Sukses

Putri Kerajaan Norwegia Mengaku Dapat Ancaman Pembunuhan karena Pacaran dengan Pria Kulit Hitam

Liputan6.com, Jakarta - Putri Martha Louis dari Norwegia baru-baru ini mengaku dapat ancaman pembunuhan lantaran menjalin hubungan dengan seorang dukun asal Amerika Serikat. Ia sebelumnya mengumumkan bahwa sedang berkencan dengan Durek Verret pada Mei 2019. 

Pasangan tersebut mengumumkan jalinan kasihnya ke publik pada Mei 2019. Bahkan, sang putri melepaskan gelar kebangsawanannya agar bisa ikut tur bersama sang kekasih.

Dalam unggahan di Instagram, Verret telah menjadi sasaran rasisme, pun dari teman-temannya sendiri, sepanjang setahun hubungan mereka dipublikasikan. Ia juga mengungkapkan bagaimana media mengecapnya sebagai pribadi yang manipulatif dan seorang pembohong tanpa mengecek fakta karena didukung keyakinan tentang hal itu sebelumnya.

Martha Louise juga mengatakan orang-orang di posisi tinggi menolak berjabat tangan dengan Verret karena ia berkulit hitam.

"Menjadi kekasih @shamandurek telah memberiku kursus kilat tentang bagaimana supremasi kulit putih bekerja dan cara yang aku sadar maupun tidak terpikir dan termanifestasi dalam aksi menghadapi orang-orang berkulit hitam," tulis Martha, dikutip dari laman Insider, Selasa (9/6/2020).

Ia mengaku selama ini nyaman dengan hak-hak istimewa yang didapatnya dan tak pernah melihat seperti apa rasisme sebenarnya. Itu semata karena membuatnya nyaman sistem yang telah terbentuk.

"Saya tidak bangga tentang itu, tapi saya menyadari bahwa saya perlu mengembangkannya agar menjadi pemahaman yang masuk dalam sistem yang telah mengakar dan bisa menjadi bagian untuk membongkar hal itu. Saya, sebagai orang kulit putih, perlu untuk berkembang, mengedukasi diri saya sendiri, dan menjadi lebih baik dan pindah dari pribadi yang melawan rasisme menjadi anti-rasis," tulis sang Putri Norwegia lagi.

2 dari 3 halaman

Perlakuan Rasisme

Sang putri melanjutkan pernyataannya soal rasisme. Ia berpendapat rasisme bukan hanya diskriminasi terbuka, tetapi juga cara orang berpaling dari Durek.

"Bagaimana teman-teman berasumsi dia berbohong tentang segalanya. Bahwa dia jahat karena bersikap baik. Kata-kata yang digumamkan sepelan mungkin, membuat sangat jelas baginya bahwa dia tak memiliki tempat di meja," katanya.

Ia juga mengingat bagaimana orang dengan jabatan tinggi berkata 'Beraninya Anda berpikir saya akan menyentuh tanganmu?' ketika sang kekasih mengulurkan tangannya untuk menyampaikan selamat malam. Kejadian itu terjadi sebelum pandemi Covid-19.

"Orang-orang berpikir mereka bukan rasis, tetapi mereka tidak mengenal satu pun orang yang warna kulitnya berbeda dari mereka, berjauhan dari orang-orang yang bekerja untuk mereka," sambung Martha.

Sang putri bahkan menyebut banyak orang menyebut Durek bukanlah orang baik yang mencintainya, tetapi telah memanipulasi dirinya agar jatuh cinta dan tetap memanipulasinya selama berhubungan. 

"Bagaimana dia (Durek) akan mengeksploitasiku dari sisi keuangan. Media menyebutnya sebagai pembohong, kasar, dan ancaman bagi keluargaku dan diriku sendiri, membagikan detail cerita tentang sisi X-nya secara detail tanpa disertai pengecekan data ulang."

"Itu adalah rasisme. Kami menerima ancaman pembunuhan karena bersama dan setiap minggu dicemooh bahwa kami telah mempermalukan warga dan keluarga kami karena kami memilih bersama," ia menambahkan.

Situasi tak berbeda juga dialami Meghan Markle. Ia pernah dituduh memanipulasi Pangeran Harry agar meninggalkan Inggris Raya dan menuduhnya telah memisahkannya dari keluarganya, hingga dituduh mendukung pelanggaran HAM, kekeringan, dan pembunuhan hanya karena memakan avokad.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: