Doa Menyembelih Hewan Aqiqah Anak Perempuan Arab dan Arti: Panduan Lengkap

Aqiqah anak perempuan adalah wujud syukur atas karunia Allah SWT. Pahami makna, syarat, dan doa menyembelih hewan aqiqah anak perempuan agar ibadah diterima dan berkah.

Diterbitkan 15 Agustus 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Aqiqah merupakan wujud syukur atas kelahiran anak, termasuk bagi anak perempuan. Di dalamnya, terdapat bacaan doa menyembelih hewan aqiqah anak perempuan yang memiliki makna khusus.

Melalui aqiqah, orang tua mengekspresikan rasa terima kasih atas anugerah yang diberikan, sekaligus memohon perlindungan dan kebaikan bagi buah hati mereka. 

Menurut Abu Nur Ahmad al-Khafi Anwar bin Shabri Shaleh Anwar dalam bukunya Aqiqah (Tata Cara & Doanya), aqiqah secara istilah diartikan sebagai penyembelihan hewan kurban karena kelahiran bayi sebagai bentuk rasa syukur atas karunia Allah SWT.

Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Jumat (15/08/2025).

Doa Menyembelih Hewan Aqiqah Anak Perempuan (Arab, Latin, dan Artinya)

Saat melaksanakan aqiqah, baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan, dianjurkan untuk membaca doa tertentu ketika menyembelih hewan.

Doa ini merupakan bentuk penyerahan diri dan permohonan kepada Allah SWT agar ibadah aqiqah yang dilakukan diterima. Pembacaan doa ini menjadi bagian integral dari kesempurnaan ibadah.

Lafaz doa menyembelih hewan aqiqah anak perempuan secara spesifik tidak berbeda dengan anak laki-laki. Perbedaannya hanya terletak pada penyebutan nama bayi yang diaqiqahi pada bagian akhir doa. 

Mengutip buku Panduan Muslim Sehari-hari oleh Dr. KH. M. Hamdan Rasyid, MA dan Saiful Hadi El-Sutha, bacaan niat aqiqah dapat dibacakan oleh orang tua atau wali bayi. Bacaan niat yang dilafalkan Rasulullah SAW untuk cucunya saat hendak menyembelih hewan aqiqah adalah sebagai berikut:

Bacaan Doa Menyembelih Hewan Aqiqah:... بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ 

Bacaan Latin: Bismillâhi wallâhu akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni. Hadzihi ‘aqiqatu…(sebutkan nama bayi)

Artinya: "Dengan menyebut asma Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah akikahnya … (sebutkan nama bayi)."

Proses penyembelihan hewan aqiqah sebaiknya dilakukan oleh orang yang berpengalaman, menghadap kiblat, serta menggunakan pisau yang tajam dan bersih. Ini bertujuan untuk memastikan hewan disembelih dengan cepat dan tidak menyiksanya, sesuai dengan syariat Islam. 

Pahami Aqiqah dan Hukumnya

Aqiqah secara bahasa berarti 'memutus' atau 'memotong', dan juga merujuk pada rambut kepala bayi yang baru lahir. Secara istilah, aqiqah adalah penyembelihan hewan yang dilakukan pada hari ketujuh kelahiran bayi sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat Allah SWT berupa kelahiran seorang anak. 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud menjelaskan bahwa aqiqah disebut demikian karena mengandung dua unsur, yaitu

  1. menyembelih hewan pada hari ketujuh dan
  2. mencukur rambut bayi.

Hal ini menunjukkan bahwa aqiqah tidak hanya sekadar penyembelihan, tetapi juga melibatkan ritual lain yang memiliki makna simbolis.

Hukum aqiqah menurut mayoritas ulama adalah sunah muakkadah, yaitu sunah yang sangat dianjurkan bagi umat Muslim yang mampu melaksanakannya.

Jika seseorang mampu, ia dianjurkan untuk melakukan aqiqah bagi anaknya saat masih bayi. Namun, bagi yang tidak mampu, pelaksanaan aqiqah dapat ditiadakan, menunjukkan fleksibilitas dalam syariat.

Rasulullah SAW bersabda, "Setiap bayi dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari tujuh, dicukur dan diberi nama." (HR Sumurah bin Jundab).

Jumlah hewan aqiqah yang disyariatkan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan.

  • Untuk anak laki-laki disunahkan menyembelih dua ekor kambing,
  • sedangkan untuk anak perempuan cukup satu ekor kambing,

sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat At-Tirmidzi dari Aisyah.

Syarat-Syarat Hewan Aqiqah

Pemilihan hewan untuk aqiqah memiliki syarat dan ketentuan yang serupa dengan hewan kurban, untuk memastikan ibadah sah dan diterima. Syarat-syarat ini mencakup jenis, umur, dan kondisi fisik hewan, memastikan kualitas ibadah yang optimal. Kepatuhan terhadap syarat ini adalah bagian penting dari pelaksanaan aqiqah.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hewan yang sah untuk aqiqah adalah kambing atau domba.

Beberapa pendapat lain memperbolehkan hewan seperti sapi atau unta, namun dengan jumlah yang lebih banyak, misalnya satu sapi untuk tujuh bagian. Ini memberikan pilihan bagi umat Muslim sesuai kemampuan dan kondisi.

Hewan yang disembelih harus memenuhi batas usia minimal.

  • Untuk kambing, usia minimal adalah 1 tahun (sudah memasuki tahun ke-2),
  • sedangkan untuk domba minimal 6 bulan (sudah memasuki bulan ke-7).

Jika hewan berumur kurang dari ketentuan ini, aqiqah tidak sah dan harus diulang, menekankan pentingnya kriteria usia.

Selain itu, hewan aqiqah harus sehat jasmani dan tidak memiliki cacat yang mengurangi nilai dan manfaatnya.

  1. Hewan harus cukup gemuk,
  2. tidak kurus kering,
  3. tidak buta,
  4. tidak pincang,
  5. tidak sakit, atau
  6. tidak memiliki cacat lainnya.

Tidak ada ketentuan khusus mengenai jenis kelamin hewan untuk aqiqah, baik jantan maupun betina diperbolehkan, meskipun sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa hewan aqiqah harus jantan.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Waktu pelaksanaan aqiqah yang paling utama dan dianjurkan adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap anak tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama. Keterlambatan tanpa alasan yang syar'i tidak dianjurkan.

Jika tidak memungkinkan untuk melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh, aqiqah dapat dilakukan pada hari ke-14 atau hari ke-21 setelah kelahiran.

Beberapa ulama, seperti Imam Malik, juga memperbolehkan pelaksanaan aqiqah kapan saja jika ada kesulitan, bahkan hingga anak dewasa sebelum baligh. Namun, menunda aqiqah tanpa alasan kuat tidak dianjurkan.

Meskipun tidak ada ketentuan spesifik dalam Al-Qur'an mengenai waktu menyembelih hewan aqiqah, hadis dan pemahaman ulama memberikan gambaran waktu yang dianjurkan. Waktu paling dianjurkan adalah pada pagi hari, bahkan beberapa

  • ulama Syafi'i lebih spesifik menyarankan saat matahari terbit.
  • Ulama Hanbali menganjurkan jelang siang,
  • sementara mazhab Maliki memperbolehkan menyembelih sepanjang siang hari.

Meskipun kontroversial, sebagian ulama memperbolehkan penyembelihan di malam hari, namun ulama Maliki umumnya tidak sependapat. Penting untuk diingat bahwa menunda aqiqah tanpa alasan kuat tidak dianjurkan, dan niat serta tata cara yang benar tetap harus diperhatikan meskipun tidak dilakukan pada hari ketujuh.

Hikmah Disyariatkannya Aqiqah

Aqiqah memiliki banyak hikmah dan manfaat, baik secara spiritual maupun sosial, bagi orang tua dan anak yang diaqiqahi. Ini adalah bentuk pengorbanan yang mendekatkan anak kepada Allah pada awal kehidupannya, menanamkan nilai tauhid dan ketaatan sejak dini.

  • Aqiqah menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia kelahiran anak.
  • Melaksanakan aqiqah berarti menjalankan salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW, yang akan mendatangkan pahala. 

Aqiqah diyakini dapat membebaskan anak dari ketergadaian atau tebusan dari berbagai musibah dan kehancuran, serta dari kekangan jin yang mengiringi bayi sejak lahir. Ini juga merupakan pembayaran utang orang tua kepada anaknya.

  • Memperkuat tali ikatan kekeluargaan dan persaudaraan.

Dengan membagikan daging aqiqah kepada kerabat, tetangga, dan orang yang membutuhkan, aqiqah dapat memperkuat tali ikatan kekeluargaan dan persaudaraan di antara anggota masyarakat. Ini adalah sarana berbagi kebahagiaan dan menciptakan solidaritas sosial. Aqiqah diyakini dapat menebus dosa orang tua dan menjadi syafaat bagi mereka di akhirat kelak.

Meskipun Al-Qur'an tidak secara eksplisit menyebutkan ritual aqiqah, beberapa ayat ditafsirkan oleh para ulama untuk menunjukkan pentingnya dan hikmah yang mendasarinya.

Contohnya, Surat Ibrahim Ayat 37 menekankan pentingnya berkurban dan memohon ampun, sementara Surat Al-Baqarah Ayat 183 membahas pentingnya berbagi nikmat kepada yang membutuhkan, yang semuanya tercermin dalam praktik aqiqah.

Tujuan Utama Aqiqah

  • Tujuan utama pelaksanaan aqiqah adalah menyambut kelahiran anak dengan rasa syukur dan bahagia.

Kelahiran anak merupakan anugerah dari Allah SWT yang patut disyukuri, dan aqiqah menjadi salah satu wujud rasa syukur atas karunia tersebut. Melalui aqiqah, orang tua dapat berbagi kebahagiaan kepada saudara dan tetangga.

  • Aqiqah juga bertujuan untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi anak.

Dengan melaksanakan aqiqah, diharapkan anak akan terhindar dari bahaya dan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Acara aqiqah biasanya disertai pembacaan doa-doa untuk bayi agar mendapat keuntungan yang tiada terhitung jumlahnya.

  • Selain itu, aqiqah diyakini dapat menebus dosa dan menjadi syafaat bagi orang tua di akhirat kelak.

Orang tua yang mengaqiqahkan anak mereka akan memperoleh syafaat dari anak tersebut di hari akhir. Ini adalah investasi spiritual jangka panjang bagi orang tua.

  • Memperkuat hubungan sosial juga menjadi tujuan penting aqiqah.

Dengan membagikan daging aqiqah kepada fakir miskin dan tetangga, diharapkan hubungan sosial akan semakin erat dan terjalin rasa persaudaraan.

Hal ini juga diperkuat dalam QS. Al-Hajj: 34 yang artinya "Dan bagi setiap umat ada hewan kurban, agar mereka menyebut nama Allah atas apa yang Dia berikan kepada mereka dari hewan ternak. Maka makanlah daripadanya dan berikanlah kepada orang yang fakir miskin yang sangat membutuhkan."

Daftar Sumber

  • Aqiqah (Tata Cara & Doanya) | Abu Nur Ahmad al-Khafi Anwar bin Shabri Shaleh Anwar
  • Al-Tarbiyah: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam | Mhd. A. Haris Sikumbang, Mahfudin Arif Ridho, Aswan Lubis, Harun Al-Rasyid | April 2024
  • Panduan Muslim Sehari-hari | Dr. KH. M. Hamdan Rasyid, MA dan Saiful Hadi El-Sutha
  • mui.or.id
  • Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud

FAQ

1. Apa itu aqiqah anak perempuan?

Aqiqah anak perempuan adalah penyembelihan satu ekor kambing atau domba sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang bayi perempuan. Ibadah ini merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan bagi orang tua yang mampu.

2. Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah anak perempuan?

Waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah anak perempuan adalah pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Jika tidak memungkinkan, dapat dilakukan pada hari ke-14 atau ke-21, atau bahkan sebelum anak mencapai usia baligh.

3. Berapa jumlah hewan aqiqah untuk anak perempuan?

Untuk aqiqah anak perempuan, disunahkan menyembelih satu ekor kambing atau domba yang memenuhi syarat. Ini berbeda dengan anak laki-laki yang disunahkan menyembelih dua ekor kambing.

4. Apakah doa menyembelih hewan aqiqah anak perempuan berbeda dengan anak laki-laki?

Lafaz doa menyembelih hewan aqiqah anak perempuan tidak berbeda dengan anak laki-laki. Perbedaannya hanya terletak pada penyebutan nama bayi yang diaqiqahi pada bagian doa "Hadzihi ‘aqiqatu…(sebutkan nama bayi)".

5. Siapa yang sebaiknya menyembelih hewan aqiqah?

Proses penyembelihan hewan aqiqah sebaiknya dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman dan memahami syariat penyembelihan dalam Islam. Orang tua juga dianjurkan untuk menyaksikan proses penyembelihan tersebut.

6. Apa saja rangkaian acara aqiqah selain penyembelihan?

Selain penyembelihan hewan, rangkaian acara aqiqah juga disunahkan disertai dengan mencukur rambut bayi dan memberikan nama yang baik. Setelah itu, daging aqiqah yang sudah dimasak dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan orang yang membutuhkan.

7. Apakah boleh aqiqah dengan sapi untuk anak perempuan?

Menurut jumhur ulama, hewan yang paling utama untuk aqiqah adalah kambing atau domba. Namun, beberapa ulama membolehkan penggunaan sapi atau unta untuk aqiqah, bahkan untuk tujuh anak sekaligus, baik untuk aqiqah maupun kurban. Jika menggunakan sapi, maka satu ekor sapi dapat digunakan untuk aqiqah tujuh anak, termasuk anak perempuan.