Terungkap Kisah Haru di Balik Viral Video Ibu Muda Buang ASI Saat Berhaji

Ibu muda ini sempat dihadapkan pada pilihan sulit. Mendampingi ibu berhaji atau tetap tinggal karena bayinya masih meng-ASI.

Diterbitkan 22 Mei 2026, 15:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Savira Rizky tak pernah lupa meluangkan waktunya untuk memompa ASI di sela ibadah haji. Satu per satu kantong ASI yang dibawanya dari rumah mulai terisi. Sesekali dia merenung, bahkan menangis sedih. ASI yang dipompa harus terbuang dan tak bisa dinikmati buah hati tercinta.

Sesekali, kerinduan pada anak-anaknya mengganggu hari-hari Savira di Tanah Suci. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain berdoa agar hatinya tetap tenang.

“Biasanya anak saya minum, sekarang harus dibuang. Awalnya tiap buang ASI saya nangis,” ujarnya kepada tim Media Center Haji di Makkah, Selasa, 19 Mei 2026.

Video saat Savira membuang ASI sempat ramai di media sosial. Namun di balik potongan-potongan gambar itu, ada cerita panjang tentang seorang anak yang ingin menjaga ibunya. Namun di sisi lain, ia harus ikhlas meninggalkan sementara bayinya yang masih menyusu ASI.

Savira berangkat berhaji bukan sekadar menyempurnakan rukun Islam. Ia sekaligus menemani ibunya yang baru saja melalui perjuangan melawan kanker payudara stadium 2B.

Vonis itu datang tak lama setelah Savira melahirkan anak pertamanya. Kabar tersebut langsung membawanya pada ingatan lama tentang sang nenek yang meninggal dunia saat berhaji pada 2004 setelah mengalami kondisi serupa.

“Jujur, saya takut. Takut mama dipanggil di sini,” ucapnya.

Selama berbulan-bulan, ia melihat langsung bagaimana ibunya berjuang menjalani enam kali kemoterapi, operasi pengangkatan payudara kiri, hingga 25 kali radiasi. Setiap sesi pengobatan menguras tenaga seluruh keluarga.

“Mama pernah sampai bilang, ‘Aku salah apa sama Allah?’” tuturnya pelan.

Rambut ibunya sempat rontok. Tubuhnya melemah. Bahkan hingga kini, lima bulan setelah operasi, sang ibu masih kesulitan mengangkat tangan dan bangkit saat sujud. Keluarga pun membawakan kursi lipat dari Indonesia agar ibunya tetap bisa salat lebih nyaman di masjid.

 

Pilihan Sulit Jelang Berhaji

Di tengah kondisi itu, Savira dihadapkan pada pilihan yang tak mudah: menemani ibunya berhaji atau tetap tinggal bersama anaknya yang baru berusia 10 bulan. Ia berkali-kali berdiskusi dengan suami dan keluarganya sebelum akhirnya memutuskan berangkat.

“Waktu transit di Jakarta, anak saya nangis sampai muntah. Saya juga nangis. Rasanya kalau bisa pulang, saya mau pulang,” ungkap jemaah haji asal Surabaya tersebut.

Di tengah kegamangan itu, ia mencoba percaya bahwa Allah akan menjaga keluarganya. Enam bulan sebelum keberangkatan, Savira mulai menyiapkan semuanya sendiri.

Ia rutin pumping hingga delapan kali sehari demi memenuhi freezer penuh stok ASI untuk anaknya selama ditinggal 32 hari. Ia juga menyiapkan MPASI lengkap.

Semua bahan makanan ditimbang, dipisahkan per hari, lalu diberi catatan agar suaminya tinggal memasak di rumah.

“Biar ayahnya tinggal ambil dari freezer dan masak,” ujarnya sambil tersenyum.

Setiap hari selepas Ashar, Savira menyempatkan video call sebelum anaknya tidur. Dari layar ponsel, ia membacakan doa sambil menenangkan anaknya dari kejauhan.

“Saya bilang, ‘Nak yang salehah, jangan rewel ya, jangan repotin papa,’” tuturnya.

Kini, ia membatasi panggilan video hanya tiga kali sehari karena takut anaknya semakin mencari keberadaannya. Selebihnya, ia memantau lewat CCTV dua arah yang dipasang di rumah.

Kadang ia panik saat anaknya tak terlihat di kamera karena tertutup bantal atau berpindah tempat.

“Langsung saya tanya ke rumah, ‘Anaknya di mana?’” katanya sambil tertawa kecil.

Di tengah rasa rindu itu, ia tetap harus menjaga produksi ASI. Ia membawa dua alat pumping ke Arab Saudi, termasuk pompa handsfree yang bisa dipakai saat berada di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi.

“Sekarang, teknologi bikin pumping enggak mengganggu ibadah. Bahkan sambil tawaf pun bisa,” katanya.

Meski begitu, tubuhnya tetap merasakan lelah. Produksi ASI sempat turun drastis karena kelelahan, kurang tidur, dan pengaruh obat hormon penunda haid.

Ia mengaku sempat merasa bersalah ketika mulai memberi susu formula pada anaknya sebelum keberangkatan.

“Anak saya nggak pernah minum selain ASI. Jadi waktu pertama kasih susu formula, saya deg-degan banget,” ujarnya.

Namun perlahan ia belajar menerima keadaan. Dokter anak juga memastikan bayinya tetap aman mengonsumsi susu campuran selama stok ASI dijaga.

Di sisi lain, ibunya justru terlihat jauh lebih bahagia sejak tiba di Tanah Suci. Air mata sang ibu pecah pertama kali saat memasuki Raudhah di Madinah.

“Di situ mama nangis banget. Saya merasa mungkin ini hadiah dari Allah setelah ujian panjang kemarin,” katanya.

Meski kondisi fisik belum sepenuhnya pulih, sang ibu beberapa kali ingin ikut umrah sunah tambahan karena merasa tubuhnya lebih sehat di Makkah.

“Itu yang justru bikin saya takut,” katanya.

Ia teringat cerita ayahnya tentang neneknya yang wafat menjelang puncak haji setelah sempat terlihat sangat sehat. Pikiran itu beberapa kali datang diam-diam selama di Makkah.

 

Doa-doa Tulus dari Tanah Suci

Namun setiap kali rasa takut muncul, Savira memilih kembali memeluk doanya sendiri. Menjelang puncak haji, Savira mulai menulis daftar doa di buku kecil. Sebagian besar berisi permohonan kesembuhan untuk ibunya, ampunan untuk keluarganya, dan harapan agar suatu hari nanti ia bisa kembali ke Tanah Suci bersama anak dan keluarga besar.

“Saya cuma pengin mama sehat dan bisa pulang lagi ke Indonesia,” katanya.

Menjelang akhir wawancara, ia menyampaikan pesan untuk para ibu yang kelak harus meninggalkan anak demi berhaji.

“Mungkin berat banget ninggal anak. Tapi yakinlah Allah pasti jaga mereka,” ujarnya.

Ia percaya setiap air susu yang terbuang selama perjalanan ibadahnya tidak akan sia-sia. “Allah pasti ganti dengan yang lebih baik,” katanya.