10 Persiapan Menghadapi Kehidupan setelah Kematian Menurut Ajaran Islam, Jangan Menunda

Kesadaran akan realitas ini seharusnya membangkitkan semangat untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya.

Diterbitkan 15 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam perspektif Islam, kematian adalah gerbang awal menuju alam keabadian, akhirat. Untuk itu, umat perlu melakukan berbagai persiapan menghadapi kehidupan setelah kematian menurut ajaran Islam. Sebab, kehidupan akhirat kelak tergantung pada amal dan perbuatan semasa di dunia.

Menurut para ulama, melalaikan persiapan di dunia adalah sebuah kerugian besar. Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan bahwa meyakini adanya alam barzakh dan mempersiapkannya adalah bagian dari akidah. Persiapan ini tidak bisa ditunda.

Padahal tiap manusia akan menemui ajal. Allah berfirman: "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat..." (QS. Al-Waqi'ah: 83-84). Ayat ini menjadi pengingat akan datangnya maut.

Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur mengutip pandangan ulama salaf seperti Umar bin Abdul Aziz yang menangis membayangkan kubur, menyadarkan kita bahwa dunia hanyalah tempat mengumpulkan bekal amal.

Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Kehidupan Alam Kubur dan Keadaan Penghuninya menggambarkan bahwa kesusahan dunia terasa ringan bila dibandingkan dengan apa yang mungkin akan menimpa diri dalam gelap dan sempitnya kubur. Kesadaran akan realitas ini seharusnya membangkitkan semangat untuk mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya.

Merujuk berbagai literatur, berikut ini adalah berbagai persiapan menghadapi kehidupan setelah kematian dalam ajaran Islam.

10 Persiapan Menghadapi Kehidupan setelah Kematian

1. Memperbanyak Amal Saleh

Amal saleh adalah bekal utama yang paling fundamental dalam menghadapi kematian. Allah SAW berfirman: "Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya" (QS. Al-Kahfi: 110).

Amal saleh yang dimaksud adalah segala bentuk perbuatan baik yang steril dari riya (pamer) dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Para ulama mendefinisikan amal saleh dengan syarat-syarat yang ketat. Syekh Sahl at-Tustari berkata: "Amal saleh adalah amal yang sunyi dari pamer dan diikat dengan (tuntunan) sunah Nabi".

Syekh Mu'adz, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Baghawi dalam tafsirnya, menyebutkan bahwa amal saleh adalah amal yang di dalamnya terdapat empat hal: ilmu, niat, kesabaran, dan ikhlas. Amal saleh ini harus dilakukan secara istiqamah atau terus-menerus, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sebaik-baik amal adalah yang paling kontinu (terus-menerus) meskipun sedikit".

Profesor Quraish Shihab mengibaratkan amal saleh sebagai obat bius yang akan meringankan rasa sakit saat sakaratul maut. Sekalipun sakaratul maut itu menyakitkan, namun jika seseorang telah "dibius" dengan amal saleh, maka ia tidak akan terlalu berat merasakan kesakitan menjelang wafat.

2. Mengingat Kematian Secara Terus-Menerus

Mengingat kematian adalah kunci untuk membangkitkan kesadaran spiritual dan mendorong persiapan diri. Rasulullah SAW bersabda: "Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan segala kelezatan, yaitu kematian" (HR. Tirmidzi).

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu juga menyebut bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti tapi seringkali dilupakan oleh manusia.

Orang yang gemar mengingat kematian akan memperoleh beberapa keutamaan, di antaranya: menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang menipu, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, serta mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiaan dan mengkonsentrasikan hati dan pikiran hanya untuk akhirat.

Mengingat kematian juga akan menumbuhkan optimisme dalam kesempitan dan membantu seseorang mengendalikan diri karena mengingat kehidupan akhirat.

Allah SAW berfirman: "Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)" (QS. Al-Anbiya: 1). Kelalaian inilah yang harus diwaspadai. Sebaliknya, orang yang bertaubat akan banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya, lalu ia menyempurnakan taubatnya.

3. Menjaga Shalat Lima Waktu dengan Khusyuk

Shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab di hari kiamat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya salat itu akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan bagi pemiliknya pada hari Kiamat" (HR. Ahmad). Shalat yang dikerjakan dengan khusyuk dan ikhlas akan menjadi penerang di alam kubur.

Gus Fahmi Amrullah Hadzik, Ketua PCNU Jombang, menyebutkan bahwa menjaga shalat adalah salah satu dari empat perkara yang dapat menerangi alam kubur. Shalat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membersihkan jiwa dari dosa-dosa.

Konsistensi dalam menjaga shalat dengan penuh kesadaran merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk memperoleh keselamatan di akhirat, termasuk di alam kubur.

4. Membaca, Menghafal, dan Mengamalkan Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah petunjuk bagi umat manusia dan akan menjadi syafaat (pemberi pertolongan) bagi orang-orang yang rajin membacanya pada hari Kiamat (HR. Muslim). Membaca Al-Qur'an secara rutin tidak hanya akan memberikan pahala, tetapi juga menjadi cahaya penerang di alam kubur.

Beberapa surat memiliki keutamaan khusus sebagai bekal di alam kubur:

• Surat Al-Mulk: Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca Surat Al-Mulk dapat memberikan perlindungan dari siksa kubur (HR. Tirmidzi). Surat ini juga disebut sebagai al-Mani'ah (yang menghalangi) karena akan membela dan melindungi pembacanya dari azab kubur.

• Surat Yasin: Membaca Surat Yasin pada hari-hari tertentu dan membacakannya untuk orang yang sedang sakit atau menjelang wafat memiliki keutamaan besar.

• Surat Al-Ikhlas: Meskipun pendek, Surat Al-Ikhlas memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali setara dengan membaca sepertiga Al-Qur'an (HR. Abu Dawud).

5. Memperbanyak Sedekah dan Amal Jariyah

Sedekah adalah amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun seseorang telah meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim).

Sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan memadamkan api siksaan di dalam kubur dan menjadi penerang di alam barzakh.

Amal jariyah seperti membangun masjid, menggali sumur, menanam pohon yang bermanfaat, atau mewakafkan Al-Qur'an akan terus mengalir pahalanya meskipun pelakunya telah tiada. Inilah yang disebut sebagai investasi akhirat yang tidak akan pernah rugi.

6. Memperbanyak Dzikir dan Kalimat Thayyibah

Dzikir adalah amalan yang sangat ringan di lisan tetapi berat timbangannya di sisi Allah. Gus Fahmi menyebutkan bahwa memperbanyak membaca kalimat thayyibah adalah salah satu amalan yang dapat menerangi alam kubur.

Kalimat-kalimat seperti Subhanallah, Alhamdulillah, la ilaha illallah, dan Allahu Akbar akan menjadi bekal yang sangat berharga.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati" (HR. Bukhari).

Dzikir akan menghidupkan hati dan menjadi cahaya di alam kubur. Bergabung dalam majelis dzikir dan tarekat juga disebut sebagai salah satu cara untuk mempersiapkan datangnya kematian dengan terus-menerus mengingat Allah.

7. Menjaga Silaturahmi dan Berbuat Baik kepada Sesama

Menjaga tali silaturahmi adalah amalan yang sangat dianjurkan dan dapat menjadi penerang di alam kubur. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang memutuskan tali silaturahmi, maka ia tidak akan masuk surga" (HR. Bukhari dan Muslim). Orang-orang yang kita jaga silaturahminya akan terus mendoakan kita setelah kita meninggal.

Selain itu, berbuat baik kepada sesama, seperti memberi makan orang lapar, membantu orang yang kesulitan, melunasi utang orang lain, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah amalan-amalan yang sangat dicintai oleh Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia".

8. Mempersiapkan Wasiat dan Menyelesaikan Utang

Persiapan menghadapi kematian juga mencakup aspek duniawi. Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah pantas bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang ingin diwasiatkan, untuk tidur dua malam kecuali wasiatnya tertulis di sisinya" (HR. Bukhari dan Muslim).

Menulis wasiat dan menyelesaikan utang-utang adalah bentuk tanggung jawab kepada keluarga dan sesama manusia yang harus diselesaikan sebelum ajal menjemput.

9. Belajar Ilmu Agama dan Memperbaiki Akidah

Ilmu agama adalah bekal utama untuk menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Memperdalam pemahaman tentang tauhid, rukun iman, dan rukun Islam akan memudahkan seseorang dalam menghadapi ujian kubur.

Imam Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam kitab Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menegaskan bahwa keyakinan adanya adzab dan nikmat kubur adalah bagian dari akidah Islam yang absolut. Mempelajari dan meyakini hal ini adalah bentuk persiapan fundamental.

10. Berzikir dan Berdoa Memohon Husnul Khatimah

Husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik adalah dambaan setiap Muslim. Tanda-tanda husnul khatimah antara lain: diakhirinya hidup dengan mengucapkan kalimat syahadat (HR. Abu Dawud), meninggal dengan keringat di dahi (HR. Tirmidzi), serta meninggal pada malam atau hari Jumat.

Berdoa memohon husnul khatimah adalah bagian dari persiapan spiritual. Rasulullah SAW mengajarkan doa: "Ya Allah, jadikanlah akhir kehidupanku adalah husnul khatimah, dan janganlah Engkau jadikan akhir kehidupanku adalah su'ul khatimah."

Memohon perlindungan dari siksa kubur dalam setiap shalat juga merupakan bentuk persiapan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Pertanyaan Seputar Bekal Menghadapi Kematian Dalam Islam

1. Apa bekal terbaik untuk menghadapi kematian menurut Islam?

Bekal terbaik untuk menghadapi kematian adalah amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat. Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang menekan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian" (HR. Tirmidzi). Amal saleh ini mencakup ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, serta amalan sunnah seperti sedekah, membaca Al-Qur'an, dan berdzikir.

2. Bagaimana cara mempersiapkan diri menghadapi sakaratul maut?

Persiapan menghadapi sakaratul maut dilakukan dengan memperbanyak amal saleh selama hidup, karena amal saleh diibaratkan sebagai obat bius yang akan meringankan rasa sakit saat sakaratul maut. Selain itu, dianjurkan untuk selalu berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah, bertaubat dari segala dosa, dan membaca kalimat syahadat sebagai ucapan terakhir.

3. Amalan apa saja yang pahalanya terus mengalir setelah meninggal?

Ada tiga amalan yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia, yaitu sedekah jariyah (seperti membangun masjid, menggali sumur, atau mewakafkan Al-Qur'an), ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada orang lain, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya (HR. Muslim). Selain itu, amal yang sifatnya memberkahi dan bermanfaat bagi orang lain juga akan terus mengalir pahalanya.

4. Mengapa mengingat kematian itu penting dalam Islam?

Mengingat kematian sangat penting karena dapat membangkitkan kesadaran spiritual dan mendorong persiapan diri untuk kehidupan setelah kematian. Orang yang gemar mengingat kematian akan menjauhkan diri dari kenikmatan dunia yang menipu, mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian, serta mengosongkan hati dari hal-hal keduniawiaan. Rasulullah SAW menyeru umatnya untuk memperbanyak mengingat kematian karena dengan begitu hidup akan lebih berhati-hati.

5. Apa yang dimaksud dengan husnul khatimah dan bagaimana cara meraihnya?

Husnul khatimah adalah akhir kehidupan yang baik, di mana seseorang meninggal dalam keadaan beriman dan diridhai oleh Allah. Tanda-tandanya antara lain: diakhirinya hidup dengan mengucapkan kalimat syahadat (HR. Abu Dawud), meninggal dengan keringat di dahi (HR. Tirmidzi), serta meninggal pada malam atau hari Jumat. Cara meraihnya adalah dengan senantiasa beramal saleh, bertaubat dari dosa, dan berdoa memohon husnul khatimah kepada Allah.

 

Â