Sukses

Pentingnya Peran Guru dan Sekolah dalam PJJ Hybrid

Liputan6.com, Jakarta – Di era pandemi corona Covid-19, kegiatan belajar mengajar harus dilakukan secara online atau daring karena kita harus lebih banyak berada di rumah. Namun sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini kemungkinan masih akan tetap diterapkan di era normal baru.

"Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini akan menjadi permanen. Bukan pembelajaran jarak jauh pure saja, tapi hybrid model, " ujar Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beberapa waktu lalu saat dengar pendapat dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Metode PJJ akan terus berlangsung pada satuan pendidikan yang berada di zona kuning, oranye, dan merah.

Tentunya metode PJJ tidak akan diterapkan secara permanen.Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Iwan Syahril mengatakan, “Yang akan permanen adalah tersedianya berbagai platform PJJ termasuk yang bersifat daring dan luring yang akan terus dilangsungkan guna mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar,” tutur Iwan.

Demi memanfaatkan perkembangan teknologi, Kemendikbud merekomendasikan metode pembelajaran hybrid atau kombinasi. Metode yang satu ini dinilai Iwan mampu meningkatkan kompetensi siswa untuk dapat bersaing secara global meski terdampak pandemi.

Dalam metode hybrid, guru dan siswa khususnya pada satuan pendidikan yang masuk dalam zona hijau dapat melaksanakan proses pembelajaran tatap muka dipadu dengan alat bantu teknologi yang selama ini dimanfaatkan dalam PJJ.

Meski peran teknologi dapat menunjang proses pembelajaran, guru akan tetap berfungsi sebagai kunci utama yang bertindak meningkatkan kualitas dan kompetensi demi terwujudnya suasana belajar yang efektif bagi para siswa.

Senada dengan hal tersebut, CEO Wekiddo, Ferry Irawan setuju dan mendukung keputusan mendikbud dalam melakukan PJJ model hybrid dalam dunia pendidikan karena mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju, dan jika terjadi hal-hal mendesak atau diluar dari yang diinginkan seperti pandemi saat ini, pihak sekolah dan siswa sudah terbiasa dengan belajar secara online.

“Pembelajaran secara offline atau tatap muka sangat penting dilakukan oleh pihak sekolah agar guru dapat menilai dan membantu pembangunan karakter dan interaksi sosial pada anak di saat keadaan sudah memungkinkan,” terangnya.

Ferry menambahkan, peranan teknologi pada dasarnya untuk membantu dan memudahkan proses belajar mengajar. Sehingga jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang untuk kegiatan belajar mengajar.

“Esensinya dalam proses belajar mengajar ada beberapa komponen yang tidak bisa tergantikan oleh sistem online. Contohnya adalah pembentukan karakter anak, interaksi sosial dan membangun kepribadian anak,”terangnya. Ketiga hal ini menurut Ferry tetap diutamakan dan dikolaborasikan dengan sistem belajar online seperti memberikan dan mengerjakan PR, tugas harian, kuis secara online menggunakan WeKiddo.

“Namun jika sekolah ingin melakukan UTS dan UAS dapat melakukannya secara offline atau online, sedangkan untuk online dapat digunakan untuk ulangan harian. Keuntungan dan kemudahan jika melakukan ujian harian atau kuis secara online di WeKiddo yaitu setelah melakukan ujian/ kuis selesai dikerjakan, nilai akan langsung ditabulasi oleh sistem,”tambah mahasiswa Binus ini.

WeKiddo sendiri menurutnya ingin membantu sekolah dalam sistem belajar mengajar secara online dan membantu mendigitalisasikan sistem belajar mengajar di sekolah TANPA meninggalkan offline (sistem belajar mengajar secara tatap muka).

“WeKiddo berharap dengan adanya PJJ model hybrid ini, sekolah dapat terbantu dalam segala aspek sistem belajar mengajar baik ketika terjadi pandemi seperti ini maupun dalam keadaan normal,” pungkas Ferry.