Doa Tarawih Pendek Latin, Arab, dan Artinya Lengkap dengan Penjelasan Tarawih

Doa Tarawih Pendek Latin, atau Doa Kamilin, menjadi amalan penting setelah salat Tarawih. Pahami makna dan keutamaannya agar ibadah Ramadan kian berkah.

Diterbitkan 10 Maret 2026, 05:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Doa tarawih pendek Latin menjadi salah satu bacaan yang banyak dicari umat Islam saat bulan Ramadan tiba. Setelah menunaikan salat Tarawih, umat Muslim dianjurkan untuk memanjatkan doa sebagai bentuk harapan agar ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah SWT dan diberi kekuatan untuk istiqamah hingga akhir Ramadan.

Salat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Di Indonesia, tradisi membaca doa bersama setelah Tarawih sudah mengakar kuat di berbagai masjid dan musala. Salah satu doa yang paling populer adalah Doa Kamilin yang biasa dibaca secara berjamaah.

Momentum Ramadan menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak doa. Selain memperbanyak istighfar dan shalawat, membaca doa setelah Tarawih menjadi pelengkap ibadah malam yang penuh keberkahan ini. Berikut ulasn lengkap Liputan6.com, Kamis (5/3/2026).

Doa Tarawih Pendek (Doa Kamilin) Arab, Latin, dan Artinya

Mengacu pada laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui mui.or.id, doa yang lazim dibaca setelah Tarawih di Indonesia dikenal dengan sebutan Doa Kamilin. Berikut lafaz lengkapnya:

طَالِبِيْنَ، وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ، وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ، وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ، وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ، وَفِي الْاٰخِرَةِ رَاغِبِيْنَ، وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ، وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ، وَعَلَى الْبَلَاءِ صَابِرِيْنَ، وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ، وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْن، وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ، وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ، وَعَلَى سَرِيْرِ الْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ، وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ، وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ، وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ، وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ، بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا، ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا فِي هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاٰلِه وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Allahumma ij‘alnaa bil-iimaan kaamiliin, walil-faraa’idh mu-addiin, walish-shalaati haafidziin, waliz-zakaati faa‘iliin, walimaa ‘indaka thaalibiin, wali ‘afwika raajiin, wabil-hudaa mutamassikiin, wa ‘anil-laghwi mu‘ridhiin, wa fid-dunyaa zaahidiin, wa fil aakhirati raaghibiin, wabil-qadhaa’i raadhiin, walin-na‘maa’i syaakiriin, wa ‘alal-balaa’i shaabiriin, wa tahta liwaa’i Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam yaumal qiyaamati saairiin, wa ‘alal haudhi waaridiin, wa ilal jannati daakhiliin, wa minan naari naajiin, wa ‘alaa sariiril karaamati qaa‘idiin, wa bihuurin ‘iin mutazawwijiin, wa min sundusin wa istabraqin wa diibaajin mutalabbisiin, wa min tha‘aamil jannati aakiliin, wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syaaribiin, bi akwaabin wa abaariqa wa ka’sin mim ma‘iinin ma‘al ladziina an‘amta ‘alaihim minan nabiyyin wash-shiddiqiin wash-syuhadaa’i wash-shaalihiin, wa hasuna ulaa’ika rafiiqaa, dzaalikal fadhlu minallaah, wa kafaa billaahi ‘aliimaa. Allahumma ij‘alnaa fii haadzihil lailatisy syahrisy syariifatil mubaarakah minas su‘adaa’il maqbuuliin, wa laa taj‘alnaa minal asyqiyaail marduudiin. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi ajma‘iin, birahmatika yaa arhamar raahimiin, walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, menunaikan kewajiban-kewajiban, menjaga shalat, menunaikan zakat, mencari sesuatu yang ada di sisi-Mu, mengharapkan ampunan-Mu, berpegang teguh pada petunjuk-Mu, berpaling dari perkara yang sia-sia, zuhud terhadap dunia, senang terhadap akhirat, ridho dengan ketetapan-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, bersabar menghadapi cobaan, berjalan di bawah panji Nabi Muhammad SAW pada hari Kiamat, mengunjungi telaga (Kautsar), masuk ke dalam surga, selamat dari neraka, duduk di atas ranjang kemuliaan, menikahi bidadari, mengenakan sutera tebal dan tipis yang indah, menikmati makanan surga, minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cerek, dan piala yang berasal dari mata air surga, bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka itulah sebaik-baik teman. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan penuh berkah ini termasuk orang-orang yang berbahagia dan diterima amalnya. Janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang sengsara dan ditolak amalnya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Doa ini disebut “Kamilin” karena diawali dengan permohonan agar dijadikan hamba yang sempurna imannya. Kandungannya sangat lengkap, mencakup aspek dunia dan akhirat, keselamatan dari api neraka, hingga harapan berkumpul bersama para nabi dan orang saleh.

Doa ini juga tercantum dalam berbagai kitab doa ulama Nusantara seperti Silah al-Mujarrab karya KH Maftuh Basthul Birri serta Majmu’ah Maqruat Yaumiyah wa Usbu’iyyah yang disusun KH Abdullah Faqih Langitan.

Penjelasan tentang Salat Tarawih Menurut Ulama

Salat Tarawih adalah salat sunnah yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadan setelah salat Isya. Secara bahasa, “tarawih” berasal dari kata tarwiihah yang berarti istirahat, karena pada praktiknya terdapat jeda setiap empat rakaat.

Dalam mazhab Syafi’i, jumlah rakaat Tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 kali salam, tidak termasuk Witir. Hal ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab yang menyebut bahwa pendapat tersebut merupakan mazhab Syafi’i dan juga dipegang oleh mayoritas ulama seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.

Sementara itu, sebagian ulama mazhab Hanafi seperti Imam al-Kamal Ibnu al-Humam dalam Fathul Qadir menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan qiyam Ramadan sebanyak 11 rakaat termasuk Witir. Karena itu, menurut sebagian ulama, 8 rakaat sudah mencukupi kesunnahan, sedangkan 20 rakaat termasuk amalan yang sangat dianjurkan (mustahab).

Perbedaan ini menunjukkan keluasan syariat Islam. Umat Muslim dapat memilih jumlah rakaat sesuai keyakinan mazhab dan kondisi masing-masing, tanpa saling menyalahkan.

Keutamaan Salat Tarawih

Banyak hadis sahih yang menjelaskan keutamaan Tarawih. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:

“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Tarawih bukan sekadar salat sunnah biasa, melainkan bagian dari qiyam Ramadan yang memiliki nilai ibadah tinggi. Selain itu, salat berjamaah di masjid juga mempererat ukhuwah Islamiyah.

Di Indonesia, pembacaan doa bersama setelah Tarawih menjadi tradisi yang memperkaya spiritualitas Ramadan. Tradisi ini tidak bertentangan dengan syariat selama doa yang dibaca berisi kebaikan dan tidak menyelisihi akidah.

Karena itu, memahami dan menghafal doa tarawih pendek Latin sangat membantu bagi jamaah yang belum lancar membaca huruf Arab. Dengan demikian, mereka tetap dapat mengikuti doa bersama dengan khusyuk.

Mengapa Doa Setelah Tarawih Dianjurkan?

Setelah menunaikan ibadah, waktu tersebut termasuk momen mustajab untuk berdoa. Para ulama menjelaskan bahwa doa setelah ibadah memiliki peluang besar untuk dikabulkan karena dilakukan dalam kondisi hati yang tunduk dan penuh pengharapan.

Doa Kamilin memuat berbagai permohonan penting:

  • Kesempurnaan iman
  • Keteguhan menjalankan kewajiban
  • Kesabaran dalam ujian
  • Keselamatan di akhirat
  • Diterimanya amal pada malam Ramadan

Membaca doa tarawih pendek Latin secara rutin juga membantu memperdalam makna ibadah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban sunnah.

FAQ Seputar Salat Tarawih

1. Berapa jumlah rakaat salat Tarawih yang benar?

Mayoritas ulama mazhab Syafi’i menetapkan 20 rakaat. Namun, 8 rakaat juga sah dan memiliki dasar dalil.

2. Apakah Tarawih harus berjamaah di masjid?

Tidak wajib. Boleh dilakukan sendiri di rumah, meskipun berjamaah lebih utama.

3. Apakah wajib membaca Doa Kamilin setelah Tarawih?

Tidak wajib. Doa tersebut merupakan tradisi baik yang dianjurkan, bukan kewajiban.

4. Kapan waktu pelaksanaan Tarawih?

Dilaksanakan setelah salat Isya hingga sebelum masuk waktu Subuh.

5. Bolehkah membaca doa dengan bahasa Indonesia?

Boleh, terutama bagi yang belum mampu membaca bahasa Arab, selama maknanya baik dan tidak menyimpang.