolah-olah sedang diculik. Ternyata, ia dibawa ke Provo Canyon School di Utah, tempat ia dan teman-temannya menderita pelecehan fisik dan emosional dan diberi berbagai ‘pil misteri’ secara teratur.

Ketika ia menolaknya, ia segera dikirim ke sel isolasi tanpa pakaian, kadang-kadang selama 20 jam setiap kalinya.  Dalam sebuah pernyataan dan juga di situs webnya, sekolah tersebut mencatat bahwa mereka mengubah kepemilikan pada Agustus 2000, setelah Paris tidak lagi menjadi siswa mereka. "Oleh karena itu, kami tidak dapat mengomentari pengalaman pasien sebelumnya," dalam pernyataan mereka.

Paris memberi tahu Barrymore bahwa kisah emosional dan traumatis dari masa lalunya itu tidak seharusnya menjadi premis asli film tersebut. "Saya ingin membuat film untuk menunjukkan saya sebagai pengusaha perempuan, dan semua yang telah saya capai, karena saya merasa ada begitu banyak kesalahpahaman tentang saya," katanya.

"Dan kemudian selama syuting, saya menjadi sangat dekat dengan sutradara. Kami memiliki hubungan persaudaraan di mana saya merasa seperti saya bisa terbuka tentang apa pun dengannya,” ujarnya. Saat itu sutradaranya mengatakan bahwa kisah itu sangat penting untuk diceritakan sehingga dapat membantu para penyintas lainnya dan lebih banyak orang akan membantu.

Awalnya, Paris merasa pengalaman kelamnya itu itu bukanlah sesuatu yang ingin dibicarakannya di depan umum. "Saya malu orang tahu," akunya. "Saya sekarang tahu bahwa saya seharusnya tidak malu, orang-orang yang bekerja di tempat-tempat ini yang melecehkan anak-anak adalah mereka yang seharusnya malu."

3 dari 4 halaman

Serupa Tapi Tak Sama

Meskipun begitu, pengalaman Hilton dan Barrymore sangat berbeda. Barrymore sempat terpengaruh minuman keras dan obat terlarang, tetapi institusi asrama tempatnya dikurung adalah penyelamatnya.

"Saya harus memberitahu Anda, orang-orang di tempat saya benar-benar baik," ungkap Barrymore.  

Ia mengatakan dirinya saat itu akan berontak jika harus dimasukkan ke dalam sel isolasi. Ia selalu memulai kegaduhan sepanjang waktu dalam asrama itu. Hidupnya sangat berantakan saat itu.

"Saya menggunakan narkoba. Saya tidak terkendali. Ibu saya hanya mengangkat tangannya dan melemparkan saya ke sana (asrama), tidak tahu harus ke mana lagi. Dan tempat itu benar-benar membantu saya dan menyelamatkan hidup saya, dan saya sebenarnya tidak akan mengubah apa pun," tambahnya.

Namun, sebaliknya, setelah kejadian itu Paris Hilton mengalami krisis kepercayaan dan gangguan stres pascatrauma. Dirinya merasa tidak pantas berada di dalam asrama saat itu, saat itu orangtuanya mendidiknya dengan keras dan terlalu protektif.

Sebelum pembuatan film, selebriti berusia 39 tahun ini tidak pernah memberi tahu orangtuanya, Kathy dan Rick Hilton, tentang apa yang terjadi padanya. Tetapi, setelah mengungkapkannya, ia menjadi lebih dekat dengan orangtuanya.

"Itu adalah sesuatu yang tidak pernah kami bicarakan sehingga sangat sulit bagi mereka untuk mendengar, tetapi saya pikir hanya dengan membicarakannya saja membuat kami semakin dekat daripada sebelumnya," tutupnya. (Brigitta Valencia Bellion)

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: