Liputan6.com, Jakarta - Di tengah jutaan jemaah yang memadati Tanah Suci, Rina Abdullah berjalan pelan sambil menggenggam niat yang sudah dipupuknya selama bertahun-tahun. Perempuan 49 tahun asal Jayapura itu datang ke Makkah bukan hanya untuk menunaikan ibadah haji kedua.
Ia membawa satu tujuan yang lebih dalam: membadalkan haji untuk mendiang ibunya. Perjalanan itu sudah dimulai jauh sebelum ia mengenakan kain ihram.
Rina pertama kali berhaji pada 2011 setelah mendaftar pada 2008. Pengalaman pertamanya di Tanah Suci meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Advertisement
Ia masih mengingat momen saat pertama kali melihat Ka’bah secara langsung setelah selama ini hanya menyaksikannya lewat layar televisi.
“Waktu pertama ke sini saya langsung nangis. Tadinya cuma lihat di TV, ternyata jadi kenyataan,” kata Rina pada tim Media Center Haji di Jamarat, Mina, Kamis, 28 Mei 2026.
Di tengah tawaf wada pada haji pertamanya, Rina menyimpan sebuah keinginan. Jika suatu hari Allah kembali memberinya rezeki, ia ingin berhaji lagi untuk ibunya yang sudah meninggal sejak 2002, tiga tahun sebelum ia menikah.
Niat itu akhirnya benar-benar diwujudkan. Pada 2013, ia kembali mendaftar haji dengan tujuan khusus membadalkan sang ibu. Proses keberangkatan sempat tertunda karena pandemi COVID-19.
Penantian yang panjang justru membuat tekadnya semakin kuat. Rina mengaku ibunya semasa hidup belum sempat mendaftar haji, meski memiliki keinginan besar datang ke Tanah Suci.
Sosok sang ibu dikenangnya sebagai pekerja keras yang terus berjuang demi keluarga hingga jatuh sakit. “Mama saya memang ingin ke sini, tapi belum sempat. Jadi saya niatkan berangkat untuk beliau,” ujarnya.
Tahun ini, keberangkatan Rina bahkan sempat berada di posisi cadangan. Dua pekan sebelum keberangkatan, ia baru mendapat kepastian bisa berangkat setelah seluruh proses administrasi dan kesehatan rampung.
Baginya, kesempatan itu terasa seperti jawaban atas doa panjang yang selama ini dipanjatkan. “Yang penting kita sudah ikhtiar. Kalau memang Allah izinkan, pasti dimudahkan,” ucapnya.
Kini, setelah niat itu terlaksana, Rina merasa lebih tenang. Ia menyebut ada rasa seperti melunasi utang batin pada orangtua.
Belajar Banyak Tentang Kesabaran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7268894/original/076140100_1780054577-Pergerakan_jemaah_haji_di_Jamarat__Mina__Makkah__28_Mei_2026.__Liputan6.com_Asnida_Riani_Media_Center_Haji_2026_.jpg)
Selama menjalani rangkaian ibadah haji, Rina banyak belajar tentang kesabaran. Ia merasakan langsung beratnya perjalanan fisik di tengah cuaca panas dan kepadatan jemaah.
Kakinya bahkan sempat terkilir saat prosesi lempar jumrah. Namun, kondisi itu tidak membuatnya berhenti membantu orang lain.
Seorang teman sekamarnya yang kelelahan dan tidak sanggup berjalan akhirnya meminta bantuan pada Rina untuk melempar jumrah. Permintaan itu diterimanya tanpa berpikir panjang.
“Kalau saya bisa bantu orang, saya bantu saja. Kalau kita bermanfaat buat orang lain, biasanya rezeki juga dipermudah sama Allah,” tutur Rina.
Perjalanan menuju Tanah Suci yang dijalaninya tahun ini juga tidak sederhana. Setelah kini tinggal di Purwakarta mengikuti suami yang pensiun, Rina tetap harus berangkat melalui embarkasi Makassar karena dulu mendaftar haji dari Jayapura.
Ia berangkat dini hari dari rumah menuju Jakarta menggunakan bus Damri sebelum melanjutkan penerbangan ke Makassar dan Jeddah.
Meski melelahkan, perjalanan panjang itu terasa ringan karena niat yang dibawanya sejak awal bukan sekadar untuk dirinya sendiri.
Di sela-sela ibadahnya, Rina juga menyelipkan doa bagi saudara-saudaranya agar suatu hari bisa menyusul datang ke Tanah Suci. Ia bahkan menghaturkan doa-doa dari tetangga dan orang-orang di sekitarnya yang berharap mendapat kesempatan berhaji.
“Jangan saya saja yang bisa ke sini. Saya ingin saudara-saudara saya juga dimudahkan rezekinya supaya bisa datang ke Tanah Suci,” katanya.
Bagi Rina, haji bukan hanya perjalanan spiritual pribadi, melainkan ruang untuk menghadiahkan cinta pada orangtua dan berbagi harapan terhadap banyak orang.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321375/original/053314000_1786440887-cek_fakta_-_cpns_menpan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312818/original/023895500_1785560927-WhatsApp_Image_2026-08-01_at_12.01.08.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5134529/original/089698800_1739622825-20250215-Prabowo-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4804864/original/058141600_1713412064-cek_fakta_atm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7268798/original/037859300_1780054505-Rina_Abdulullah__jemaah_Indonesia_yang_pergi_haji_untuk_membadalkan_mendiang_ibunya__ditemui_di_Jamarat__Mina__Makkah__28_Mei_2026.__dok._Media_Center_Haji_2026_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260715/original/093405900_1781631788-Prosesi_pergantian_kain_penutup_Ka___bah_alias_kiswah_diganti_saat_Tahun_Baru_Islam__15_Juni_2026.__Asnida_Riani_Liputan6.com_Media_Center_Haji_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312505/original/095971300_1785500433-Berkas_dakwaan_Yaqut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390489/original/006123400_1761278823-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__96_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311576/original/011498300_1785406882-kemenhaj_petugas_haji_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4439341/original/074219600_1684915362-ibrahim-uz-3Z3RvzpVAqM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8201545/original/029199500_1781060187-IMG_0959_2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295369/original/088328900_1783927837-XulVyaHV1KCq8RQb5oQWdaO33LU7trdNFhnnXNbm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4094552/original/074459700_1658293668-280258405_5084084955001096_1067079962978459863_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4463448/original/027796500_1686608129-20230607_073052.jpg)