Jelang Muktamar, Tokoh NU Dorong Kebangkitan Tradisi Menulis Kitab

Sejumlah tokoh menilai NU perlu kembali memperkuat tradisi literasi dan karya keilmuan.

Diterbitkan 10 Juli 2026, 23:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Peluncuran empat kitab karya Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026), berkembang menjadi forum yang menyoroti pentingnya penguatan tradisi keilmuan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35.

Para tokoh menilai kebangkitan NU tidak cukup ditopang oleh kekuatan organisasi, tetapi juga harus dibangun melalui tradisi literasi, karya ilmiah, dan kaderisasi ulama.

Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Prof. Mahfud MD, Prof. KH Said Aqil Siradj, Rais Syuriyah PBNU KH Abdul Ghofur Maimun, Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin, serta dimoderatori Gus H. Aniq Nawawi.

Dalam sambutannya, KH Zulfa Mustofa mengatakan menulis kitab merupakan bentuk pertanggungjawaban ilmiah seorang ulama sehingga setiap karya harus siap diuji dan dikritisi.

"Saya siap dikritik secara ilmiah. Bedah kitab ini bagi saya seperti ujian disertasi. Inilah bagian dari integritas seorang penulis," ujar KH Zulfa.

Ia menuturkan pengalamannya di PBNU sejak 2010 membentuk cara pandangnya mengenai pentingnya perpaduan antara penguasaan ilmu agama dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat.

"Seorang pengurus NU harus menjadi faqihun bi umuri dinihi sekaligus khabirun bi mashalihi khalqihi," katanya.

KH Zulfa juga berpandangan kepemimpinan NU perlu diisi kader yang dapat mencurahkan perhatian penuh kepada organisasi.

"Yang sudah di partai biarkan di partai. Yang sudah jadi menteri biarkan di kementerian. Tidak perlu dipaksa kemudian harus memimpin NU," ujarnya.

Dalam sambutan melalui video, Mahfud MD menilai kitab karya KH Zulfa menunjukkan kuatnya metodologi ushul fikih yang memiliki relevansi dengan perkembangan ilmu hukum modern.

"Ketika saya belajar hukum modern, saya justru terkejut karena banyak asas dan metodologinya sudah saya hafal sejak di pesantren melalui ushul fikih," kata Mahfud.

Ia juga mengapresiasi sosok KH Zulfa yang dinilainya mampu memadukan kemampuan berbicara, menulis, dan tetap bersikap tawadhu.

Sementara itu, KH Said Aqil Siradj melalui sambutan yang dibacakan KH Mujib Qolyubi mengingatkan bahwa NU tidak boleh hanya berkutat pada aspek organisasi, tetapi juga harus terus menjaga tradisi keilmuan pesantren.

"Nahdlatul Ulama bukan hanya sekadar urusan administratif keorganisasian, tetapi juga tentang khazanah keilmuan," demikian pesan KH Said Aqil.

Menurutnya, karya ilmiah yang lahir dari tradisi pesantren menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali kehilangan kedalaman metodologi.

Senada, Rais Syuriyah PBNU KH Abdul Ghofur Maimun berharap forum-forum besar NU, seperti Musyawarah Nasional (Munas) dan Muktamar, kembali menjadi ruang pengembangan pemikiran dan pembahasan persoalan keumatan.

"Atmosfer keilmuan harus kembali menjadi ruh Munas dan Muktamar Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Ia menilai kitab karya KH Zulfa dapat menjadi pemantik lahirnya kembali tradisi menulis dan pengembangan metodologi hukum Islam di lingkungan NU.

 

Hidupkan Kembali Tradisi Literasi

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin juga menilai karya tersebut menjadi salah satu upaya menghidupkan kembali tradisi literasi di kalangan warga Nahdliyin.

Menurutnya, pendiri NU tidak hanya mewariskan dakwah melalui lisan, tetapi juga melalui kitab-kitab yang hingga kini menjadi rujukan.

Empat kitab yang diluncurkan KH Zulfa Mustofa membahas ushul fikih, metodologi Bahtsul Masail, fatwa kontemporer, serta sejarah intelektual Syekh Nawawi Al-Bantani. Para narasumber berharap lahirnya karya tersebut menjadi momentum menguatkan kembali tradisi literasi, kaderisasi ulama, dan pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar ke-35.