Liputan6.com, Jakarta Salah satu sholawat yang populer di Indonesia dan dikenal banyak umat muslim, adalah Sholawat Khobbiri. Amalan ini jadi salah satu yang paling banyak diamalkan, khususnya dalam acara majelis sholawat dan peringatan maulid Nabi. Sholawat Khobbiri dipopulerkan oleh KH. Muhammad Zaini Ghani atau yang juga dikenal sebagai Guru Sekumpul, sholawat ini kian terkenal karena syairnya yang penuh dengan ungkapan kerinduan kepada Rasulullah SAW.
Tidak hanya itu, Sholawat Khobbiri juga dikenal istimewa karena mampu menggugah perasaan dan membangkitkan kerinduan yang mendalam terhadap Rasulullah SAW. Dimana setiap bait dari Sholawat Khobbiri ini mengandung makna yang sangat filosofis, dengan penggambaran pergulatan batin seorang muslim yang merindukan sosok Nabi Muhammad SAW. Popularitas sholawat ini semakin luas setelah dibawakan oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.
Untuk Anda yang ingin mencoba mengamalkannya, berikut ini telah Liputan6 rangkum lirik dan makna lengkap Sholawat Khobbiri, beserta dengan keutamaannya, pada Rabu (26/11).
Advertisement
Lirik Lengkap Sholawat Khobbiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5377296/original/064898000_1760087029-Ilustrasi_Pria_Mengamalkan_Sholawat_Jibril.jpg)
Populer di kalangan masyarakat muslim di Indonesia, Sholawat Khobbiri memiliki lirik yang sangat indah dengan makna yang mendalam, setiap baitnya menggambarkan kondisi jiwa yang sedang dilanda kerinduan yang luar biasa kepada Rasulullah SAW.
Kata ‘Khobbiri’ sendiri jika diartikan secara harfiah memiliki arti ‘berilah kabar kepadaku’ atau ‘kabarilah aku’. Dari sini dapat diambil gambaran bagaimana kerinduan seorang hamba yang begitu besar, hingga memohon agar angin membawa kabarnya. Ini merupakan bentuk metafora yang sangat indah tentang bagaimana cinta kepada Rasulullah SAW, bisa menggerakan seluruh alam semesta dan isinya.
Berikut ini adalah lirik lengkap bacaan Sholawat Khobbiri beserta terjemahannya:
خَبِّرِي يَا نُسَيْمَى عَنْ مُغْرَامْ شَذِيْ وَالْهَانْ
"Khobbirii yaa nusaimaa 'an mughroom syadii wal haan"
Artinya: "Berilah kabar kepadaku, wahai angin sepoi-sepoi, tentang orang yang tergila-gila, sangat rindu, dan bingung."
عَا شِقْ أَهْ عَا شِقْ أَهْ عَاشِقِ الْأَنْـوَارْ
"'Aasyiq 'aasyiq 'aasyiqil anwaar"
Artinya: "Oh rindu, oh rindu, rindu kepada cahaya."
أَنْتِ عَنِّي تَشْتَكِي وَالْحَالِي كُلَّ الْلَّيَلِ سَهْرَانْ
"Anti 'annii tasytakiinna wal haal kullil-layaalii syahron"
Artinya: "Engkau perintahkan aku mengadu kepadanya, lihatlah keadaanku, sepanjang malam aku begadang."
كَي أَرَا الْمُخْتَارْ
"Kay arool mukhtaar"
Artinya: "Agar aku dapat memandang Nabi Al-Mukhtar (Nabi pilihan)."
مَن يَّـلْمُنِي فِي غَرَامِي طَا لَمَا عَاشِقْ جَمَالَكْ
"Man yalumnii fii ghoroomii thoolamaa 'aasyiq jamaalak"
Artinya: "Barang siapa menghina penyakitku, sungguh sangat terlambat karena kerinduanku pada keindahan kekasihku sudah lama."
يَا مُكَرَّمْ يَا مُمَجَّدْ يَا مُؤَيَّدْ بِالشَّفَاعَةْ
"Yaa mukarrom yaa mumajjad yaa mu-ayyad bisysyafaa'ah"
Artinya: "Wahai yang dimuliakan, yang diagungkan, yang dikuatkan dengan syafa'at."
Sholawat Khobbiri ini memiliki struktur yang menonjolkan kedalaman maknanya yang luar biasa. Dimana setiap baitnya mengandung ungkapan kerinduan yang berbeda-beda, mulai dari permohonan kabar hingga harapan untuk bisa mendapatkan syafaat Rasulullah SAW. Penggunaan bahasa Arab klasik dengan gaya sastra yang tinggi dalam Sholawat Khobbiri ini, menambahkan keindahan dan kesakralan sholawat ini.
Bagian awal Sholawat Khobbiri berisi permohonan kabar kepada angin yang menggambarkan kondisi jiwa yang gelisah karena rasa rindu. Dalam tradisi bahasa Arab sendiri, angin sering dijadikan simbol penghubung antara yang merindukan dengan yang dirindu. Konsep ini juga selaras dengan pemahaman bahwa seluruh alam semesta dalam menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Kemudian pada pengulangan kata ‘aasyiq’ yang jika diartikan ‘rindu’ menunjukan adanya perasaan yang sangat mendalam. Kerinduan kepada ‘anwar’ atau yang diartikan ‘cahaya-cahaya’ merujuk kepada sifat Rasulullah SAW yang merupakan pembawa cahaya dan hidayah bagi seluruh umat manusia. Dalam konteks ini, cahaya bukan hanya sebatas fisik, namun juga cahaya spiritual yang menerangi hati dan jiwa para pengikutnya.
Advertisement
Praktik dan Tradisi Membaca Sholawat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5402343/original/037345800_1762244580-Sholawat_di_Masjid.jpg)
Sholawat Khobbiri umumnya dibaca dalam berbagai acara keagamaan, seperti majelis sholawat, peringatan maulid Nabi, hingga acara-acara keagamaan lainnya. Tradisi mengamalkan Sholawat Khobbiri ini, sering kali dilakukan secara berjamaah dengan irama dan melodi yang khusyuk, menciptakan atmosfer yang mendalam dan bermakna.
Sedangkan dalam praktiknya, Sholawat Khobbiri tidak hanya dibaca, namun juga dihayati sebagai bentuk dzikir dan ikhtiar. Pengamalan sholawat ini juga membuat pengamalnya bisa merasakan setiap kata dan makna yang terkandung di dalamnya, bukan sekadar mengucapkan tanpa penghayatan. Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
"Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia." (HR. Bukhari dan Muslim)
Amalan Sholawat Khobbiri juga merupakan bentuk upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWt dan memohon syafaat Rasulullah SAW. Dalam Islam sendiri, syafaat Nabi Muhammad SAW adalah salah satu keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada mereka yang mengamalkannya. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Quran surat Al Isra ayat 79:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
Artinya: "Dan pada malam hari, bangunlah untuk tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (maqam mahmud)." (QS. Al-Isra: 79)
Sedangkan dalam aspek sosial, Sholawat Khobbiri juga berperan untuk mempererat ikatan ukhuwah islamiyah di antara umat Muslim. Majelis-majelis Sholawat yang membawakan ini umumnya menjadi wadah dan ajang untuk silaturahmi dan penguatan nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan hadist Rasulullah SAW yang berbunyi:
"Sesungguhnya Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia. Para sahabat bertanya: 'Siapakah mereka, ya Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Ahlul Qur'an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya.'" (HR. Ibnu Majah)
Sholawat Khobbiri juga mengandung nilai edukatif yang sangat tinggi dalam konteks pendidikan akhlak dan tasawuf. Melalui syair-syair yang ada dalam Sholawat Khobbiri, umat muslim diajarkan tentang salah satu bentuk seorang muslim yang mencintai Rasulullah SAW dengan sepenuh hatinya. Dimana konsep cinta dalam Islam, bukan hanya emosi biasa, namun cinta yang dilandasi dengan ketaatan dan keteladanan.
Kemudian dari perspektif dakwah, Sholawat Khobbiri merupakan media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Melalui keindahan syair dan melodi yang menyentuh hati, membuat pesan-pesan yang terkandung didalamnya bisa lebih mudah diterima dan dihayati oleh masyarakat. Ini sesuai dengan metode dakwah yang diajarkan dalam Al Quran, tepatnya pada surat An Nahl ayat 125 yang berbunyi:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125)
Sholawat Khobbiri sebagai media dakwah memiliki kelebihan karena bisa menyentuh aspek emosional dan spiritual secara bersamaan, dimana ketika seseorang mendengarkan Sholawat Khobbiri dengan penuh penghayatan, dia tidak hanya mendapatkan keindahan, namun juga pembelajaran yang bermakna tentang cinta kepada Rasulullah SAW.
Keutaman dan Manfaat Membaca Sholawat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411320/original/017255100_1763010967-jamaah_membaca_sholawat_rohatil.png)
Sholawat menjadi salah satu amalan sunnah yang memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam, karena bisa mendatangkan banyak keutamaan yang luar biasa. Hal ini tidak hanya dijelaskan dalam Al Quran, namun juga dalam hadits-hadits shahih. Dalam Al Quran sendiri secara tegas telah dijelaskan perintah untuk umat beriman agar bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Ahzab ayat 56:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)
Ayat ini menunjukan bahwa Allah SWT dan para malaikat juga turut bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Dalam hadits lain, juga turut diungkapkan bagaimana manfaat dan keutamaan dari sholawat, dimana Rasulullah SAW sendiri bersabda:
"Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim).
Dalam konteks Sholawat Khobbiri, ungkapan kerinduan dan cinta yang mendalam kepada Rasulullah SAW dapat menjadi wasilah untuk memperoleh keberkahan. Para ulama juga menjelaskan bahwa semakin tulus dan khusyuk seseorang bersholawat, makan semakin besar pula keberkahan yang diperolehnya.
Tanya Jawab (Q&A)
Q: Apakah ada adab khusus dalam membaca Sholawat Khobbiri?
A: Seperti sholawat lainnya, Sholawat Khobbiri sebaiknya dibaca dalam keadaan suci, dengan penuh khusyuk dan penghayatan. Disarankan untuk memahami makna setiap bait agar dapat merasakan kerinduan spiritual yang terkandung di dalamnya. Yang terpenting adalah niat yang ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kecintaan kepada Rasul-Nya.
Q: Kapan waktu yang tepat untuk membaca Sholawat Khobbiri?
A: Sholawat Khobbiri dapat dibaca kapan saja, terutama dalam majelis sholawat, peringatan maulid Nabi, atau saat-saat khusyuk seperti setelah sholat. Banyak yang membacanya di malam hari sebagai bentuk munajat dan kontemplasi spiritual. Yang penting adalah konsistensi dan kekhusyukan dalam pengamalan.
Q: Apakah Sholawat Khobbiri memiliki keutamaan khusus?
A: Secara umum, semua sholawat kepada Nabi Muhammad SAW memiliki keutamaan yang besar berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits. Sholawat Khobbiri, sebagai ungkapan cinta yang mendalam kepada Rasulullah SAW, dapat menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon syafa'at Nabi di akhirat kelak. Namun, yang terpenting adalah keikhlasan niat dan konsistensi dalam pengamalan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497481/original/095565600_1770631238-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T163415.626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292724/original/032902100_1783654519-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T102917.054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5532976/original/075889100_1773717683-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-17T102114.591.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5424215/original/085499100_1764136424-Sholawat_Khobbiri.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288956/original/060181200_1783352729-Yuran_Fernandes__dok._Persebaya_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264044/original/048184800_1782061399-063_2282635876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289370/original/055592900_1783402351-belgia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288262/original/025055100_1783308426-eng5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292649/original/094376400_1783641258-Achraf_Hakimi_dan_Ayyoub_Bouadd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288081/original/061472300_1783298244-nor8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289008/original/052236500_1783385709-sp2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292646/original/028409800_1783639977-Facundo_Tello.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292621/original/094494100_1783638050-fran1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292619/original/010111700_1783634834-000_B9T69X7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292618/original/088093700_1783634462-000_B9T74UT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292617/original/012709000_1783634462-000_B9T69YH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5402935/original/045204600_1762311893-priest-holding-holy-book-bracelet.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578218/original/043626100_1782536515-Fyq4bXXn1T50XXKM61qkf7VNO2GT7lL1Po9x1gp1.jpg)