Doa Nabi Khidir Bismillahi Masya Allah Apakah Ada Dalilnya? Simak Penjelasannya

Pertanyaan ini penting untuk dijawab lantaran doa ini diyakini memiliki fadhilah yang besar.

Diterbitkan 22 Agustus 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pertanyaan tentang keabsahan sebuah doa atau amalan seringkali muncul, terlebih di zaman modern ketika informasi masuk nyaris tanpa filter. Salah satu doa yang cukup populer dan dinisbatkan kepada Nabi Khidir. Lantas, doa nabi khidir Bismillahi Masya Allah apakah ada dalilnya?

Pertanyaan ini penting untuk dijawab lantaran doa ini diyakini memiliki fadhilah yang besar. Di antara yang utama adalah mencegah keburukan dan mendatangkan kebaikan.

Di sisi lain, doa dan zikir merupakan inti dari ibadah seorang muslim. Dalam konteks doa yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir, para ulama memiliki pandangan yang beragam. Oleh karena itu, penting untuk menelusuri asal-usul doa ini.

Artikel ini akan mengupas tuntas doa "Bismillahi masya Allah" yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir, dengan menyajikan teks Arab, latin, dan terjemahannya, menelusuri riwayat dan sumbernya, serta memaparkan pandangan para ulama.

Teks Doa dan Terjemahannya

Doa yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir ini memiliki beberapa versi redaksi yang sedikit berbeda. Namun, inti dari doa tersebut adalah pengakuan bahwa segala kebaikan, nikmat, dan perlindungan dari keburukan hanya berasal dari Allah SWT. Berikut adalah salah satu versi doa yang cukup populer:

Teks Arab:

بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إِلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إِلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

Latin (Cara Baca): Bismillahi masya Allah laa yasuqul-khaira illallah Bismillahi masya Allah laa yashrifus-su-a illallah Bismillahi masya Allah maa kaana min ni'matin fa minallah Bismillahi masya Allah laa haula wa laa quwwata illa billahil-'aliyyil-'azhim

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, apa yang dikehendaki Allah. Tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Dengan menyebut nama Allah, apa yang dikehendaki Allah. Tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali Allah. Dengan menyebut nama Allah, apa yang dikehendaki Allah. Tidak ada nikmat kecuali dari Allah. Dengan menyebut nama Allah, apa yang dikehendaki Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung."

Apakah Ada Dalilnya? Riwayat Doa Nabi Khidir Bismillah Masya Allah

Tidak ada dalil yang shahih dan qath'i (pasti) dari Al-Qur'an maupun Hadis Nabi Muhammad SAW yang secara spesifik mengajarkan Doa "Bismillahi masya Allah" ini. Riwayatnya lebih banyak bersumber dari kitab-kitab klasik yang memuat kisah dan amalan para nabi dan wali, seperti Ihya' Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, Asrarur Rabbaniyah karya Syaikh Ahmad al-Shawi, dan Syawariq Al-Anwar karya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki.

Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, menyebutkan sebuah zikir yang serupa yang diamalkan oleh Nabi Khidir dan Nabi Ilyas. Redaksinya sedikit berbeda, yaitu: "Bismillahi ma sya-allahu la quwwata illa billahi, ma sya-allahu kullun ni’matin minallahi, ma sya-allahu al-khoiru kulluhu biyadillahi, ma sya-allahu la yashrifus su-a illallahu".

Keberadaan doa ini dalam kitab Ihya' menunjukkan bahwa amalan ini telah dikenal di kalangan ulama, meskipun tidak serta-merta menjadikannya sebagai dalil yang qath'i (pasti).

Syaikh Ahmad al-Shawi dalam kitabnya, Asrarur Rabbaniyah, juga menyebutkan bahwa Nabi Khidir dan Nabi Ilyas membaca doa ini ketika mereka berpisah setiap tahunnya di Mina. Kisah pertemuan mereka ini sendiri merupakan bagian dari kepercayaan sebagian ulama yang masih memperdebatkan apakah Nabi Khidir masih hidup atau telah wafat.

Di Nusantara, doa dengan redaksi yang hampir sama juga terdapat dalam Kitab Perukunan Melayu, sebuah kitab fikih yang populer di kalangan masyarakat Melayu.

Fadhilah Doa Nabi Khidir Bismillah Masya Allah

Meskipun tidak memiliki dalil yang kuat dari Al-Qur'an dan Hadis, beberapa literatur menyebutkan fadhilah atau keutamaan dari mengamalkan doa ini. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Perlindungan dari Tenggelam, Kebakaran, dan Pencurian

Dalam kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah, Ibnu Abbas disebutkan meriwayatkan bahwa barangsiapa membaca doa ini di pagi dan sore hari sebanyak tiga kali, maka Allah akan menyelamatkannya dari tenggelam, kebakaran, dan pencurian.

2. Penghilang Kesulitan dan Penderitaan

Doa ini sering direkomendasikan untuk dibaca saat menghadapi cobaan dan kesulitan hidup. Kandungan doa yang mengakui bahwa hanya Allah yang dapat mendatangkan kebaikan dan menyingkirkan keburukan, menjadikannya sarana untuk bertawakal dan memohon pertolongan.

3. Pencegah dari Berbagai Musibah

Secara umum, amalan ini dipercaya dapat menjadi benteng perlindungan dari berbagai macam bencana dan musibah, termasuk fitnah dan bahaya lainnya.

4. Mendatangkan Kebaikan dan Nikmat

Doa ini mengajarkan pengakuan bahwa semua kebaikan dan nikmat berasal dari Allah. Mengamalkannya secara rutin dapat menumbuhkan rasa syukur dan keyakinan bahwa hanya Allah-lah tempat bergantung.

5. Penguatan Tauhid

Inti dari doa ini adalah pengesaan Allah (tauhid) dalam hal mendatangkan manfaat, menolak mudarat, dan pemberian nikmat. Membacanya secara kontemplatif dapat memperkuat keimanan dan keyakinan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Pandangan Ulama mengenai Doa Nabi Khidir Bismillah Masya Allah

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi doa dan amalan yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir ini. Sebagian ulama, seperti Imam al-Ghazali, Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki, dan Syaikh Ahmad al-Shawi, menyebutkan doa ini dalam kitab-kitab mereka sebagai bagian dari wirid dan amalan yang bermanfaat

Mereka melihatnya sebagai doa yang ma'tsur (bersumber) dari para nabi dan layak untuk diamalkan, terutama karena kandungannya yang sarat dengan makna tauhid dan kepasrahan kepada Allah.

Namun, dalam pandangan ulama yang kritis, terutama pada otentisitas sanad, cenderung lebih berhati-hati. Mereka berpendapat bahwa karena doa ini tidak memiliki sanad yang bersambung kepada Nabi Muhammad SAW, maka tidak dapat dianggap sebagai amalan yang memiliki dasar syariat yang kuat.

Mereka mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam amalan yang tidak jelas asal-usulnya dan lebih fokus pada doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadis Shahih.

Meskipun kandungan doa ini secara umum selaras dengan ajaran tauhid dan doa-doa yang diajarkan dalam Islam. Bagi mereka yang mengamalkannya dengan keyakinan bahwa ini adalah doa yang baik dan tidak meyakininya sebagai bagian dari syariat yang wajib, maka hal tersebut masih dalam ranah perbedaan pendapat di kalangan ulama, selama tidak disertai keyakinan bahwa ini adalah amalan yang sunnah muakkadah atau wajib.

Pertanyaan Seputar Doa Nabi Khidir

1. Apakah doa Nabi Khidir "Bismillahi Masya Allah" ada dalam Al-Qur'an?

Tidak, doa ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Doa ini merupakan wirid yang dinisbatkan kepada Nabi Khidir dan disebutkan dalam kitab-kitab klasik seperti Ihya' Ulumuddin karya Imam al-Ghazali.

2. Siapa yang pertama kali meriwayatkan doa Nabi Khidir?

Tidak ada satu riwayat pun yang jelas mengenai siapa perawi pertama doa ini. Doa ini populer melalui kitab-kitab ulama seperti Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin dan Syaikh Ahmad al-Shawi dalam Asrarur Rabbaniyah.

3. Bagaimana cara mengamalkan doa Nabi Khidir?

Doa ini umumnya diamalkan dengan membacanya di waktu pagi dan sore. Dalam Kitab Perukunan Melayu, doa dengan redaksi serupa juga disebutkan sebagai amalan untuk memohon perlindungan.

4. Apakah Nabi Khidir masih hidup dan bertemu dengan Nabi Ilyas?

Masalah ini adalah perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama, seperti yang dikutip oleh Syaikh Ahmad al-Shawi, berpendapat bahwa mereka masih hidup dan bertemu setiap tahun. Namun, pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama ahli hadits menyatakan bahwa Nabi Khidir telah wafat.

5. Apakah boleh mengamalkan doa yang tidak ada dalilnya dari hadis?

Para ulama berbeda pendapat. Sebagian membolehkan mengamalkan doa yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat, meskipun tidak ada dalil khusus, selama tidak diyakini sebagai sunnah. Namun, ulama lain lebih berhati-hati dan menganjurkan untuk hanya mengamalkan doa-doa yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadis shahih.